Humaniora

Candra Tatuk, Bintang Terang Muara Bengkal

person access_time 2 weeks ago
Candra Tatuk, Bintang Terang Muara Bengkal

Candra Tatuk saat menunjukkan kemampuan olah vokal. Menjadi bintang ternyata memerlukan kerja keras. FOTO: ISTIMEWA.

Dunia hiburan selalu diiringi jalan terjal. Anak dari Desa Benua Baru, Muara Bengkal, Kutai Timur telah membuktikannya. Bagaimana Candra Tatuk jatuh bangun membangun karier jadi penyanyi?

Ditulis Oleh: Muhibar Sobary Ardan
Senin, 13 Maret 2023

kaltimkece.id “Aku meleleh, meleleh, ya ampun suara kamu laki sekali,” ujar Maia Estianty tatkala Chandra Wahyudi menyanyikan lagu Asal Kau Bahagia. Tembang dari Armada ini membuat Maia terkesima hingga menggaruk kepala. Para juri Indonesian Idol lainnya sontak memberikan tepuk tangan dan pujian kepada Chandra.

Pada akhir 2017, Chandra sebenarnya tidak mempersiapkan lagu tersebut untuk audisi 3 Indonesian Idol 2018. Ia lebih dulu membawakan lagu The Second You Sleep. Chandra menyanyikan tembang dari Saybia ini dengan suara khasnya; serak-serak basah. Suara rock ini memikat Ari Bernardus Lasso untuk membawakan beberapa lagu lainnya.

“Ini tadi dua karakternya kuat banget,” puji Ari Lasso. “Yang pertama rock banget, yang kedua seraknya di bagian-bagian tertentu saja. Asik loh,” lanjutnya.

Pujian untuk Chandra bertebaran. Judika Nalom Abadi Sihotang mengatakan ia sangat menyukai sosok Chandra dan suaranya. Rock tapi sweet, kata Judika. Sementara Tubagus Armand Maulana kagum akan penampilan Chandra yang cuek dan menikmati ketika bernyanyi.

“Ilmu ngamennya bener-bener dikeluarin tadi di sini. Kamu kan cuek, tapi loh enjoy,” kata Armand. Vokalis band Gigi ini pun tak ingin berbasa-basi. Ia meminta para juri untuk segera menentukan voting.

“Gue pasti yes,” Judika menimpali. “Aku meleleh,” Maia melanjutkan. ”Meleleh dan merembes,” sambung Ari Lasso. Para juri sontak tertawa, kalimat Ari lasso itu diibaratkan seperti rumah yang bocor. “Alus pisan,” Armand memotong candaan sembari memberikan golden tiket untuk Chandra pada Audisi 3 Indonesian Idol 2018 itu.

Momentum Indonesian Idol 2018 sangat berkesan bagi Chandra. Pasalnya, untuk sampai ke Jakarta tidaklah mudah. Pada babak audisi pertama di Balikpapan, ia tak memiliki dana untuk transportasi dari Samarinda. Chandra pun meminjam uang kekasihnya, Amy Elisa Herley. Amy memang kerap mendukung Chandra dalam proses hidupnya. Setelah tiga tahun berpacaran, mereka menikah pada 2019.

“Yang lolos dari Kaltim waktu itu dua cewek, dan aku satu-satunya lelaki,” kata Chandra, Kamis, 23 Februari 2023, lalu.

Indonesian Idol merupakan audisi tarik suara bergengsi di Indonesia. Acara pencarian bakat ini mengadopsi Pop Idol di Inggris. Tayangan televisi dari RCTI ini bahkan sempat memenangkan Panasonic Awards untuk kategori Music and Variety Show terbaik selama dua tahun berturut-turut, 2005 dan 2006. Indonesian Idol biasanya diadakan dua tahun sekali, bertepatan dengan kompetisi olahraga Olimpiade Musim Panas, Piala Dunia FIFA hingga Olimpiade Musim Dingin.

“Waktu aku ikut itu, antusias kontestan dan masyarakat sangat tinggi, karena sempat vakum tiga tahunan sebelumnya,” terang Chandra.

Nasib bagus ternyata belum berpihak. Chandra tak menjadi juara. Ia hanya sampai Top 9 babak spektakuler. Namun, ia mengaku bersyukur. Banyak proses belajar setelah mengikuti kompetisi tersebut. Apalagi, suara khas Chandra turut memikat pengelola rumah produksi musik. Chandra pun sempat bekerja sama dengan salah satu manajemen di Jakarta.

“Itu sempat beberapa tahun. Akhirnya aku memutuskan kontrak dengan mereka 2021. Aku memilih untuk berjalan sendiri. Sampai sekarang masih merintis juga,” katanya. “Kalau sekarang bisa dibilang istri yang urus, kaya manajemennya (istri) kurang lebih,” lanjutnya.

Candra Tatuk saat menunjukkan kemampuan olah vokal. Menjadi bintang ternyata memerlukan kerja keras. FOTO: ISTIMEWA.

 

Proses Panjang

Desa Benua Baru adalah perkampungan yang sepi pada medio 1990-an. Sebagian besar masyarakat bekerja sebagai petani yang dihuni oleh masyarakat Kutai. Rumah-rumah masih terbuat dari kayu di daerah yang masuk Kecamatan Muara Bengkal, Kutai Timur itu. Desa seluas 700,66 kilometer persegi ini terletak 154 kilometer dari Samarinda, Ibu Kota Kalimantan Timur. Butuh empat jam untuk sampai di sana. Jalan pun tak semua mulus beraspal.

Dari perkampungan nun jauh itu, lahir pria yang kerap disapa Tatuk, panggilan masa kecil Chandra, pada 1993. Warga sekitar kerap memanggil Tatuk karena ketika Chandra ditanya mengenai nama, ia kerap menyebut dirinya Tatuk.

“Sampai sekarang akhirnya orang di kampung manggilnya Tatuk, bukan Chandra. Akhirnya lebih kenalnya Chandra Tatuk,” terangnya.

Tinggal di daerah yang jauh dari fasilitas modern, membuat warga tak punya banyak hiburan. Yang ada, sambung Chandra, hiburannya adalah bernyanyi. Pada medio 1990-an dulu, warga di Muara Bengkal jika ingin berkaraoke masih menggunakan pita kaset. Keluarga Chandra sempat membuka usaha sewa kaset itu.

Namun, ada satu hal yang membuat Chandra heran. Dari semua keluarganya itu bisa bernyanyi semua. Chandra yang masih kelas satu sekolah dasar itu merasa panas. Ia tak mau kalah dengan saudara lainnya. Chandra nimbrung dan ikut belajar nyanyi.

“Seiring berjalannya waktu, diberi tahu, ternyata dulu ibu saya itu adalah penyanyi,” kata anak ketiga dari empat bersaudara itu. ”Penyanyi kampung melayu gitu, kaya orkes jaman dulu itu,” lanjutnya.

Itulah momen pertama kali yang diingat Chandra kenal dengan dunia tarik suara. Bernyanyi ternyata sempat dilupakan dari aktivitasnya. Chandra justru lebih sibuk menekuni dunia olahraga voli dan tenis meja hingga sekolah menengah pertama. Bahkan, di antara kedua olahraga yang diseriusinya itu, membawanya pada kompetisi tingkat provinsi.

Saat Chandra mulai beranjak dewasa pada 2009, Ia meminta izin kepada orang tua untuk merantau ke Samarinda. Maraknya kenakalan remaja hingga narkoba membuatnya tak ingin terjerumus. Chandra pun memilih MAN 2 Samarinda, sebagai tujuannya bersekolah. Ia meminta kepada orang tuanya untuk mandiri dan tinggal sendiri di Samarinda.

“Nah di sini mulainya, awal sekolah masih olahraga, baru pertengahan kalau gak salah diajak teman ngeband,” terangnya. Chandra pun didapuk menjadi vokalis. ”Aku masih ingat, awal itu ikut festival di lapangan SMA 1 Samarinda yang masih di Jalan Bhayangkara. Gak bergerak kakiku, kaku (nervous),” sambungnya.

Semenjak inilah, Chandra langganan festival musik. Mulai dari Samarinda hingga Balikpapan. Karena sudah tinggal sendiri, Chandra pun mulai mengamen di jalanan untuk menambah uang makan. Daerah Tepian Mahakam adalah favoritnya. Itu dilakoni pada 2009-2012, ketika masih jadi pelajar menengah atas.

“Itu dulu banyak dapatnya, semalam bisa dapat satu jutaan. Awal sendiri, terus lama-lama barengan,” terangnya.

Pada 2012, Chandra masuk kuliah di salah satu kampus swasta di Samarinda. Kemampuannya bermusik ternyata makin terasah. Tidak hanya mengamen di jalanan, Chandra mulai terlibat pada kompetisi lokal yang diadakan tempat hiburan di Samarinda. Bukan dari festival ke festival, momen ini Chandra lebih sibuk bernyanyi antar kafe ke kafe. “Tapi tetap masih ngamen,” terangnya.

Chandra pun pernah mencoba peruntukan mengikuti kompetisi X Factor Indonesia pada 2015. Namun, gugur lebih cepat pada babak penyisihan di Bandung, Jawa barat. Chandra pun kembali pulang, mengamen dan mengisi beberapa acara musik di Samarinda.

Suara khas Chandra memang tak henti memikat pendengarnya. Setelah gagal pada X Factor Indonesia itu, Chandra mendapatkan tawaran untuk menjadi vokalis pada salah band di Jakarta, D’Quinto. Band ini sempat menjalankan tour di Pulau Jawa. Perjalanan bersama band tersebut bertahan sekitar dua tahun, hingga 2016.

Chandra pun kembali mencoba peruntungannya. Salah satu kompetensi bergengsi lokal yang pernah diikuti Chandra ialah STV Pop Star pada 2017. Membawakan lagu I Don’t Wanna Miss A Thing yang dipopulerkan Aerosmith, Chandra menjadi juara satu pada kompetisi tersebut.

“Baru setelah itu puncaknya Indonesian Idol 2018. Itu prosesnya panjang, mulai tahun 2017, mulai seleksi di Balikpapan sampai ke Jakarta,” pungkasnya.

Candra Tatuk saat menunjukkan kemampuan olah vokal. Menjadi bintang ternyata memerlukan kerja keras. FOTO: ISTIMEWA.

 

Rilis Single Pertama

Pandemi Covid-19 menyerang, job manggung hilang. Momen itu membuat Chandra merasa terpukul. Pendapatannya bertopang dari adanya acara nikahan dan konser. Chandra pun pusing. Ia memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya di Desa Benua Baru.

Chandra mengatakan, sempat berfikir untuk tidak melanjutkan bermusik. Ia ingin melanjutkan usahanya berdagang di kampung. Namun, pandemi Covid-19 mulai membaik. Puncaknya pada 2022. Chandra mendapatkan tawaran untuk manggung pada salah satu acara konser besar yang diadakan di daerah Lembuswana, Samarinda.

“Semenjak itu, naik lagi. Job berdatangan, bahkan akhir 2022, kemarin sempat full jadwal,” kenangnya. Chandra merasa bahagia. Pada momen konser pertama setelah Covid-19 dirasa pecah. Pengunjung banyak yang berdatangan.

Di sela-sela kembali padatnya jadwal manggung itu, Chandra bertemu kawan lamanya. Teman Chandra itu bilang, sudah lama bermusik kenapa tidak segera keluarkan karya sendiri. Padahal, suara Chandra dan pengalamannya dirasa mumpuni. Namun, Chandra masih merasa belum percaya diri.

“Akhirnya teman-teman terus mendukung dan memotivasi untuk menerbitkan karya sendiri,” terangnya. Seiring berjalannya waktu, Chandra pun akhirnya setuju. Salah seorang kawan menuliskan lagu untuk Chandra. Ia pun rekaman di salah satu studio musik lokal di Samarinda.

Semua prosesnya sedang berjalan. Ia mengatakan untuk rekaman sudah beres. Saat ini prosesnya sedang tahap membuat video klip. Proses ini diperkirakan rampung setelah Ramadhan 2023, ini. Meski bukan ia yang menuliskan liriknya, namun Chandra mengaku bahagia. Judul lagunya Kisah Rasa. Ini merupakan single pertama baginya.

“Aliranya pop sedih-sedih gitu, cuman rock karena karakter vokal,” terangnya. ”Kalau ditanya perasaan, bingung jelasinnya, sudah berapa tahun bermusik akhirnya punya karya, nanti setelah ini mulai menulis lirik sendiri,” ungkapnya.

“Insya Allah kalau gak ada halangan tahun ini rilis singlenya, harus pokoknya,” pungkasnya.(*)

shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar