Olahraga

Medali Emas Iqbal, dari Kaltim untuk Indonesia

person access_time 7 months ago remove_red_eyeDikunjungi 1689 Kali
Medali Emas Iqbal, dari Kaltim untuk Indonesia

Foto: dokumen pribadi

Atlet Kaltim berhasil menyumbangkan medali emas di Asian Games. Kebanggaan luar biasa bagi negara. 

Ditulis Oleh: Sapri Maulana
28 Agustus 2018

kaltimkece.id – Mimpi besar pesilat dari Kalimantan Timur, Iqbal Chandra Pratama, 22 tahun, akhirnya terwujud. Senin sore, 27 Agustus 2018, pemuda yang tinggal di Jalan Revolusi, Karang Paci, Kecamatan Sungai Kunjang, Samarinda, itu menyuguhkan kebanggaan bagi seluruh negeri. Iqbal meraih medali emas cabang olahraga pencak silat di Asian Games 2018. Medali yang membuat Indonesia Raya berkumandang. Merah putih pun berkibar-kibar dengan perkasa di Padepokan Pencak Silat, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur. 

Dalam pantauan kaltimkece.id, langsung dari lokasi pertandingan, Iqbal berhasil mengalahkan pesilat Vietnam, Ngoc Toan Nguyen. Iqbal turun dalam pertarungan kelas D putra 60 sampai 65 kilogram. Dia unggul dramatis dengan skor 4-1. Sebelumnya, pemuda jebolan Sekolah Khusus Olahraga Internasional, SKOI Kaltim, ini, sempat tertinggal di permulaan pertandingan. 

Memasuki separuh pertandingan sampai selesai, Iqbal membalik keadaan. Poin demi poin dikumpulkan dari tiga ronde yang dilewati. Setiap ronde berdurasi satu menit dan Iqbal mengejar di ronde kedua. Ketika pertandingan berakhir, wasit yang berdiri di tengah kedua pemain bersiap-siap mengangkat tangan sang juara. Gedung pertandingan yang dipenuhi pendukung Indonesia terus bersorak. “Indonesia, Indonesia, Indonesia.”

Dari lima juri, empat menyatakan atlet Indonesia unggul. Hanya satu juri yang memberikan kemenangan kepada atlet Vietnam. Wasit pun mengangkat tangan Iqbal tinggi-tinggi. Seisi padepokan bergemuruh. Indonesia membahana dengan kerasnya. Air mata sebagian pendukung mulai menetes atas haru yang luar biasa, terutama ketika Indonesia Raya berkumandang. 

Iqbal meraih medali emas ke-18 bagi Indonesia. Sumbangsihnya membuat Indonesia kini duduk di peringkat empat total perolehan sementara medali Asian Games 2018. Pada wawancara kepada kaltimkece.id terdahulu, Iqbal mengaku bahwa dirinya sangat berharap memberikan yang terbaik bagi negara. Dia ingin silat menjadi budaya bangsa yang ditunjukkan lewat prestasi internasional. 

Kemampuan Iqbal juga tak diragukan sang pelatih, Rony. Menurutnya, Iqbal merupakan atlet yang sangat berpotensi. Hal itu terbukti. Sedari babak penyisihan, Iqbal selalu menyapu bersih poin dengan skor 5-0. Keyakinan itu tidak lepas dari kiprah Iqbal selama ini. Sedari berusia 20 tahun, Iqbal sudah berlatih di Pusat Pelatihan Nasional, Pelatnas, di Jakarta. Dia baru saja meraih medali emas dalam Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional 2015 di Nanggroe Aceh Darussalam pada saat itu. 

Setelah masuk Pelatnas, pemuda dengan potongan rambut cepak itu menorehkan sederet prestasi. Dia meraih medali emas di ASEAN University Games 2016. Pada tahun yang sama, Iqbal mendapat medali perak dalam pekan olahraga nasional di Jawa Barat. Tahun ini, dua medali emas juga diraih dalam kejuaraan kelas dunia. Medali datang dari Belgia Open 2018 dan Invitation Tournament Asian Games 2018. 

Darah silat memang mengalir dalam tubuh Iqbal. Kedua orangtuanya, Marjuki dan Mairina Nawi, adalah atlet pencak silat. Di bawah bimbingan ayah dan ibu, Iqbal mulai mengenal cabang olahraga bela diri tersebut sejak duduk di bangku kelas 4 SD. “Mungkin bakat orangtua menurun kepada saya,” tutur Iqbal kepada kaltimkece.id, sepekan sebelum dia meraih medali emas.

Baca juga:
 

Begitu dinyatakan menang, kaltimkece.id segera mendatangi kediaman Iqbal di Jalan Revolusi, Samarinda. Rumah Iqbal sedang kosong karena orangtuanya tengah di Jakarta menyaksikan pertandingan. Namun, permukiman di situ sudah ramai. Yenni Amalia, 38 tahun, adalah tetangga yang tinggal di sebelah rumah Iqbal. Dia ikut menyaksikan kemenangan Iqbal di layar kaca.

"Kami baru saja menonton pertandingannya. Kami bangga dengan Iqbal, apalagi dia masih muda,” ucap Yenni, tak bisa menyembunyikan kebanggaannya. Mengaku sering bertemu Iqbal, Yenni menjelaskan bahwa pemuda itu bertipe pendiam namun rendah hati. “Dia memang sering latihan. Kalau keluar rumah, selalu menyapa atau senyum," tutupnya. (*)

Editor: Fel GM

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar