Humaniora

Mengikuti Festival Hudoq Terbesar di Dunia, Menari setelah Menanam Padi

person access_time 1 week ago remove_red_eyeDikunjungi 124 Kali
Mengikuti Festival Hudoq Terbesar di Dunia, Menari setelah Menanam Padi

Foto: Bagian Humas dan Protokol, Sekretariat Kabupaten Mahakam Ulu.

Kabupaten Mahakam Ulu baru saja mencatat rekor nasional yakni festival hudoq dengan penari terbanyak. Bukan hanya rekor, makna luar biasa tersirat di balik tarian khas Suku Dayak Bahau dan Kenyah itu. 

Ditulis Oleh: Fachrizal Muliawan
07 November 2018

kaltimkece.id Suara tuvung, alat musik pukul Suku Dayak Bahau, sahut-menyahut dari tujuh kapal kayu bermotor yang mengarungi Sungai Mahakam. Bunyinya makin pasti ditangkap telinga tatkala kapal-kapal itu mendekati dermaga utama Kampung Ujoh Bilang, ibu kota Kabupaten Mahakam Ulu di Kecamatan Long Bagun. Pekik ratusan penumpang kapal sesekali mengudara pada Kamis yang cerah, 25 Oktober 2018 silam. 

Kecuali nakhoda dan penabuh tuvung, seluruh penumpang kapal mengenakan busana hudoq yang didominasi warna hijau. Sorak-sorai warga kampung menyambut mereka yang baru saja menginjak daratan. Manakala para penari melintas, semerbak aroma rumput yang baru dipotong terurai di udara. Bau khas itu berasal dari pakaian hudoq yang para penari kenakan. Busana penari memang terbuat dari daun pisang atau daun aren. 

Seratusan penari hudoq dengan topeng masing-masing itu berasal dari lima kecamatan di Mahakam Ulu. Mereka menuju tanah lapang tak jauh dari dermaga dan bergabung bersama ribuan penari yang telah siap mengikuti Festival Hudoq “Cross Border”. Festival tahunan di kabupaten paling jauh di Sungai Mahakam ini selalu membawa ribuan pengunjung. 

Setelah semua berkumpul, para penari membentuk barisan yang rapi. Mereka memulai ngaraang aruuq atau menari bersama. Masyarakat setempat pun ikut dalam tarian massal ini. Museum Rekor-Dunia Indonesia, MURI, menghitung 2.230 penari turut serta. Angka itu menjadikan Hudoq “Cross  Border” masuk catatan rekor sebagai tarian hudoq dengan peserta terbanyak yang pernah ada. 

Tentang Hudoq

Tarian hudoq bagi masyarakat Dayak Bahau adalah tanda syukur kepada Tuhan. Syukur dipanjatkan karena manusia telah diberi penghidupan sumber makanan berupa padi yang ditanak menjadi nasi. Tarian ini juga memohon berkat agar tanaman padi subur dan hasil melimpah. Sekaligus ucapan terima kasih kepada leluhur yang telah mewariskan padi. 

Menurut jurnal berjudul Culture of Hudoq Dance in Community of Dayak Bahau Tribe (2016), tari hudoq merupakan ritual setelah menyelesaikan manugal atau menanam padi. Maka ritual ini selalu berlangsung setiap bulan September hingga November. Dalam kepercayaan Dayak Bahau pula, Hudoq diadakan untuk menghormati nenek moyang mereka di nirwana. Mereka percaya bahwa selama musim tanam, roh leluhur tiba dan berada di sekitar mereka untuk membimbing dan mengawasi cucu-cucu mereka.

Ada pula hal menarik dari hudoq seperti di Kampung Telivaq. Pemegang adat tertinggi hudoq disebut seorang perempuan. Terjadi demikian karena yang pertama kali menemukan adat hudoq dan menjadi raja hudoq adalah perempuan. Sampai kini, pemimpin ritual hudoq di desa tersebut tetap perempuan. “Ini sekaligus cermin dari prinsip dualisme yang memisahkan laki-laki dengan perempuan pada orang Dayak Bahau,” demikian tertulis dalam jurnal berjudul Tarian dan Topeng Hudoq Kalimantan Timur: Suatu Kajian Filsafat Seni (2013). 

Manakala ribuan orang menari hudoq, gerakan mereka sekilas seperti tak beraturan. Sebenarnya, hanya ada beberapa gerakan dalam tari hudoq yang kesemuanya membawa makna. 

Simon Devung adalah dosen antropologi dari Universitas Mulawarman yang menjelaskan makna gerakan tari hudoq. Mengibas-ngibas tangan adalah perlambang sayap burung. Gerakan itu diikuti mengentakkan kaki yang selalu didahului kaki kanan yang bermakna mengusir hama agar tak menyerang tanaman padi. Ada pula gerakan memutar badan ke kanan yang didahului kaki kanan. Maknanya untuk meraih kebaikan. 

“Terakhir, gerakan memutar ke kiri untuk membuang sial,” terang Simon. 

Di lapangan Ujoh Bilang pada penutup Oktober yang sekaligus penutup masa tanam padi, ngaraang aruuq atau menari bersama seperti tiada henti. Ribuan penari terus bergerak sedari siang hingga dini hari tiba. Simon menjelaskan bahwa selain pada masa tanam, kesenian khas Suku Dayak Bahau dan Kenyah itu kadang-kadang diadakan pada masa panen.

Saat ritual, tubuh para penari hudoq ditutupi pakaian yang terbuat dari dedaunan yang melambangkan kesejahteraan dan kesejukan. Para penari juga mengenakan topeng. Berat seluruh kostum itu sekitar 10 kilogram. Topeng hudoq terdiri dari beberapa jenis yakni topeng manusia, naga, burung, dan babi.

Devung menjelaskan bahwa topeng manusia menggambarkan utusan para leluhur yang mewariskan tanaman padi ladang. Mereka diutus para dewa kembali ke bumi. Dalam mitologi Dayak Bahau, tanaman padi merupakan hasil pengorbanan Dewi Hunai. Hal ini mirip sebagaimana kisah Dewi Sri yang berkembang di masyarakat Pulau Jawa. 

Adapun topeng naga, dipakai untuk melambangkan roh yang bisa membantu mendatangkan hujan. Sementara topeng burung dan babi merupakan lambang roh yang mengendalikan hama babi dan burung. 

Selain hudoq utama, ada tarian hudoq jaak atau hudoq jenaka. Devung menjelaskan bahwa hudoq jaak tidak lepas dari kepercayaan bahwa tanaman padi adalah jelmaan seorang dewi. Hudoq jaak bertugas menghibur sang dewi agar panen padi melimpah. 

Dalam ritual hudoq, terdapat prosesi memberi makan hudoq, dalam bahasa Dayak Bahau disebut atau tengaran hudoq. Para hudoq akan dijamu oleh tetua adat yang dipilih. Para penari yang dipercaya telah dirasuki roh leluhur akan disuapi. Selanjutnya, terjadi dialog antara manusia dan roh leluhur. Manusia memohon kepada roh agar ladang padi mereka diberikan kesuburan. Dijauhkan dari hama sehingga panen berlimpah. Semua diungkapkan dalam Bahasa Dayak Bahau. 

Rekor MURI

Festival Hudoq “Cross Border” dipastikan tercatat dalam rekor. Andre Purwandono selaku manajer MURI berharap, tarian hudoq bisa mempersatukan bangsa. Menurutnya, kegiatan ini harus dijaga bersama-sama agar budaya asli Kalimantan tetap terjaga dan terus dilestarikan.

Kepada kaltimkece.id, Bupati Mahakam Ulu Bonifasius Belawan Geh mengungkapkan kebanggaannya atas pencapaian tersebut. Menurutnya, tari hudoq harus dilestarikan. Bupati berharap masyarakat Kabupaten Mahulu lebih sadar wisata dan sadar budaya. Warga setempatlah, pesan Bupati, yang menjaga budaya tetap lestari sehingga meningkatkan sektor pariwisata. Selanjutnya, Bupati menargetkan agar Festival Hudoq masuk agenda nasional. 

“Ini adalah budaya turun-temurun yang harus dijaga,” pesan Bupati Bonifasius seraya mengenakan kembali pakaian dan topeng hudoq. Orang nomor satu di Kabupaten Mahulu itu kembali melanjutkan ngaraang aruuq, menari bersama hingga pagi menjelang. (*)

Editor: Fel GM

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar