Wawancara

”Seratus Ribu Warga Kaltim Bisa Jadi Tenaga Kerja di Pembangunan IKN jika Kita Bergerak Duluan”

person access_time 1 week ago remove_red_eyeDikunjungi 509 Kali
”Seratus Ribu Warga Kaltim Bisa Jadi Tenaga Kerja di Pembangunan IKN jika Kita Bergerak Duluan”

Rektor Universitas Mulawarman, Prof Masjaya (foto: samuel gading/kaltimkece.id)

Anggota Tim Transisi IKN, Prof Masjaya, bersikeras agar IKN harus bermanfaat bagi daerah. Berikut wawancara khususnya. 

Ditulis Oleh: Samuel Gading
12 Mei 2022

kaltimkece.id Pemerintah telah membentuk Tim Transisi Pendukung Persiapan, Pembangunan, dan Pemindahan Ibu Kota Negara (IKN). Tim tersebut terdiri dari 37 personel. Tiga orang di antaranya pejabat, birokrat, dan akademikus dari Kaltim. Mereka adalah Gubernur Kaltim, Isran Noor; Rektor Universitas Mulawarman, Prof Masjaya; dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kaltim, Rafiddin Rizal. 

Gubernur Isran ditunjuk sebagai anggota dewan penasihat tim. Rafiddin Rizal menjadi wakil ketua Bidang Koordinasi Lingkungan Hidup, Kehutanan, dan Perubahan Iklim. Adapun Prof Masjaya, dipercaya sebagai anggota tim ahli dari tim transisi IKN. Menteri Sekretaris Negara mengumumkan pembentukan tim transisi itu pada 28 April 2022. 

Tugas utama tim transisi adalah menyukseskan pembangunan ibu kota baru. Tim akan mengonsolidasikan pembangunan dan pemindahan di tingkat kementerian dan badan otorita. Tim transisi juga memfasilitasi tindak lanjut kebijakan presiden untuk memperlancar dan mempercepat pemindahan ibu kota. Termasuk pula, memberi masukan mengenai langkah-langkah penyelesaian permasalahan dan hambatan dalam pemindahan IKN. 

_____________________________________________________PARIWARA

kaltimkece.id berkesempatan mewawancarai anggota tim ahli transisi IKN, Prof Masjaya. Di dalam tim ahli tersebut, Prof Masjaya ditunjuk berdasarkan latar belakangnya sebagai guru besar ilmu sosial. Rektor Unmul itu menyampaikan beberapa masukan mengenai pembangunan IKN. Poin terpentingnya adalah keterlibatan masyarakat lokal yang berkompetensi sehingga tidak menjadi penonton belaka. Berikut kutipan wawancara pada Rabu, 11 Mei 2022 di ruang kerja rektor.

Bagaimana mulanya Anda bisa masuk tim transisi IKN?

Sebenarnya ini dimulai ketika kepala Badan Otorita IKN (Bambang Susantono) dan jajaran berkunjung ke Universitas Mulawarman pada 15 April 2022. Kami bertemu di Unmul Hub. Selama satu jam, banyak hal yang kami bicarakan. Contohnya, pengembangan perguruan tinggi negeri dan swasta yang sudah eksis di sekitar IKN. Perguruan tinggi lokal memang diharapkan mendapat kepercayaan dan dilibatkan dalam pembangunan ibu kota baru. 

Dalam pertemuan tersebut, kami menyampaikan bahwa Unmul adalah satu dari 24 kampus se-Kalimantan yang tergabung di Kalimantan Universities Consortium. Kami komit menyambut IKN. 

Ketika hendak pulang, beliau (kepala Badan Otorita IKN) secara pribadi berbisik ke saya. Katanya, “Bapak rektor, tolong dibantu nanti.” Saya tidak terpikir apa-apa, cuma tersenyum. Saya jawab, “Siap, Pak. Pasti saya bantu.”

Bagaimana Anda diberitahu masuk ke tim tersebut? 

Sepekan setelah pertemuan tersebut, seorang kawan yang bekerja sebagai deputi di Direktorat Jenderal Kementerian Keuangan memberi kabar. Malam-malam, dia WhatsApp saya dan mengirimkan hasil rapat setneg. Di situ ada daftar calon nama tim ahli IKN. Ternyata, ada nama saya. Kata dia, “Ini benar nama Bapak, ‘kan?” Pikiran saya langsung kembali kepada ucapan kepala Badan Otorita IKN kemarin yang meminta bantuan saya. Ternyata, itu maksudnya. 

Setelah itu?

Jumat, 6 Mei 2022, saya baca sebuah berita di media nasional. Di situlah saya tahu bahwa nama saya masuk tim ahli IKN. Dua hari kemudian, saya dihubungi Sekretariat Negara. Saya diminta hadir dalam pertemuan perdana seluruh tim transisi di kantor Setneg di Jakarta pada Selasa, 9 Mei 2022. Saya cari pesawat tercepat dan berangkat selepas acara halalbihalal Unmul. 

Apa saja yang disampaikan dalam pertemuan itu?

Ada dua orang yang datang dari Kaltim. Saya dan kepala Dinas Lingkungan Hidup Kaltim. Saya masuk ke ruang rapat bareng Pak Wakil Menteri LHK (Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Alue Dohong). Dia orang Kalimantan juga. Kata dia kepada saya, “Kita harus kawal ini.” Pak Wamen bilang begitu sambil menepuk punggung saya. 

Pertemuan di Sekretariat Negara itu berlangsung dua jam, mulai pukul 13.00 WIB sampai 15.00 WIB. Semua lembaga dan kementerian terkait datang. Ada satu hal yang ditekankan. Pembangunan IKN tidak boleh gagal. Sisanya, pengarahan dan sambutan umum. Setelah itu, dilanjutkan pertemuan kedua keesokan harinya. 

Hal spesifik apa saja yang diuraikan dalam pertemuan kedua?

Pada awalnya, kepala Badan Otorita menjelaskan bahwa sisa waktu pembangunan segmen awal IKN relatif tidak sampai dua tahun. Sekitar 19 bulan saja sampai Agustus 2024. Bersama empat anggota tim ahli yang lain, saya diminta membicarakan mengenai langkah penyelesaian, permasalahan, dan hambatan dalam persiapan, pembangunan, dan pemindahan IKN. 

Di dalam tim ahli untuk transisi IKN itu, ada banyak ahli seperti di bidang pembangunan maupun rencana tata kota. Bapak Yose Rizal (juga anggota tim ahli), contohnya, komisaris Telkom sekaligus ahli telekomunikasi. Saya saja yang anak (ilmu) sosial di tim tersebut. Saya diberi mandat untuk mencoba membangun dialog dengan kelompok-kelompok masyarakat mengenai pembangunan IKN dan menyiapkan laporan bulanan. Saya tentu tidak bekerja sendiri. Saya akan melibatkan akademikus-akademikus Unmul. 

Apa masukan yang Anda sampaikan mengenai masyarakat lokal dalam hubungannya dengan pembangunan IKN? 

Dalam pertemuan itu, topik yang saya angkat mengenai ketenagakerjaan. Saya menyampaikan, sebaiknya 70 persen atau minimal 60 persen tenaga kerja di IKN adalah sumber daya manusia lokal Kaltim. Penekanannya adalah masyarakat Kaltim harus dilibatkan dalam pembangunan IKN. Kalau perlu, kita harus menjadi pemain utama agar manfaat kehadiran ibu kota negara ini terasa. Bayangkan, misalnya ada 100 ribu pekerja pembangunan IKN dari Kaltim saja, itu luar biasa. 

Masyarakat Kaltim tidak boleh menjadi penonton. Memang, menjadi penonton itu pilihan. Walaupun begitu, menurut saya, kita harus sadar dan bergerak duluan. Kita gunakan jalur afirmasi seperti putra daerah untuk mendapat pekerjaan. Di sinilah pentingnya kompetensi individu diutamakan.

_____________________________________________________INFOGRAFIK

Bagaimana cara meningkatkan kompetensi masyarakat lokal tersebut supaya bisa bersaing? 

Sebagai seorang rektor, saya selalu menyampaikan bahwa Unmul bisa menjadi pendamping (pemindahan IKN). Unmul bisa mendampingi upaya peningkatan skill dan kompetensi masyarakat lokal. Kita bisa merumuskan berbagai kerja sama pendidikan. Pemerintah provinsi ikut terlibat begitu juga berbagai kelompok masyarakat. 

Jadi, ayo, yang mau kita lakukan segera kita kerjakan. Unmul akan menyiapkan kurikulum, memberi pengetahuan, dan mencetak sertifikatnya. Dengan demikian, ketika IKN datang, kita sudah siap terlibat. Saya berharap bisa bertemu Gubernur untuk membicarakan hal ini dalam waktu dekat. (*)

Editor: Fel GM

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar