Olahraga

Juastri Siska, Atlet Termuda Bridge Kaltim, Melawan Stigma Judi dan Omongan Negatif

person access_time 1 month ago remove_red_eyeDikunjungi 682 Kali
Juastri Siska, Atlet Termuda Bridge Kaltim, Melawan Stigma Judi dan Omongan Negatif

Icha saat bertanding bridge melawan pemain yang jauh lebih dewasa. (istimewa)

Dari cabor bridge, perempuan yang masih sangat muda ini meraih prestasi. Mimpi yang lebih besar terus dikemukakannya.

Ditulis Oleh: Giarti Ibnu Lestari
26 Januari 2020

kaltimkece.id Juastri Siska masih siswa kelas III SD saat tinggal di lingkungan yang akrab dengan permainan kartu. Usianya masih sembilan tahun. Tapi sejak dini telah menyimpan bakat di permainan tersebut. Mengantarnya menjadi atlet termuda cabang olahraga bridge Kaltim saat ini.

Kebetulan, bridge juga diperkenalkan guru olahraganya di bangku SD tempatnya menuntut ilmu. Yakni di SD 024 yang saat ini bernama SD 011 di Jalan Danau Maninjau, Sungai Pinang Luar, Samarinda Kota.

Olahraga bridge atau contract bridge adalah permainan kartu yang mengandalkan kemampuan bermain maupun keuntungan. Dilakukan empat pemain yang duduk saling berhadapan dengan pasangannya di satu meja. Cabor bridge di bawah naungan Gabungan Bridge Seluruh Indonesia atau GABSI.

"Dari kelas III SD sudah kenal main bridge. Emang lingkungan main kartu. Pas ditawarin, saya tertarik dan saya langsung bilang bisa," kenang Icha, sapaan akrabnya, kepada kaltimkece.id.

Sejak diperkenalkan juga oleh guru olahraganya dulu, Icha langsung dilatih lebih fokus. Dimulai selama satu bulan. Dilatih guru bernama Arif Kurniawan yang akrab disapa Wawan.

Setelah satu bulan fokus berlatih, anak kedua dari tiga bersaudara itu langsung diajak mengikuti turnamen tingkat SD. Yakni Olimpiade Olahraga Siswa Nasional atau O2SN. Kejuaraan tingkat kecamatan di Samarinda.

Di ajang O2SN tingkat SD tersebut, Icha meraih juara. Sejak saat itu ketertarikannya bertambah. Dari hobi, kian ditekuni secara serius. Hasilnya baik. Orangtua Icha turut mendukung anaknya terjun ke olahraga bridge secara serius.

Di tingkat provinsi, Icha lolos mengikuti ajang Pekan Olahraga Provinsi atau Porprov 2018 di Sangatta, Kutai Timur. Di sana ia meraih satu medali perunggu. Kontingen Samarinda saat itu memperoleh satu medali emas, satu perak, dan satu perunggu.

Juastri Siska merupakan putri Ruslan Effendi yang bekerja sebagai buruh harian lepas. Ibunya adalah Ramlah yang kesehariannya ibu rumah tangga. Sang kakak bernama Abdul Azis sedangkan adiknya Adam Zulkarnain.

Bersama keluarga, Ini icha tinggal di Perumahan Griya Mukti Sejahtera, Jalan PM Noor, Kelurahan Gunung Lingai, Kecamatan Sungai Pinang, Samarinda.

Icha pada 12 Juni 2020 genap berusia 22 tahun. Alumni SMP 34 Samarinda dan SMK 1 Samarinda. Saat tengah menempuh pendidikan di Fakultas Ekonomi Syariah, semester lima, Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Sangatta, Kutai Timur.

Icha sangat mengidolakan atlet bridge nasional, Michael Bambang Hartono yang sudah berusia 81 tahun. Dikenal sebagai bos perusahaan raksasa, Bambang Hartono merupakan peraih medali perunggu di ajang Asian Games 2018.

Bukan tanpa rintangan, Icha yang fokus sebagai atlet bridge kerap dipandang sebelah mata. Masih ada sebagian orang memandang bridge atau dikenal dengan bermain kartu adalah judi. Terlebih ia seorang perempuan. Meski demikian, Icha tak pernah terusik dan terus menekuni.

Bridge adalah bagian penting dalam hidupnya. Meskipun urusan pendidikan tetap yang utama. Ia pun hanya berlatih pada waktu luang ketika malam. Bagi sebagian orang, ini jadi persoalan lagi. "Saya masa bodoh dengan orang-orang yang ngomong seperti itu. Dari prestasi saya bisa buktikan bahwa hasil main kartu saya bukan kaleng-kaleng," jelas Icha sembari tersenyum.

"Main kartu itu otomatis mikir. Kalo mikir dalam bridge itu ada manajemen, disiplin, waktunya harus pas. Kalau lebih akan di-cut. Disiplin waktu, pemikiran menyelesaikan sesuatu yang sudah kita mulai. Disiplin waktu. Jadi kita harus memikirkan untuk menyelesaikan sesuatu yang sudah kita mulai," urai Icha.

Perempuan berjilbab itu terus berharap olahraga bridge semakin populer. Akan semakin banyak lagi para generasi penerus. Salah satu mimpinya adalah bisa turun ke sekolah-sekolah. Membuat olahraga ini semakin diterima dan didukung. Mendorong peminatnya semakin banyak. Maka atletnya pun terus berkembang.

Meskipun cabang olahraga bridge di bawah naungan Gabsi dicoret dalam ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) XX 2020 Papua, Icha terus bersemangat dan tak patah arang. Meyakini panggung yang lebih besar, bakal dirasakan suatu saat nanti. (*)

 

Editor: Bobby Lolowang

 

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar