Humaniora

Derita Fitri Merayakan Idulfitri, Maaf Lahir Batin di Tengah Pandemi dan Banjir Samarinda

person access_time 1 month ago remove_red_eyeDikunjungi 1331 Kali
Derita Fitri Merayakan Idulfitri, Maaf Lahir Batin di Tengah Pandemi dan Banjir  Samarinda

Kondisi di Perumahan Griya Mukti Sejahtera, Gunung Lingai, saat Idulfitri, Minggu 24 Mei 2020. (foto: istimewa)

Cobaan berat dihadapi sebagian warga Samarinda. Idulfitri tahun ini, mereka rayakan di tengah banjir dan pandemi. 

Ditulis Oleh: Giarti Ibnu Lestari
24 Mei 2020

kaltimkece.id Aliran listrik di rumah Fitriani baru saja padam. Ia melangkah pelan melihat isi dapur di antara remang-remang kegelapan. Masih ada persediaan makanan. Aneka kue Lebaran juga sudah selesai dibuat. Setidaknya, pikir perempuan berusia 28 tahun itu, makanan cukup jika banjir awet hingga beberapa hari ke depan. 

Suara takbir menggema di mana-mana pada Sabtu malam, 23 Mei 2020. Rumah Fitri di Jalan PM Noor, Perumahan Griya Mukti Sejahtera, Blok R, Kelurahan Gunung Lingai, Sungai Pinang, mulai terendam. Rumahnya itu hanya selemparan batu dari Sungai Karang Mumus. Sungai itu meluap sejak Sabtu pagi. 

“Hari ini, air sudah sampai teras rumah,” tutur Fitri kepada reporter kaltimkece.id, Ahad, 24 Mei 2020. Rumah Fitri cukup tinggi sebenarnya, sekitar 1,2 meter di atas badan jalan. Jika teras rumahnya tergenang artinya badan jalan telah berubah menjadi sungai. Fitri sekeluarga tidak bisa ke mana-mana. Air sudah mencapai paha orang dewasa dan terus merangkak tinggi di jalan perumahan. 

Fitri pun hanya bisa diam di rumah. Ia menyibukkan diri dengan beberapa stoples berisi kue kering yang disusun di atas meja ruang tamu. Hidangan buras, ayam liku, dan opor untuk Lebaran ia taruh di meja makan. Fitri juga sudah menyiapkan uang baru pecahan kecil untuk dibagikan kepada anak-anak. 

Di rumah itu, Fitri tinggal bersama suaminya, Christoper Desmawangga, dan kedua orang tua Fitriani bernama Muhammad Tang dan Siti Aisyah. Fitri tinggal di sana sejak berusia sembilan tahun. 

“Dulunya, banjir seperti ini cuma sekali setahun. Sekarang bisa tiga sampai empat kali setahun,” tutur perempuan yang bekerja sebagai staf di instansi pemerintah ini.

Apa mau dikata, banjir dan pandemi menyebabkan Lebaran kali ini berbeda. Fitri hanya pasrah jika tidak ada silaturahmi. Jamuan yang ia siapkan untuk para handai taulan dimakan sendiri. 

Suami Fitri juga tidak salat Id tahun ini karena pandemi. Sementara Fitri, tidak bisa sungkeman dengan ibunya yang sedang mengungsi di rumah kakak. Ibunya, kata Fitri, sedang sakit sehingga tidak tahan udara dingin. 

Fitri tidak sendirian. Menurut publikasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda, banjir pada Idulfitri ini melanda enam kelurahan di tiga kecamatan. Menurut data pada 24 Mei 2020, pukul 16.30 Wita, banjir melanda Kecamatan Samarinda Utara yaitu Kelurahan Sempaja Timur (19 RT) dan Sempaja Selatan (6 RT). 

Di Kecamatan Sungai Pinang, air menggenang di Kelurahan Gunung Lingai (5 RT), Temindung Permai (31 RT), Bandara (1 RT).  Adapun Kecamatan Samarinda Ulu, terdiri dari Kelurahan Sidodadi (2 RT). 

“Setidaknya, saya masih bisa sungkem dengan suami dan ayah. Kami sekeluarga juga masih diberi kesehatan pada masa pandemi ini,” ucap perempuan berkulit cerah itu. Ia sesekali melihat indikator baterai di telepon genggamnya. Sebentar lagi, teleponnya mati karena listrik tak kunjung tersambung sejak semalam. Tapi bukan itu yang Fitri khawatirkan. Ia sedih karena Lebaran ini sudah pasti tidak bisa berkumpul bersama keluarga, saudara, dan sahabat. 

Seberapa pun sukar keadaannya, selamat Idulfitri, Fitri, dan seluruh warga Samarinda yang melewati Lebaran dengan kebanjiran. Mohon maaf lahir dan batin. (*)

Editor: Fel GM

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar