PARIWARA

Belajar di Pesantren, Style Mesti Tetap Oke

person access_time 6 days ago remove_red_eyeDikunjungi 2479 Kali
Belajar di Pesantren, Style Mesti Tetap Oke

Foto: Fachrizal Muliawan (kaltimkece.id)

Potensi besar datang dari 3,65 juta santri di Tanah Air. Peluang dari Kaltim mulai digali.

Ditulis Oleh: Fachrizal Muliawan
13 April 2019

kaltimkece.id Apa yang terlintas di kepala Anda bila mendengar kata pondok pesantren dan santri? Penghasil guru ngaji, guru agama, atau imam rowatib masjid? Tidak ada yang salah. Namun, dengan jumlah santri 3,65 juta orang pada 2014 (Data dari Kementerian Agama), menjadi potensi bagi pertumbuhan wirausaha baru. Termasuk sektor industri kecil menengah di Tanah Air.

Untuk itu, Kementerian Perindustrian melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Mengengah, dan Aneka sejak 2013 melaksanakan program Santripreneur. Program tersebut fokus pengembangan industri kecil dan menengah di lingkungan pondok pesantren.

Baca juga:
 

Setelah beberapa tahun berjalan, akhirnya Kaltim dapat giliran. Program pertama di Bumi Etam dilaksanakan di Pondok Pesantren Hidayatullah, Balikpapan. Di sana pelatihan tematik yang dilaksanakan adalah sektor konveksi, yakni pelatihan pembuatan pakaian jadi. Peserta berasal dari santriwati pondok pesantren tersebut.

Pada Jumat, 12 April 2019, dilaksanakan penyerahan bantuan simbolis berupa pemberian peralatan workshop jahit. Dihadiri oleh Dirjen Jenderal Industri Kecil, Mengengah, dan Aneka Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih, dan Wakil Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian. Peralatan yang diberikan adalah sepuluh buah mesin jahit, dua mesin obras, alat pasang dan membuat lubang kancing, serta gunting listrik. Total bantuan yang disalurkan bernilai Rp 400 juta.

 

Dalam sambutannya Gati menuturkan bahwa implementasi program ini memiliki dua model untuk mencapai sasaran Santripreneur. Pertama, Santri Berindustri, dan kedua Pesantren Berkreasi. Model Santri Berindustri fokus pada pengembangan unit industri yang telah ada. Sumber daya manusia berasal dari di lingkungan pondok pesantren yang terdiri dari santri dan alumni santri.

Sedangkan Santri Berkreasi merupakan kegiatan pelatihan dan pendampingan dalam pengembangan potensi kreatif para santri. Begitu juga alumni yang terpilih dari beberapa pondok pesantren. Kelak dapat menjadi seorang profesional di bidang seni visual, animasi, dan multimedia sesuai standar industri saat ini.

“Dengan jumlah santri cukup besar, potensi program Santripreneur sangat besar. Bahkan dari berbagai daerah program tersebut berhasil,” ujarnya.

Pilot project Santripreneur dilaksanakan di Pondok Pesantren Sunan Drajat, yaitu program bimbingan teknis pengolahan ikan dan bantuan peralatan, serta bimbingan teknis pembuatan alas kaki. Sementara untuk Santri Berkreasi, dilaksanakan program animator.

Menurut Gati, dalam proses berjalan, para santri sangat mudah diajari. Malah lebih disiplin dibanding siswa SMK. “Dasar santri memang dari sananya sudah diajarkan disiplin,” tuturnya.

Santipreneur di Pondok Pesantren Hidayatullah, Balikpapan, adalah yang pertama di Kaltim. Industri fashion dipilih melalui survey. Sektor fashion jadi yang paling cocok. Apalagi sudah ada beberapa dasar yang diajarkan. “Nah, kami tinggal menggali minat mereka lebih dalam,” ujarnya. “Program di Kaltim adalah hasil suara ibu Hetifah kepada kementerian.”

Jarang Masuk Radar Pusat

Diwawancara terpisah, Hetifah menilai acara tersebut memberi contoh saat ini ternyata banyak program bersumber APBN bisa merespons kebutuhan anak muda Kaltim dalam kesempatan kerja. Menukil isu saat Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) Kaltim 2019, kemiskinan Kaltim memang menurun namun kesempatan kerja dan pengangguran masih cukup tinggi. “Kalau enggak diatasi sekarang, pengangguran tadi menambah persentase kemiskinan,” ujarnya.

Makanya, sebagai wakil Kaltim di Senayan, sebutan Kantor DPR RI, Hetifah menyuarakan hal tersebut kepada beberapa kementerian. “Dorong terus agar pusat menciptakan peluang-peluang,” ucapnya.

Baca juga:
 

Dia berharap anak muda Kaltim tak bergantung lagi pekerjaan sebagai aparatur sipil negara (ASN). Sangat terbatas kuotanya. Juga jangan terlalu bergantung industri padat modal berbasis kekayaan sumber daya alam. Suatu saat pasti akan habis.

Beberapa industri yang cukup potensial, lanjut Hetifah, adalah pariwisata dan industri kreatif. Masalahnya, daerah-daerah di Kalimantan kerap dipandang sebelah mata. Program Santripreneur diharap menjadi pengungkit positif yang menarik. Jalan untuk para santri terbuka lebar.

Makanya, sekarang bila pemerintah pusat tak didorong dan dibawa ke Kaltim, bisa tak ada program APBN melirik provinsi ini. “Pasalnya selama ini ukuran daerah yang dilirik pusat sangat kuantitif. Mulai jumlah penduduk, jumlah pesantren, dan jumlah-jumlah lainnya,” ujarnya.

Makanya Kaltim, bahkan Kalimantan, jarang masuk radar pusat. “Sedih bila Kalimantan masih dipandang seperti itu. Makanya saya bawa orang-orang kementerian ke Kaltim, biar mereka lihat Kaltim juga bisa,” ucapnya.

Cita-Cita Desainer

Setelah penyerahan bantuan, Hetifah bersama beberapa awak media menyambangi asrama santri putri, tempat workshop pembuatan pakaian jadi dilaksanakan. Ada enam kelompok dalam workshop tersebut.

Salah seorang di antara peserta adalah Mutaharoh. Di antara peserta, dia terlihat paling cekatan. Dari gerakan efisien, terlihat cukup punya dasar tata busana.

Ternyata benar. Saat ditanya Hetifah, Mutaharoh bercita-cita menjadi desainer. “Pakaian muslimah,” tuturnya singkat kepada Hetifah.

Dia berharap, seragam para santri diproduksi santri-santri yang ikut dalam pelatihan tersebut. Bahkan tak menutup kemungkinan seragam para santri memiliki sisi fashion yang bagus. “Belajar boleh di pesantren, tapi style mesti tetap oke,” kuncinya. (*)

 

Editor: Bobby Lolowang

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar