Peristiwa

Ketika Katolik Tiba di Mahakam (2): Bencana Kelaparan dan Tiga Anak yang Memeluk Katolik

person access_time 1 year ago remove_red_eyeDikunjungi 1714 Kali
Ketika Katolik Tiba di Mahakam (2): Bencana Kelaparan dan Tiga Anak yang Memeluk Katolik

Murid sekolah Katolik di Laham pada 1911 (foto: arsip Pemerintah Kampung Laham untuk kaltimkece.id)

Penyebaran agama Katolik di hulu Sungai Mahakam tidak mudah. Lewat jembatan pendidikan, penduduk setempat akhirnya menerima.

Ditulis Oleh: Fel GM
24 Desember 2019

kaltimkece.id Balai pertemuan di sebuah kampung bernama Laham telah dipenuhi puluhan orang. Para petinggi kampung, termasuk kepala adat Laham dan Long Hubung --keduanya sekarang kecamatan di Mahakam Ulu-- turut hadir. Sebuah rapat penting segera diselenggarakan. 

Siang itu, 2 Juli 1909, para pemuka kampung mendengarkan rencana dari tiga biarawan Katolik. Setelah dua tahun berdiam di Laham, para misionaris ini resah karena belum satu pun penduduk yang memeluk Katolik. Padahal, mereka sudah akrab dengan penduduk setempat. Para penyebar agama ini juga disukai penduduk karena kepandaian mereka mengobati penyakit.

Namun menjadi tabib saja ternyata belum cukup. Para misionaris punya rencana baru. Mereka akan membangun sekolah. Menurut mereka, masyarakat perlu pemahaman untuk meninggalkan kepercayaan tradisional agar dapat menerima Katolik. Caranya, melalui lembaga pendidikan.

Maka jadilah pertemuan di balai kampung tersebut. Monsinyur Paficius Bos OFMCap yang menjabat prefek apostolik atau pemimpin persiapan gereja paroki (setingkat kecamatan) di Distrik Hulu Mahakam turut hadir.  

“Bagaimana kalau kita dirikan sekolah di sini?” Para misionaris mengunggah tawaran kepada penduduk setempat. 

“Kami setuju,” jawab para petinggi dan kepala adat setelah mendengar penjelasan tentang pentingnya sekolah. Dua hari kemudian atau pada 4 Juli 1909, pertemuan serupa diadakan di Kampung Mamahak Besar. Hasilnya seragam. Penduduk bersepakat. 

“Kami juga akan menyumbang kayu untuk bangunan sekolah,” kata petinggi dari Kampung Mamahak Besar. 

Ketiga misionaris begitu gembira dan bersemangat. Namun, setangkup bahagia dan sejumput semangat saja tidak cukup. Peralatan membangun gedung dan membuat perabotan sekolah sangat minim. Itu sebabnya, sekolah baru berdiri dua tahun kemudian yakni awal Juli 1911 atau 108 tahun silam. Sekolah Katolik pertama akhirnya berdiri di Laham. 

Sepuluh Murid 

Di atas lantai kayu yang licin dan bersih, sepuluh anak laki-laki dari suku pribumi bersila. Mereka menghadap ke depan kelas untuk mendengarkan ceramah seorang Belanda. Guru itu mengenakan jubah cokelat dan kalung bermata salib seukuran telapak tangan. Namanya Pastor Yustianus Goosens yang baru setahun menetap di Laham. Ia menggantikan Pastor Libertus Cluts (baca edisi sebelumnya, Kampung Laham, Permulaan yang Tak Direncanakan)

Selepas mengajar di sekolah, Pastor Yustianus menemui kedua rekannya, Pastor Camillus Buil dan Bruder Ivo van Schijndel. Sejurus kemudian, mereka terlibat pembicaraan serius di beranda sekolah.

“Hanya sepuluh murid. Padahal sekolah sudah selesai dibangun,” begitu kira-kira Pastor Yustianus mengeluh kepada dua rekannya. Dalam kronik Paroki Laham, Pastor Yustianus cemas setelah menakar minat penduduk lokal untuk sekolah. Padahal sebelumnya, mereka sudah begitu bangga melihat selesainya bangunan sekolah. 

Bangunan sekolah setingkat SD itu bertangkup kayu seperti sirap. Kelas-kelas dikelilingi dinding papan dan beralas lantai kayu. Lebar selasar sekolah yang sekitar 1 meter adalah penghubung lima pintu kelas. Gedung sekolah ini berkolong tetapi belum punya meja kursi. Murid-murid biasanya belajar baca tulis dan berhitung di atas lantai.

Kondisi sekolah sama persis dengan pastoran dan asrama pelajar yang dibangun beberapa bulan kemudian. Meskipun tinggal gratis dan mendapat makanan di asrama, anak-anak yang mau bersekolah tidak banyak. Ruang kelas sebagian besar kosong. Penyebabnya, orang dewasa di Laham sering meminta anak-anak bekerja di ladang ketika musim tanam atau panen. 

Ketiga misionaris yang berdiam di Laham tak mau menyerah. Sepuluh siswa memang sedikit, bahkan lebih kecil dari jumlah murid Yesus yang hanya 12 orang sebagaimana dicatat dalam Injil. Tetapi itu tak meruntuhkan semangat. Tanpa lelah, para rohaniawan berkeliling mencari murid baru kendati tak banyak yang didapat. 

Sampai pengujung Agustus 1911, sekolah baru diisi 31 murid dari ratusan anak-anak di Laham dan sekitarnya. Semuanya laki-laki dan sebagian besar berusia di atas 15 tahun. Murid-murid sekolah itu sekali waktu meninggalkan pelajaran jika ada upacara adat atau diperlukan di ladang. Sekolah, bagi penduduk lokal, belum dianggap penting.

Bencana Kelaparan 

Empat bulan sekolah berdiri, sebuah peristiwa melanda Laham dan sekitarnya. Kalender Masehi menunjukkan 20 November 1911 ketika bencana kelaparan mendera sejumlah kampung. Anak-anak dari Laham yang tinggal di asrama pulang ke rumah masing-masing. Sementara yang dari kampung di luar Laham, tetap tinggal di asrama. Di dalam asrama putra, makanan memang terjamin. Kabar ini membuat jumlah murid di Laham terus bertambah.

Menukil tulisan Mallinckrodt, penulis Belanda dalam bukunya Adatrecht van Borneo, kontrolir (pejabat Hindia Belanda setingkat bupati) Long Iram tidak memberi atensi kepada sekolah Katolik. Selain telah memiliki sekolah di Long Iram, pemerintah Hindia Belanda menilai lembaga pendidikan tidak memberi manfaat bagi penduduk pribumi. 

Di tengah ketidakacuhan pemerintah, jumlah murid dan pengajar di Laham terus bertambah. Para guru sangat berhati-hati memberikan pelajaran agar tidak tercampur dengan agama. Mereka tidak mau penduduk begitu saja memeluk Katolik selain karena panggilan jiwa. 

“Pada masa itu, para biarawan betul-betul menyadari bahwa kebebasan agama adalah hak asasi. Bukan sesuatu yang dipaksakan,” tutur Roedy Haryo Widjono AMZ, pemerhati sejarah Kalimantan yang juga penyusun buku sejarah Katolik. 

Paroki Laham mencatat, hanya dalam pelajaran agama, kitab Injil yang memuat kelahiran, kematian, dan kenaikan Isa Almasih dibicarakan. Namun begitu, belum seorang anak pun terpikat masuk gereja Katolik. 

Baptisan Pertama

Baru pada 6 Januari 1913, dua tahun setelah sekolah berdiri atau enam tahun selepas para misionaris Belanda tiba di Laham, tiga anak menyatakan bersedia memeluk Katolik. Mereka dibaptis oleh Pastor Yustianus menggunakan air jernih di sebuah wadah kecil. Sayangnya, tidak ada catatan nama dari ketiga anak yang diyakini sebagai pribumi pertama di Kaltim yang memeluk Katolik tersebut. 

Kabar pembaptisan lekas didengar oleh pemerintah kolonial yaitu kontrolir Long Iram. Penguasa setempat rupanya belum juga memberi perhatian kepada karya Katolik di Laham dan sekitarnya. Situasi yang sama berlangsung hingga lima tahun kemudian saat Kapten Landzak menjadi kontrolir pada 1918. Baru setahun kemudian, YY Kroes yang menggantikan Landzak mengambil kebijakan berbeda. 

Ketika tahun ajaran baru tiba, Kroes yang baru beberapa bulan menjadi kontrolir lekas-lekas menulis surat kepada para kepala kampung. Kroes mengimbau anak-anak di setiap kampung di sepanjang hulu Mahakam dimasukkan sekolah. Imbauan itu ditanggapi sebagai instruksi oleh para kepala kampung. Jumlah murid di sekolah Laham makin bertambah. Penduduk yang menganut Katolik pun semakin banyak.

Melihat perkembangan tersebut, pada 1920, tiga suster dari Kongregasi Fransiskanes dari Veghel, Belanda, diutus ke Laham. Mereka memulai perjalanan dari Pontianak untuk mendirikan sekolah dan asrama bagi anak-anak perempuan. Pada 1922, jumlah murid di Laham mencapai 138 orang. Sebanyak 61 orang mengisi sekolah putri. 

Pemerintah kolonial melalui Kapten van Gent selaku kontrolir yang baru lalu memberikan subsidi. Setiap anak yang bersekolah mendapatkan uang sebesar satu Gulden --mata uang Belanda. Dua ribu Gulden juga diberikan untuk perluasan dan tambahan gedung baru. Dukungan bagi pendidikan pribumi di hulu Sungai Mahakam kian besar tatkala pemerintah menanggung semua gaji guru di kedua sekolah Katolik, putra dan putri. Padahal, van Gent disebut sebagai seorang Belanda yang tidak beragama. 

Catatan Paroki Laham menyebutkan, meski tak beragama, van Gent sadar bahwa misi pendidikan Katolik memiliki nilai yang besar bagi masyarakat Dayak. “Dia sangat mengerti dengan yang kami perbuat di Laham adalah demi kemajuan orang Dayak,” tulis para biarawan seperti dikutip dari kronik paroki. (*)

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar