Olahraga

Segiri Rasa Lamongan, Misi Tiga Besar Tetap Rumit

person access_time 2 months ago remove_red_eyeDikunjungi 159 Kali
Segiri Rasa Lamongan, Misi Tiga Besar Tetap Rumit

Foto: Borneo FC

Borneo FC dua langkah lagi untuk memastikan tempat ketiga di Liga 1. Tiga tim lain punya kans sama besar.

Ditulis Oleh: Bobby Lolowang
26 November 2018

kaltimkece.id Pucuk dicinta ulam tiba. Borneo FC menang, Bhayangkara FC kalah. Tempat ketiga kian dekat. Dua pertandingan lagi untuk mengklaim spot bergengsi.

Matchday 32 Liga 1 Indonesia 2018 bak mimpi indah. Tim tamu Persela Lamongan sukses dikalahkan. Stadion Segiri menjadi saksi pada Senin sore, 26 November 2018, tersebut. Tiga poin memperkecil gap dengan Persib Bandung dan Bhayangkara FC di tempat ketiga serta keempat.

Dijamu Persebaya Surabaya, Senin malam, Bhayangkara gagal merebut poin. Kekalahan 1-0 di Stadion Gelora Bung Tomo, membuat gap tim berjuluk The Guardian tersebut dengan Borneo kian tipis. Pesut Etam kini mengoleksi 48 poin, sedangkan Bhayangkara 49. Persib di tempat ketiga mengantongi 50 poin. Di sisa dua laga, Borneo hanya berjarak dua angka dari tiga besar.

Namun, kemenangan atas pasukan Aji Santoso sungguh tak didapat dengan mudah. Skor 3-2 menggambarkan ketatnya pertemuan. Tim tamu bahkan menekan sejak awal. Mulai sepuluh menit pertama, rentetan serangan sudah dilancarkan Saddil Ramdani cs. Gol pembuka pun jadi milik Persela.

Loris Arnaud mencetak gol untuk tim tamu pada menit 19'. Umpan silang Saddil sukses mengecoh para pemain belakang dan kiper Borneo, Nadeo Winata. Striker asal Prancis itupun dengan mudah menceploskan bola ke gawang tuan rumah.

Pesut Etam bereaksi cepat. Gol penyama kedudukan dilesatkan Matias Conti dua menit kemudian. Tekanan kian tereduksi setelah Titus Bonai membawa Borneo unggul 2-1. Sepakan volinya memanfaatkan tendangan pojok pada menit 63' bersarang keras di gawang Persela.

Namun, ketika tiga poin sudah di depan mata, Arif Satria mengubah tensi. Sepakan datarnya dari luar kotak penalti pada menit 88', membuat skor berubah 2-2. Laga pun tampak bakal berakhir imbang, hingga Sultan Samma dijatuhkan di kotak penalti jelang peluit akhir. Hadiah di titik putih sukses dimaksimalkan Conti. Menit 90', sepakannya mengecoh kiper Muhammad Ridwan. Kemenangan berhasil diraih tuan rumah.

Selepas laga, Aji Santoso ogah menyorot penalti yang menjadi penentu pertandingan. Wasit dinilai sudah cukup bagus. Secara permainan, laga juga berlangsung oke dan menghibur. Namun, salah satu yang begitu disayangkannya adalah kartu merah Loris.

Tensi Borneo vs Persela tergambar lewat dua kartu merah yang keluar dari kantung wasit. Gelandang tuan rumah Wahyudi Hamisi diusir pada menit 81’. Demikian juga pencetak gol Persela yang mendapat hukuman sama. Keduanya sempat terlibat adu fisik yang membuat hukuman tegas tak terhindarkan. Tapi, Aji Santoso punya pandangan lain.

“Loris sangat tidak layak mendapat kartu. Karena dia yang dipukul. Saya tak tahu cara berpikir wasit memberi kartu merah,” ungkapnya dalam konferensi pers setelah pertandingan.

“Kami berhasil menguasai pertandingan. Peluang kami lebih banyak. Taktik kami juga cukup sukses. Terbukti pada babak pertama kami punya begitu banyak peluang. Tapi dalam sepak bola, bermain bagus saja tak selalu menang,” sesalnya.

Baca juga:
 
Pelatih Borneo Dejan Antonic tak terkejut dengan penampilan Persela yang spartan. Ia sudah menduga performa tim tamu bakal impresif. Itu mengapa ia menilai laga Senin itu satu yang paling berat pada sisa musim. Segiri pun serasa pindah ke Lamongan. Apalagi suporter tamu tak sedikit mengisi tribune VIP stadion berkapasitas 18 ribu orang tersebut. “Dari formasi memang sedikit berat. Mereka bermain dengan 4-3-3 sedangkan kami 4-4-2. Akhirnya kami bikin rotasi pada babak kedua,” jelas pelatih asal Serbia tersebut. 

Situasi tim saat ini diakui tidak mudah. Berada di papan atas kompetisi, tekanan kian besar dari publik. Impian tiga besar mulai jadi beban. Tampil baik atau buruk kini nomor dua. Yang terpenting, terus menang dan mendapat posisi paling bagus. “Kita semua harus mengapresiasi para pemain yang telah bekerja keras untuk kota ini di situasi yang cukup berat,” harapnya.

Borneo menyisakan partai tandang kontra Barito Putera pada 30 November mendatang, dan laga kandang melawan PS TIRA, 9 Desember 2018. Di antara dua partai terakhir Liga 1 tersebut, ada agenda Piala Indonesia melawan Martapura FC, 3 Desember 2018.

Terlepas kans menyalip Persib dan Bhayangkara, situasi Pesut Etam masih jauh dari aman. Sedikit saja tergelincir, buaya siap menerkam. Dalam hal ini, buaya merepresentasikan Persebaya yang menempel ketat Pesut Etam. Kemenangan atas Bhayangkara membuat pasukan Djadjang Nurdjaman mengoleksi total 47 poin di posisi enam. Hanya selisih satu dari Borneo.

Praktis, Diego Michiels cs bersaing dengan tiga tim lain untuk finis ketiga. Dan Persebaya menjadi ancaman berat. Tim Bajul Ijo terproduktif di Liga 1 musim ini. Total 59 gol telah dibukukan. Striker asing mereka, David Silva, merupakan top skor sementara lewat 20 golnya.

Dua partai terakhir juara Divisi Utama musim lalu itu juga relatif mudah. Setelah menantang tim penghuni dasar klasemen, PSMS Medan, 1 Desember 2018, Persebaya menjadi tuan rumah saat menjamu PSIS Semarang, tujuh hari setelahnya.

Sejak dikalahkan Borneo 1-0 di Surabaya pada 13 Oktober 2018, Persebaya melewati pekan demi pekan dengan impresif. Dalam tujuh laga setelahnya, enam diselesaikan dengan tiga poin. Total 21 gol diciptakan pada periode tersebut, dengan hanya kebobolan enam kali.

Dejan Antonic benar bahwa Borneo dalam posisi sulit. Bahkan rumit. Sasaran sudah di depan mata. Tapi pemangsa lain bisa menjangkau dari belakang. Memangsa atau dimangsa, pesut dan buaya berebut raja air tawar. (*)

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar