Olahraga

Fachri Husaini, Legenda Bontang di Balik Sukses Timnas U-16

person access_time 6 months ago remove_red_eyeDikunjungi 2160 Kali
Fachri Husaini, Legenda Bontang di Balik Sukses Timnas U-16

Pelatih Timnas Indonesia U-16, Fachri Husaini (ilustrasi: Danoo).

Keberhasilan tim nasional menjuarai Piala AFF U-16 tak lepas dari nama Fachri Husaini. Pelatih yang menghabiskan setengah kehidupannya di Kalimantan Timur. 

Ditulis Oleh: Fel GM
12 Agustus 2018

kaltimkece.id Stadion Utama Gelora Bung Karno makin menggelora. Tiga puluh ribu penonton berdebar-debar menyaksikan saat-saat genting laga Final Liga Indonesia edisi 1999/2000. PKT Bontang yang lebih dulu ketinggalan tiga gol dari PSM Makassar kembali bangkit dan membuka asa. 

Lima belas menit sebelum pertandingan bubar, bek PKT Bontang, Aries Budi Prasetyo, sukses mencuri gol. Lima menit kemudian, pada menit ke-80, hands ball bek PSM Makassar membuat Djadjat Sudradjat selaku pengadil pertandingan memberikan hukuman penalti. 

Semua mata tertuju ke gawang PSM ketika kapten PKT Bontang, Fachri Husaini, dengan tenang menaruh bola di titik putih. Lelaki berkepala plontos itu mundur sampai di tepi garis kotak 16 pas. Begitu peluit berbunyi, sang kapten yang saat itu berusia 35 tahun, berlari kecil menuju bola. Fachri hanya perlu tujuh langkah, sama seperti nomor punggungnya, sebagai ancang-ancang. Ketenangan tinggi ditunjukkan lelaki yang juga mengemban ban kapten tim nasional itu. Dia melesakkan bola jauh menuju pojok kiri gawang. 

Gol. Penjaga gawang PSM sebenarnya tepat menebak arah bola. Namun, tangannya sudah tak mampu menjangkau. Gol keenam Fachri musim itu membuat skor berubah menjadi 3-2. 

Masih ada 10 menit bagi PKT Bontang mencari gol penyama kedudukan. Namun, 10 menit itu seperti berjalan sangat cepat. PSM Makassar yang dimotori Aji Santoso dan Bima Sakti Tukiman, mampu mempertahankan kedudukan. PKT Bontang akhirnya kalah dalam laga pada 23 Juli 2000 tersebut (rekaman digital pertandingan final Liga Indonesia 1999/2000). 

Meskipun kalah, perjalanan PKT Bontang pada musim 1999/2000 adalah prestasi luar biasa. PKT Bontang menjadi satu-satunya klub Kalimantan yang berhasil meraih runner up liga di kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Sampai hari ini. 

Nama Fachri Husaini tersemat di balik harumnya nama Bontang pada laga final 18 tahun silam. Fachri yang sama juga menjadi sosok yang membawa sukses bagi Tim Nasional Indonesia U-16. Pada Sabtu, 11 Agustus 2018, Fachri sebagai pelatih membawa Garuda Muda meraih juara Piala AFF U-16. 

Nyawa PKT Bontang

Sebagai pemain sepakbola, Fachri adalah seorang playmaker. Dia adalah otak serangan sehingga selalu menjadi nyawa bagi tim. Kesenioran dan ketenangan Fachri pula yang membuat dia dipercaya memegang ban kapten. 

Fachri bergabung bersama PKT Bontang ketika berusia 25 tahun. Pria kelahiran 27 Juli 1965 itu sebelumnya memperkuat Petrokomia, kini Gresik United. Fachri direkrut Laskar Bukit Tursina, sebutan PKT Bontang, pada 1992. Bukan tanpa alasan, sejak 1986 atau enam musim terdahulu, Fachri adalah langganan tim nasional. 

PKT Bontang yang pada masa itu dinaungi PT Pupuk Kaltim segera memercayakan kepemimpinan tim kepadanya. Karier Fachri bersama PKT Bontang pun berkilau. Musim demi musim berakhir menggembirakan dengan peran Fachri selaku jenderal lapangan tengah. 

PKT Bontang selalu lolos dari fase wilayah meskipun tidak pernah mencapai final. Waktu itu, kompetisi Liga Indonesia masih dibagi dalam dua grup, timur dan barat. Baru pada musim kedelapannya, Fachri berhasil membawa PKT Bontang ke final. Kesuksesan itu juga yang membuat Fachri selalu dipercaya sebagai kapten tim nasional.

Bontang dan Diklat Mandau

Meskipun lahir di Aceh, Fachri tak bisa dilepaskan dari Bontang. Dia menunjukkan kesetiaan dengan sembilan musim merumput bersama PKT Bontang. Menjadi kapten selama lebih dari sewindu, Fachri turut berperan memajukan Akademi Diklat Mandau. Akademi sepak bola ini adalah bagian dari klub yang, pada masanya, disebut diklat sepak bola terbaik se-Indonesia. 

Sejumlah nama besar pesepakbola lahir dari Diklat Mandau. Dua pesepakbola yang pernah menjadi kapten tim nasional Indonesia merupakan jebolan Bontang. Mereka adalah Ponaryo Astaman dan Bima Sakti. Nama yang terakhir menjadi lawan Fachri dalam final Liga Indonesia 1999/2000, seperti diceritakan di muka tulisan. 

Jebolan Diklat Mandau yang lain adalah bek tangguh Djet Donald La’ala. Begitu pula penjaga gawang Sumardi yang tampil dengan rambut kuncirnya. Nama yang lain adalah Yudi Kuncahyo. Pada masanya, deretan nama itu adalah penggawa Tim Garuda Merah Putih. Mereka berada di bawah komando Fahcri Husaini selaku kapten tim nasional. 

Fachri Husaini memutuskan pensiun pada 2001 di usia ke-36. Dia tetap berdiam di Bumi Mulawarman. Setelah meraih sertifikat C-1 untuk pelatih, Fahcri menjadi asisten pelatih PKT Bontang. Karier kepelatihannya terus menanjak di Jakarta setelah ditunjuk menjadi asisten pelatih tim nasional U-23 pada 2004. Fachri kembali ke Kaltim pada 2008 untuk menangani tim PON Kaltim (artikel Viva, Fachri Husaini, 2018)

Di luar dunia sepak bola, Fachri adalah karyawan PT Pupuk Kaltim. Dia memiliki pengalaman pahit pada 2016. Pada saat itu, Fachri adalah kepala bagian komunikasi internal dan protokoler di perusahaan amonia terbesar di Indonesia tersebut. Dia meninggalkan posisi itu karena diminta melatih Timnas U-19. Namun, kisruh PSSI saat itu membuat semuanya berantakan. Fachri akhirnya kembali ke PT Pupuk Kaltim namun tidak lagi menduduki posisi lamanya. Fachri hanya menjadi karyawan biasa (artikel JPNN, Kisah Pahit Fachri Husaini, 2016).

Setahun kemudian, Fachri kembali membesut tim nasional usia di bawah 16 tahun. Hanya dalam setahun, dia membawa tim garuda muda menjuarai Piala AFF. Pada Sabtu malam, 11 Agustus 2018, Indonesia mengalahkan Thailand di partai final melalui drama adu penalti. Gelar juara itu merupakan yang pertama bagi Fachri sebagai pelatih kepala. Tentu saja, dia adalah Fachri yang sama, legenda PKT Bontang yang melewati 26 tahun hidupnya di Kalimantan Timur. (*)

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar