Wawancara

Siapa Dr Novita Ikasari yang Sebut Rp 100 M untuk Pilkada (Bagian-1)? Pengusaha Walet Beromzet Rp 400 M

person access_time 1 week ago remove_red_eyeDikunjungi 3491 Kali
Siapa Dr Novita Ikasari yang Sebut Rp 100 M untuk Pilkada (Bagian-1)? Pengusaha Walet Beromzet Rp 400 M

Dr Novita Ikasari (foto: kaltimkece.id)

Dari pengusaha sarang burung menuju industri perikanan. Punya tiga ribu karyawan.

Ditulis Oleh: Fel GM
08 November 2019

kaltimkece.id Siraman air wudu cukup menyegarkan wajah Dr Novita Ikasari. Ia baru saja menunaikan salat isya di kantornya, Jalan Serindit I, Samarinda. Mengenakan kerudung biru gelap yang serasi berpadu dengan blazer dongker, Novita memang baru tiba di Samarinda. Seharian itu, akhir Oktober 2019, ia bertemu masyarakat di Kecamatan Anggana, Kutai Kartanegara.

Bunda Vita, panggilan pendeknya, menerima kaltimkece.id di ruang tamu kantor. Suaminya, Habib Umar Al Jufri, turut mendampingi. kaltimkece.id sudah mengatur janji temu dengan perempuan yang hendak maju di Pemilihan Bupati Kukar tersebut. Kami ingin memperjelas pernyataan Novita yang menjadi buah bibir di kalangan elite Kukar. Sebelumnya, ia sempat membuat “gaduh” ketika sejumlah media menulis pernyataannya, “Untuk biaya pilkada di Kukar perlu sekitar Rp 100 miliar.”

Sebelum meminta ia menjelaskan kalimat itu, kami menggali latar belakangnya. Bunda Vita adalah seorang perempuan terdidik. Ia menyandang gelar doktor dari Program Doktoral (S-3) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) di Universitas Indonesia. Gelar magister atau S-2 juga diraih dari fakultas dan universitas yang sama. Untuk kesarjanaan, Novita memiliki dua gelar S-1 dari fakultas sastra dan fakultas ekonomi. Kedua-duanya juga di UI.

Dengan jenjang pendidikan tinggi tersebut, Bunda Vita tercatat sebagai akademikus. Ia mengajar di sejumlah perguruan tinggi di Jakarta dan Kaltim. Perempuan berusia 48 tahun ini aktif menulis jurnal internasional. Tulisan-tulisannya di bidang bisnis dan manajemen kerap dijadikan referensi akademik.

“Saya gemar sekali belajar. Alhamdulillah, ada kemampuan (biaya),” tutur Bunda Vita. “Bagi saya, belajar tidak hanya di kampus, di mana pun dan kapan pun, saya terus belajar,” sambungnya.

Di samping akademikus, Bunda Vita adalah usahawati terpandang. Sebermula dari pernikahannya dengan Habib Umar Al Jufri, 28 tahun silam. Umar Al Jufri tidak lain seorang pemuda dari keluarga besar yang dihormati di Berau dan Kukar.

Bersama sang suami, pada 1991, Bunda Vita mulai membangun usaha sarang burung walet di Berau. Di bawah payung PT Walet Lindung Lestari (Walesta), keduanya menerima konsesi pengelolaan goa dari Departemen Kehutanan. Kelak, PT Walesta menjadi salah satu perusahaan ternama di Kaltim.

Upaya mengelola goa-goa walet di Berau membawa hasil menggembirakan. PT Walesta lantas melebarkan sayap bisnis ke budi daya sarang walet. Perusahaan mendorong dan membiayai para karyawan membangun rumah walet. Pada 2000-an, perusahaan ini telah mengekspor berton-ton sarang burung walet berkualitas tinggi.

Sepanjang menggeluti sarang burung walet, Bunda Vita mempelajari karakteristik bisnis tersebut. Yang pertama, ia menemukan bahwa hukum “pembeli adalah raja” tidak berlaku. Di industri ini, penjual-lah rajanya. Suplai sarang burung yang masih jauh di bawah permintaan menjadi penyebabnya. Pembeli sarang burung yang harus mencari penjual.

Karakteristik kedua, pengusaha sarang burung walet mesti memahami kebiasaan burung tersebut. Sebagai contoh ketika membangun rumah burung walet. Pemilik harus mengetahui masa penjawar atau saat bertelur, biasanya antara September hingga Januari. Kebanyakan pengusaha pemula tidak mengetahui hal ini. Ketika walet sedang bertelur di dalam sarang, tidak boleh sarang itu dipanen. Walet adalah makhluk yang sensitif. Ia merasa terancam jika sarangnya diambil ketika masa bertelur. Walet tak akan kembali ke rumah itu untuk membuat sarang lagi. Bukan hanya satu ekor, melainkan seluruh komunitas walet di sekitarnya.

“PT Walesta memiliki konsultan-konsultan berpengalaman dalam mengembangkan rumah burung walet. Sudah terbukti di Berau,” jelas Bunda Vita. Ibu tiga anak ini menambahkan, ada detail-detail yang perlu diperhatikan dalam membangun rumah walet. Mulai interior rumah, kadar cahaya, hingga yang lainnya.

“Ketika mengelilingi Kukar, saya menemukan banyak rumah walet yang tidak produktif. Saya banyak menyosialisasikan cara merawat rumah burung yang baik,” sambungnya.

Bunda Vita mengaku, sangat ingin memajukan masyarakat Kukar yang menggeluti bisnis sarang walet. Bisnis ini, jika ditekuni, sangat menjanjikan. Untuk rumah burung produktif, tahun pertama menghasilkan 10 keping sarang setiap panen. Biasanya, sarang dipanen 40 hari sekali. Jika sudah memasuki tahun produktif, setiap panen bisa 100 kilogram sarang. Jika setahun empat kali panen --setelah dipotong masa penjawar (bertelur) dan kemungkinan gagal panen--, bisa memperoleh 400 kilogram sarang.

“Dengan harga sekarang, pendapatan rumah walet produktif dalam setahun bisa Rp 4 miliar. Itu berarti, pendapatan rata-rata Rp 333 juta sebulan,” jelasnya. Investasi membangun rumah walet sekitar Rp 300 juta (termasuk tanah) pun kembali hanya dalam beberapa tahun. Keuntungan berikutnya berlipat-lipat.

“Usaha ini bisa dilakukan siapa saja. Regulasinya tidak seketat bisnis yang lain. Hasilnya pun bisa sampai tujuh turunan. Tidak seperti kayu atau tambang batu bara yang segera habis,” sambungnya. Bunda Vita mencermati, bisnis sarang burung walet bisa menjadi alternatif Kukar yang saat ini sangat bergantung migas dan batu bara.

“Banyak karyawan perusahaan kami yang diberi modal dan dibangunkan rumah walet di Berau. Hasilnya terlihat sekarang. Berau menjadi salah satu produsen sarang walet terbesar di Indonesia,” jelasnya.

Saat ini, menurut catatan perusahaan, PT Walesta mengekspor 10 ton sarang burung setiap panen. Pendapatan kotornya saja menembus Rp 400 miliar per panen. Seluruh produk diekspor ke Thailand. Perusahaan dengan 3.000 karyawan ini, sebut Bunda Vita, telah bekerja sama dengan perusahaan di Thailand untuk pembotolan sarang walet. Setelah dicuci dan dimasukkan ke botol, sarang walet dijadikan beragam produk turunan, salah satunya sari pati ayam.

“Bahkan 10 ton itu masih belum memenuhi permintaan. Saya melihat, potensi ini sangat besar dikembangkan di Kukar,” imbuhnya.

Apakah kesuksesan usaha sarang burung walet berkaitan dengan modal yang disebut mencapai Rp 100 miliar untuk maju di Pilkada Kukar? (bersambung)

Artikel selanjutnya, ketuk:
 

 

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar