Pariwara Mahakam Ulu

Kegembiraan Petani Usai Mendapat Bantuan Biaya Tanam Rp Dua Juta dari Pemkab Mahulu

person access_time 1 month ago remove_red_eyeDikunjungi 136 Kali
Kegembiraan Petani Usai Mendapat Bantuan Biaya Tanam Rp Dua Juta dari Pemkab Mahulu

Bupati Mahakam Ulu, Bonifasius Belawan Geh menyerahkan simbolis bantuan biaya tanam kupada petani. Ditargetkan ada tiga ribuan petani yang mendapat bantuan ini. kaltimkece.id (Nalendro Priambodo)

Ribuan petani padi ladang di Mahulu bisa sedikit tersenyum karena bantuan biaya tanam Rp dua juta per hektare.

Ditulis Oleh: Nalendro Priambodo
23 September 2021

kaltimkece.id Mata Benediktus Bang seketika menyipit ketika namanya dipanggil menghadap Bupati Mahakam Ulu, Bonifasius Belawan Geh. Di dalam tenda persis di depan podium, petani 58 tahun ini menerima secara simbolis bantuan biaya tanam sebesar Rp dua juta dari orang nomor satu di Pemkab Mahulu ini. 

Setelah sesi poto bersama, Ia bergegas kembali ke kursi plastik untuk para tamu. Pria berkacamata itu terus memandangi papan busa berwarna hijau bertuliskan ‘Bantuan Biaya Tanam Padi Rp Dua Juta oleh Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu untuk Seluruh Petani di Kabupaten Mahakam Ulu’ yang ia tenteng sepanjang acara. 

Sesekali ia memperbaiki lavung – topi anyaman khas etnis Dayak di atas kepalanya. Beberapa pejabat yang menemani bupati turut memberikan selamat dan semangat kepadanya. 

Benediktus yang sejak remaja bertani padi ladang di kampung Long Melaham ini mengaku sangat gembira atas bantuan biaya tanam yang diberikan kepadanya. Terlebih bantuan diserahkan pada masa mulai menanam padi ladang yang membutuhkan biaya tak sedikit. 

Benediktus memperkirakan biaya tanam untuk lahan seluas satu hektare memakan biaya paling sedikit Rp satu sampai dua juta. Tergantung apakah menggunakan biaya buruh atau bergotong royong. Modal yang dikeluarkan bertambah seiring dengan banyaknya pekerja upahan atau konsumsi bagi petani lain yang ikut gotong royong. 

“Kita ini betul-betul orang susah. Bantuan seperti ini memberikan keringanan sedikit untuk membiayai apa yang kita rencanakan,” ucap Benediktus kepada kaltimkece.id, Selasa, 21 September 2021 usai penyerahan bantuan di Kampung Long Melaham. 

Berbeda dengan padi sawah, pola padi ladang khususnya di Kabupaten Mahakam Ulu masih menggunakan sistem gilir balik dengan masa tanam dan panen setahun sekali. Umumnya, proses di mulai dari menentukan lokasi lahan yang berbeda dari lahan di tahun sebelumnya. 

Setelah lokasi di dapat, proses selanjutnya adalah menebas dan mencincang pepohonan dan semak belukar. Setelah kering proses berlanjut di pembakaran sisa dedaunan. Tujuannya menciptakan nutrisi alami dan memudahkan penanaman bibit. 

Di malam sebelum penanaman benih di ladang, si pemilik lahan biasanya mengadakan prosesi adat mengundang warga setempat untuk perjamuan dan berdoa demi kesuburan dan kesuksesan berladang tahun ini. Prosesi ini dinamakan Ngurang dalam istilah lokal. 

Keesokan paginya, para tamu dan kerabat bergotong royong menanam bibit padi. Cara yang digunakan masih tradisional. Menggunakan sebatang kayu runcing dengan pemberat besi di bagian tanah untuk melubangi tanah tempat benih diletakkan. Perkakas yang biasa dioperasikan kaum lelaki itu diberi nama Tugal dalam istilah lokal. 

Di belakang barisan pria, kaum perempuan dengan bidik menjatuhkan beberapa butir benih padi gunung lokal ke dalam lubang dan menutupnya dengan kaki. 

Benediktus berharap bantuan biaya tanam yang baru diluncurkan ini bisa mengurangi biaya produksi padi gunung yang hanya bisa dipanen setahun sekali ini. “Memang dalam pikiran kita, pendapatan bisa bertambah,” harapnya. 

Bupati Mahakam Ulu, Bonifasius Belawan Geh menyampaikan bantuan ini ditargetkan akan disalurkan kepada tiga ribu petani di Mahulu. Bantuan yang merupakan realisasi janji politik dan masuk dalam program strategis ini didesain untuk meringankan beban, meningkatkan produksi, pendapatan sekaligus kesejahteraan petani lokal.

Program ini selaras dengan amanat Undang-undang nomor 19 tahun 2013 tentang perlindungan dan pemberdayaan petani. Pada bab satu tertulis bahwa perlindungan petani adalah segala upaya membantu petani dalam menghadapi kesulitan sarana dan prasarana produksi, kepastian usaha dan harga, kegagalan panen, praktik ekonomi berbiaya mahal serta perubahan iklim. 

“Bantuan ini bertujuan membantu ekonomi petani terlebih di masa pandemi Covid-19 dalam bentuk biaya tanam padi ladang,” ucap Bonifasius saat menghadiri serah terima bantuan. (*)

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar