Pariwara Mahakam Ulu

Bupati Mahulu Minta Segera Dibuat Manajemen Pencegahan Kebakaran sejak Level Keluarga

person access_time 2 weeks ago remove_red_eyeDikunjungi 185 Kali
Bupati Mahulu Minta Segera Dibuat Manajemen Pencegahan Kebakaran sejak Level Keluarga

Bonifasius Belawan Geh mengunjungi Posko PDB di Ujoh Bilang. (Humpro Pemkab Mahulu)

Banyak permukiman di Mahulu dibangun dengan bahan kayu yang mudah terbakar.

Ditulis Oleh: Nalendro Priambodo
01 Juni 2021

kaltimkece.id Bupati Mahakam Ulu, Bonifasius Belawan Geh, mengimbau seluruh masyarakat mewaspadai berbagai potensi kebakaran dari tingkat keluarga. Langkah pencegahan ini dia rasa penting guna meminimalkan kerugian berupa harta benda dan nyawa.

Mengingat, banyak permukiman di Mahulu dibangun dengan bahan kayu yang mudah terbakar. Di sisi lain, terdapat banyak kendala infrastruktur yang bakal menyulitkan proses pemadam jika si jago merah berkobar.

Hingga berita ini diturunkan Selasa, 1 Juni 2021, Polres Kutai Barat masih terus menginvestigasi sumber dan dugaan penyebab kebakaran. Meski demikian, berkaca pada sejumlah kebakaran di berbagai daerah, Bupati meminta setiap warga meminimalkan potensi api pemicu kebakaran yang disebabkan oleh kelalaian.

Potensi api pertama yang harus diwaspadai, ucap Bupati, bersumber dari instalasi kompor yang lupa dimatikan ketika meninggalkan rumah. Potensi kedua, berasal dari pembakaran sampah dekat permukiman yang lupa dimatikan.

“Saya minta padamkan semua sumber api sebelum meninggalkan rumah,” pesan Bupati Bonifasius Belawan Geh saat meninjau Posko Penanggulangan Darurat Bencana yang terletak di Polsek Long Bagun, Senin, 31 Mei 2021.

Potensi api ketiga, berasal dari sambungan listrik tak berizin atau menyalahi spesifikasi tidak standar. Bupati mengingatkan kepada seluruh masyarakat mengecek berkala instalasi listrik di rumahnya masing-masing.

Kalaupun hendak membangun instalasi listrik baru hendaknya menggunakan peralatan yang sudah direkomendasikan PLN maupun petugas ahli yang kompeten. Hal ini agar mencegah potensi korsleting yang menjadi sumber kebakaran. “Jangan sambung instalasi listrik sendiri,” tegas Bonifasius.

Pada kesempatan itu, Bupati Bonifasius juga memerintahkan ketua RT dan petinggi kampung di Mahulu membuat peraturan kampung tentang manajemen api di permukiman. Hal ini agar memudahkan pengarahan dan mengingatkan warga akan bahaya kebakaran di rumah masing-masing.

“Kalau perlu ditik, ditempel di pintu rumah. Biar sebelum keluar rumah ingat,” ujar Bonifasius.

Bonifasius yang bermukim tak jauh dari para korban kebakaran menyadari benar langkah preventif ini cukup berguna demi meminimalkan berbagai dampak akibat kebakaran. Para korban menderita karena harta benda habis dilalap si jago merah. “Apalagi bagi korban yang ekonominya pas-pasan. Kebakaran akan menajdi beban hidup dan menambah stres bagaimana membuat rumah baru,” imbuhnya.

Usul Beli Mesin Penyedot Air

Wakil Bupati Mahakam Ulu, Yohanes Avun, mengusulkan setiap pengurus kampung menganggarkan belanja pembelian mesin penyedot air. Mesin yang tersambung ke sumber air terdekat ini diyakini menjadi alternatif mempercepat pemadaman api jika musibah kebakaran kembali terulang di permukiman.

Wabup meyakini, kebakaran hebat yang menghanguskan 13 bangunan termasuk perkantoran pekan lalu harus dijadikan pembelajaran. Usulan Wabup ini didasarkan beberapa pertimbangan. Pertama, keuangan Pemkab Mahulu yang masih terbatas belum memungkinkan membeli mobil pemadam di 50 kampung. Begitu pula, letak geografis kampung yang berjauhan ditambah minimnya akses transportasi jalan umum bakal menyulitkan mobil pemadam beroperasi maksimal untuk saat ini. Ketiga, letak perkampungan di Mahulu yang bersebelahan dengan sungai Mahakam dinilai memudahkan mesin penyedot air beroperasi cepat jika terjadi musibah kebakaran di perkampungan.

“Saat kejadian kebakaran tidak begitu repot. Tinggal ambil mesin penyedot air untuk menyiram kebakaran,” ujar Wabup Avun kepada kaltimkece.id, Senin, 31 Mei 2021 di Samarinda. “Tinggal sedot air ke Sungai Mahakam dan tidak akan habis,” sambungnya.

Wabup mengusulkan penganggaran khusus pembelian mesin penyedot air tersebut bisa bersumber dari alokasi dana kampung (ADK). “Mungkin bisa di APBD perubahan atau APBD tahun 2022,” ujarnya.

Selain alat, Wabup mengingatkan perlu adanya pendidikan bagi petugas pemadam kebakaran. Baik yang berada di dinas maupun relawan. Hal ini penting guna mengasah kompetensi petugas agar tidak banyak atau jatuh korban yang lebih banyak. “Mereka harus diajarkan bagaimana cara semprot kebakaran yang benar,” tandasnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Ketenteraman Ketertiban Umum dan Perlindungan Masyarakat Mahulu, Lawing Nilas menyampaikan saat ini jajarannya kekurangan personel pemadam kebakaran. Jumlah personel saat ini disebutnya hanya 18 orang yang sebagian besar berada di ibu kota Mahulu.

Matan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kampung (DPMK) Mahulu itu menyadari kabupaten ini perlu menambah personel pemadam kebakaran. Hal itu melihat kondisi geografis antar kampung di Mahulu yang sebagian besar hanya bisa dilalui sungai.

Mengatasi hal tersebut, jajarannya sedang berupaya membeli peralatan pemadam kebakaran. Langkah itu nantinya disinergikan dengan memberi pelatihan kepada para relawan yang berpotensi menjadi personel pemadam kebakaran.

“Minimal satu atau dua pemuda kampung. Kami akan diskusikan dengan DPMK mengenai anggarannya,” tandasnya. (*)

 

Editor: Bobby Lolowang

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar