Humaniora

Duduk Perkara Kisah Maya, Pasien Kekurangan Kalium yang Wafat di Sangatta setelah Dianggap Suspek Covid-19

person access_time 4 months ago remove_red_eyeDikunjungi 14905 Kali
Duduk Perkara Kisah Maya, Pasien Kekurangan Kalium yang Wafat di Sangatta setelah Dianggap Suspek Covid-19

Maya Abriana Sari yang meninggal setelah dianggap suspek Covid-19 (foto: arsip keluarga)

Perempuan yang memiliki seorang anak berusia dua tahun ini meninggal di Sangatta setelah dianggap suspek Covid-19. kaltimkece.id mewawancarai pihak keluarga untuk mengetahui duduk perkaranya.

Ditulis Oleh: Fel GM
27 Agustus 2020

kaltimkece.id “Ma, coba telepon lagi perawatnya. Napasku sepertinya tinggal satu-satu. Sudah enggak beraturan, Ma,” keluh Maya Abriana Sari, pasien perempuan berusia 26 tahun yang sebagian tubuhnya mati rasa karena kekurangan kalium.

“Sabar, Nak, sabar. Atur napasmu baik-baik, Nak,” jawab Masnawati, 46 tahun, ibunda Maya. Ia segera menghubungi nomor darurat setelah bolak-balik dari kamar isolasi nomor 12 di sebuah rumah sakit di Sangatta, Kutai Timur, untuk mencari perawat. Panggilan itu tersambung. Di sela-sela memohon bantuan, ibunda Maya mendengar suara perawat yang lain di ujung sambungan telepon.

“Aku baru lepas APD (alat pelindung diri). Aku juga capek, perlu istirahat.”

Masnawati kembali ke sisi pembaringan. Ia berusaha menenangkan anaknya yang nampak kesakitan. “Sabar dulu, ya, Nak. Masih istirahat perawatnya. Nanti kalau (perawat) sudah selesai istirahat, ke sini lagi.”

Belum lagi kalimat itu tuntas, napas Maya menghilang. Jumat, 21 Agustus 2020, pukul dua siang, Maya menghadap ke haribaan-Nya. Ia meninggalkan suami dan seorang anak perempuan berusia dua tahun. Masnawati yang panik segera berkeliling ruang isolasi untuk mencari perawat atau dokter. Setengah jam ia mondar-mandir tapi tak satu pun yang ditemui kecuali seorang pria yang mengaku positif Covid-19. Pria itu memintanya menjauh.

Masnawati tersadar dan bergegas kembali ke kamar isolasi untuk menjaga jenazah anaknya karena khawatir dibawa mengikuti prosedur pemulasaran Covid-19. Sementara di luar kamar, lelaki yang menyergahnya tadi berteriak diiringi suara seperti menggebrak pintu. Ia berteriak kepada para petugas medis.

“Itu manusia yang minta tolong, bukan binatang!”

***

Kisah memilukan ini bermula pada Sabtu, 1 Agustus 2020, ketika Maya datang ke sebuah rumah sakit swasta di Sangatta. Sudah lima tahun ini, ibu rumah tangga itu menderita hipokalemia atau kondisi tubuh yang kekurangan kalium. Maya juga didiagnosis mengidap tuberkulosis dalam pemeriksaan berbeda, 23 Juli 2020.

Setelah mendaftar, Maya ditangani dokter spesialis penyakit dalam. Kadar kalium di tubuhnya kembali normal setelah dirawat namun ia masih mengeluhkan batuk-batuk. Maya menjalani pemeriksaan lagi oleh dokter spesialis paru.

“Dari hasil rontgen, ditemukan cairan di paru-paru,” terang Sandrawani, 38 tahun, tante (adik dari ayah) Maya, kepada kaltimkece.id, Kamis, 27 Agustus 2020. Sandrawani adalah orang yang belakangan ini merawat Maya di rumahnya di Jalan Bumi Ayu, Sangatta Utara. Ia pula yang memilihkan rumah sakit untuk perawatan. Sandrawani menjelaskan seluruh kronologi dengan detail kepada kaltimkece.id.

Maya akhirnya dirawat inap untuk menyedot cairan dari paru-paru. Nasib kurang baik dimulai pada 5 Agustus 2020 sehabis azan zuhur. Kamar Maya diisi seorang pasien perempuan paruh baya dengan keluhan sesak napas. Selepas isya, pasien itu dibawa ke rumah sakit rujukan Covid-19 di Kutai Timur. Perempuan itu wafat keesokan paginya.

Menurut penuturan Sandrawani, keluarga baru mengetahui bahwa Maya sekamar dengan pasien Covid-19 justru ketika sudah di rumah pada 6 Agustus 2020. Keluarga Maya memprotes informasi yang datang terlambat itu. Rumah sakit kemudian memberikan dua pilihan yaitu karantina mandiri atau dirawat di fasilitas karantina. Keluarga memutuskan isolasi di rumah sakit tersebut. Setelah 14 hari dengan dua kali rapid test nonreaktif, Maya, ibunya, dan suaminya, pulang pada Rabu, 19 Agustus 2020. Sampai di sini, keluarga menganggap masalah telah selesai.

Maya baru saja keluar dari karantina rumah sakit ketika kadar kalium di tubuhnya jeblok lagi pada Kamis, 20 Agustus 2020. Keluarga segera membawanya ke rumah sakit swasta yang lain yang lebih dekat dengan rumah. Rumah sakit ini juga pernah merawat Maya untuk keluhan kadar kalium. Keadaan mulai kacau ketika mereka masuk instalasi gawat darurat (IGD). Dokter yang bertugas di IGD menelepon dokter spesialis paru di rumah sakit terdahulu mengingat Maya didiagnosis TB. Dari percakapan tersebut, Maya dianggap sebagai suspek Covid-19. Perempuan itu lalu dibawa ke sebuah ruangan yang tidak ada pasien yang lain. Dari ruangan itu, Maya sempat menelepon keluarganya sembari menangis. 

“Tolong, kaliumku dulu diatasi. Paru-paruku nanti saja, enggak apa-apa. Kalium saja dulu,” tutur Maya seperti ditirukan adik perempuannya, Ramayanti. Akhir hidup Maya ini disiarkan Ramayanti dalam Instagram Story pada Rabu, 26 Agustus 2020, dan segera viral ke sepenjuru Tanah Air.

Menurut Ramayanti, kakaknya sedang tersiksa ketika diminta dibawa ke rumah sakit rujukan untuk uji usap Covid-19. Suami Maya, Renaldi, sempat marah walaupun keluarga akhirnya setuju untuk dirujuk. Maya dibawa dengan ambulans ke rumah sakit rujukan pada Kamis pukul setengah delapan malam.

Wafat di Ruang Isolasi

Maya dimasukkan ke ruang perawatan karantina rumah sakit dengan kamar nomor 12. Semalaman itu, menurut Sandrawani, Maya muntah-muntah. Tubuhnya lemas. Ibunya, Masnawati, dan suaminya, Renaldi, bergantian jaga di ruang isolasi. Keadaan Maya semakin memburuk keesokan hari. Bukan hanya kaki, mati rasa karena kekurangan kalium disebut menyebar hingga ke tubuh bagian atas. Masnawati dua kali ke ruang perawat untuk meminta bantuan namun ia tidak bertemu siapa-siapa.

Di dinding dekat tempat tidur pasien, terpampang nomor telepon darurat. Ibunda Maya kesulitan menghubungi nomor telepon tersebut. Sandrawani yang menerima kabar itu berinisiatif menelepon nomor darurat dari rumah. Setelah empat sampai enam kali menelepon, sambungan diangkat seorang laki-laki.

“Suara perawatnya seperti orang yang baru bangun tidur. Saya sampaikan ada yang meminta bantuan di kamar nomor 12 karena pasien sudah susah bernapas dan kaku. Dia menjawab, kami ada jam besuk. Di sini bukan cuma ada satu pasien dan kami tidak mesti 24 jam jaga pasien,” cerita Sandrawani. Ia membalas bahwa tidak meminta 24 jam untuk dijaga namun kondisinya darurat sehingga harus menghubungi nomor darurat tersebut. Perawat akhirnya datang meskipun agak lama dengan membawa alat bantu pernapasan.

Pada pukul 10.00 Wita, Maya dites swab. Dokter dan perawat juga mengecek kondisinya. Maya sempat mengeluhkan kondisinya kepada dokter. Menjelang siang, Maya berkata bahwa tubuhnya hampir lumpuh total. Ia hanya bisa mengadu kepada ibunya yang setia di samping pembaringan.

“Biasanya, terasa ngilu setelah dua botol (infus mengandung kalium). Badan juga bisa bergerak. Tapi yang ini tidak, Ma,” ucap Maya yang mulai kesulitan berbicara.

“Mungkin, setiap rumah sakit beda-beda (efeknya),” jawab Masnawati.

Maya semakin lemas. Dia sempat diberikan oksigen. Pada pukul 14.00 Wita, Maya benar-benar meminta ibunya menelepon perawat. Tak lama setelah Masnawati menelepon, Maya wafat. Hasil tes usapnya keluar beberapa jam kemudian. Maya negatif Covid-19.

Suaminya, Renaldi, hanya bisa melihat Maya untuk terakhir kalinya dari jendela. Renaldi baru kembali dari membeli buah-buahan pesanan istrinya. Ia tidak bisa masuk ruang isolasi karena hanya satu orang yang dibolehkan menjaga pasien. Di tengah kesedihan itu, ia teringat perkataan terakhir istrinya melalui panggilan telepon. Sebuah pertanyaan dari seorang istri yang segera Renaldi iyakan.

“Kamu sayang aku, kah?”

Langkah Keluarga dan Upaya Konfirmasi

Keluarga telah berupaya menemui seluruh rumah sakit yang merawat Maya. Namun demikian, menurut Sandrawani, jawaban rumah sakit tidak memadai dan saling lempar. Ia juga bertemu dengan beberapa orang yang mengerti hukum sebagai pertimbangan mengambil langkah selanjutnya. Sandrawani mengatakan, jika dibawa ke jalur hukum, jenazah Maya harus diautopsi untuk memperkuat bukti.

“Keluarga memutuskan menolak jika harus diautopsi sehingga kami tidak membawa ke jalur hukum,” terangnya.

Sandrawani hanya berharap, publik mengetahui kejadian ini agar tidak ada “Maya-Maya” lain yang mengalami hal serupa. Keputusan mengunggah kisah ini melalui Instagram Story, sambung Sandrawani, disebabkan keluarga yang sudah putus asa dengan jawaban rumah sakit.

“Yang jelas, kami sudah ikhlas dengan kepergian Maya,” sambungnya.

Dikonfirmasi mengenai pernyataan keluarga Maya, direktur rumah sakit rujukan Covid-19 di Sangatta belum memenuhi permintaan wawancara kaltimkece.id. Pada Kamis, 27 Agustus 2020, pesan yang dikirim melalui aplikasi WhatsApp hanya dibaca tanpa dibalas. Dua kali upaya panggilan telepon juga tidak dijawab hingga berita ini ditayangkan. Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kutim, dr Bahrani Hasanal, dari Satgas Covid-19 Kutim, menyatakan bahwa pihak rumah sakit yang lebih tepat memberikan penjelasan mengingat tes swab Maya negatif. (*)

Ikuti berita-berita berkualitas dari kaltimkece.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar