kaltimkece.id Hujan deras yang mengguyur Samarinda kembali memunculkan keresahan lama bagi warga di Jalan Jenderal Sudirman, Gang 4, RT 7. Setiap kali hujan turun, genangan air mengubah jalan menjadi lautan kecil, melumpuhkan aktivitas dan memunculkan kekhawatiran warga. Perempatan lampu merah di kawasan tersebut sering terendam, menandai betapa buruknya sistem drainase yang ada.
Keluhan ini mencuat dalam kegiatan reses Wakil Ketua DPRD Kaltim, Ananda Emira Moeis, pada Senin, 4 November 2024. Dalam pertemuan tersebut, warga menumpahkan keluhan mereka terkait saluran air yang tak mampu menahan limpahan hujan.
"Warga mengeluhkan kondisi saat air meluap, merendam jalan dan menyebabkan perempatan di sekitar sini menjadi lumpuh," ujar Nanda, sapaan akrabnya.
Masalah ini, menurut Nanda, berakar pada sistem drainase yang terlalu kecil untuk menampung debit air, apalagi saat musim hujan. Ia mengusulkan agar saluran drainase diperlebar sebagai solusi jangka panjang guna meminimalisir risiko banjir yang kerap melanda kawasan tersebut.
"Drainase di sini perlu diperbesar agar bisa menampung lebih banyak air dan mengurangi risiko banjir," tegasnya.
Sebagai legislator dari daerah pemilihan Kota Samarinda, Nanda menyadari pentingnya langkah preventif dalam menghadapi tantangan banjir yang sudah menjadi momok tahunan. Ia menegaskan, perbaikan pada titik-titik rawan banjir harus menjadi prioritas. Mengingat dampaknya yang merugikan warga dan mengganggu aktivitas harian.
Banjir di Samarinda bukan sekadar soal genangan air, tetapi mencerminkan tantangan tata kelola kota yang lebih besar. Warga berharap, seruan seperti yang disampaikan Nanda dapat diiringi dengan tindakan nyata dari pemerintah. Ketika drainase diperbaiki dan banjir mulai teratasi, barulah Samarinda bisa berdiri tegak sebagai kota yang siap menghadapi tantangan alam tanpa meninggalkan warganya terjebak dalam kekhawatiran.(*adv/dprdkaltim)