Peristiwa

Ketika Banjir Terbesar Menerjang Samarinda-1: Datang Tanpa Peringatan

person access_time 10 months ago remove_red_eyeDikunjungi 9283 Kali
Ketika Banjir Terbesar Menerjang Samarinda-1: Datang Tanpa Peringatan

Banjir di sudut Samarinda pada 1998. Sumber: http://kehidupan-disamarinda.blogspot.com/2008/12/foto-foto-peristiwa-banjir-di-samarinda.html

Penutupan Juli dan pembuka Agustus 1998 adalah hari-hari paling kelam bagi Samarinda. Hari ini, tepat 20 tahun silam, banjir terbesar dalam sejarah kota menerjang ibu kota provinsi. 

Ditulis Oleh: Fachrizal Muliawan
30 Juli 2018

kaltimkece.id Langit masih setia memancarkan birunya ketika Farid Nurrahman baru saja pulang sekolah. Murid kelas dua SD Muhammadiyah I Samarinda itu buru-buru masuk rumah di Jalan Kesejahteraan, waktu itu masih di Kecamatan Samarinda Utara. Belum sempat melepas alas kaki, Farid diserang kekagetan. Air setinggi mata kaki menggenang di ruang tamu. 

Selasa pukul empat sore pada 28 Juli 1998 adalah awal keterkejutan Farid. Tidak ada hujan apalagi badai sepanjang hari itu. Namun, pelan tapi pasti, ketinggian air bertambah. Hanya dalam lima jam, ketika hari sudah malam, tinggi air mencapai perutnya atau kira-kira selutut orang dewasa. Listrik mulai padam sehingga membawa rasa seram kepada anak lelaki berusia 8 tahun itu. 

Farid terus menanti surut tetapi banjir tak juga enyah. Ketinggian air justru mencapai dada orang dewasa pada pukul dua dini hari. Farid segera dibawa keluarganya mengungsi ke atas atap. Subuh yang pekat itu, tanpa listrik apalagi sambungan telepon, dia mulai bertanya-tanya kapan air akan pergi. Farid sama sekali tidak tahu, malam gelap nan pekat itu menjadi permulaan bencana. Sepekan sejak hari itu, Samarinda direndam banjir terbesar dalam sejarah kota. 

“Dua malam kami mengungsi di atap,” tutur Farid, kini dosen Institut Teknologi Kalimantan, kepada kaltimkece.id, Jumat, 27 Juli 2018. Pada hari ketiga, air sudah menjilat-jilat atap. Farid dan keluarga mengungsi ke selatan karena bahan makanan terus menipis. Mereka menuju rumah nenek Farid di Jalan Pelita. 

Tak jauh dari sana, rumah-rumah di Jalan Lambung Mangkurat, Samarinda Ilir, mulai terendam sejak Rabu pagi, 29 Juli 1998. Keluarga besar Burhansyah, misalnya, mulai meninggalkan kediaman ketika genangan baru setinggi lutut. Mereka menerima kabar bahwa banjir besar sudah melanda utara kota. Sebagian orang sempat panik setelah mendengar berita jebolnya Waduk Benanga di Lempake dan Sungai Karang Mumus bakal meluap hebat. Burhansyah yang tinggal di Jalan Cut Meutia, sekarang Kecamatan Samarinda Kota, bahkan sampai menerima lima kepala keluarga di kediamannya. 

“Rabu malam atau hari kedua banjir, air hanya sampai Jalan Arif Rahman Hakim dan sempat surut. Masih tidak ada hujan sampai hari ketiga banjir,” tutur pensiunan pegawai swasta kelahiran 1960 tersebut. Namun, pada hari ketiga yakni Kamis pagi pukul 10, kiriman air dari utara datang tak terkira. Lantai rumah Burhansyah di Jalan Cut Meutia yang kering kerontang, tiba-tiba tergenang setinggi lutut. Kedatangan air hanya dalam 30 menit dan tanpa peringatan sedikit pun. 

Bersama kediaman Burhansyah, puluhan ribu rumah di Samarinda akhirnya benar-benar terendam pada 1 Agustus 1998. Tiga dari enam kecamatan di Kota Tepian waktu itu diterjang air yang tumpah dari Waduk Benanga. Luas genangan di Kecamatan Samarinda Utara, Ulu, dan Ilir, mencapai 36.554 hektare pada banjir yang melanda dari 28 Juli hingga 4 Agustus 1998 (Prosiding Seminar Nasional: Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Secara Terpadu, 2017).  

Empat orang dinyatakan tewas dalam peristiwa 20 tahun lampau (Kompas, Banjir Samarinda Perahu Laku Keras, 2008). Sekurang-kurangnya 105.835 jiwa dari 18.798 kepala keluarga terdampak banjir. Sebanyak 15 SMU, 12 SLTP, 36 SD, dan 10 TK harus diliburkan (Samarinda Tempo Doeloe: Sejarah Lokal 1200-1999, 2017). 

Pun mereka yang tinggal di dataran tinggi, tak lepas dari kesusahan karena banjir. Elmiansyah adalah warga Kompleks Bank Pembangunan Daerah Kaltim di Jalan Kemakmuran. Rumahnya tepat di tengah hulu dan hilir sungai, di antara utara dan selatan. Namun, kediamannya selamat dari genangan karena berdiri di atas bukit. 

“Bukan berarti tidak kesulitan, malah lebih mengerikan,” tutur pensiunan pegawai BPD Kaltimtara yang memiliki sapaan dekat Abah Oneng itu. Kepada kaltimkece.id, Abah Oneng menuturkan, dia dan keluarga tak mengungsi karena tidak kebanjiran, dan itulah celakanya. Langit yang tak mengirimkan hujan sepanjang banjir membuat dugaan banyak orang keliru. Banjir bukan segera pergi melainkan mendekam selama sepekan. Warga yang memilih bertahan atau terlambat mengungsi akhirnya terkepung banjir dan kehabisan bahan makanan. 

Kepayahan yang lain, kata Abah Oneng, dia harus bekerja karena bank tidak libur. Kantor hanya memperbolehkan karyawan datang agak siang. Saat itu, sebagian besar pegawai BPD Kaltim memang tinggal di Jalan Kemakmuran. “Kami akhirnya berjalan kaki ke kantor di Jalan Awang Long melewati banjir setinggi dada orang dewasa,” tuturnya. Sejauh empat kilometer, Abah Oneng dan kolega menjunjung pakaian kerja di atas kepala mereka. 

Abah Oneng tak akan lupa, sepanjang perjalanan ke kantor, matanya menyaksikan ribuan rumah terendam. Barang dagangan di toko-toko sepanjang Jalan Lambung Mangkurat rusak dan hanyut terbawa arus. Kendaraan roda dua dan roda empat telah berganti perahu karet dan ketinting. Pengungsi seperti tiada henti menuju hilir di selatan. 

Nyaris seluruh fasilitas publik ikut lumpuh. Bandara Temindung, RSUD AW Sjahranie, Universitas Mulawarman, kantor pemerintahan, hingga pasar tiada beroperasi. Perempatan Voorvo di muka Mal Lembuswana bahkan sudah menjadi lautan. Ketinggian air di daerah rawan banjir itu nyaris menenggelamkan lampu merah. Separuh Samarinda, pada pekan yang mencekam itu, tak ubahnya seperti kota mati. (bersambung)

Baca juga liputan tentang Banjir 1998 yang lain: 

Ketika Banjir Terbesar Menerjang Samarinda-2: Nyawa yang Melayang

Editor: Fel GM
Senarai Kepustakaan
  • Kompas, 2008. Banjir Samarinda Perahu Laku Keras, artikel online.
  • Sarip, Muhammad, 2017. Samarinda Tempo Doeloe: Sejarah Lokal 1200-1999. Samarinda: RV Pustaka Horizon.
  • Syahza Almasdi dkk, 2017. Prosiding Seminar Nasional: Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Secara Terpadu. Pekanbaru: Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Riau. 
folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar