Pariwara Mahakam Ulu

Pelajaran dari Kunang-Kunang Penghasil Cuan, Pokdarwis Mahulu Disarankan Kreatif Gali Potensi Wisata Lokal

person access_time 1 month ago remove_red_eyeDikunjungi 162 Kali
Pelajaran dari Kunang-Kunang Penghasil Cuan, Pokdarwis Mahulu Disarankan Kreatif Gali Potensi Wisata Lokal

Gerakan Nasional Sadar Pariwisata yang digencarkan hingga tingkat kampung. kaltimkece.id (Nalendro Priambodo)

Berawal dari konsep sederhana, dikelola profesional hingga terkenal sampai mancanegara. 

Ditulis Oleh: Nalendro Priambodo
27 Oktober 2021

kaltimkece.id Aliran air berwarna putih jernih mengalir perlahan melalui saluran irigasi menuju hamparan hijau padi sawah milik petani. Air yang mulai memenuhi sawah di samping bukit itu perlahan turun ke sebuah kolam ikan persis di bawah sawah. Kolam yang telah tertutup daun teratai nan lebar itu memunculkan tangkai bunga bermekaran. Di antara sawah dan kolam berdiri beberapa pondok beratap jerami yang dikeliling berbagai tanaman bunga nan indah. Hawa sejuk khas pedesaan menambah keasrian sepanjang hari.

Pemandangan semakin indah ketika matahari mulai tergelincir ke arah barat. Di antara rimbun dedaunan terlihat kerlap-kerlip cahaya beterbangan. Bukan berasal dari lampu gantung. Melainkan ribuan kunang-kunang yang terbang mengikuti semilir angin malam. Pancaran bulan ditemani indahnya cahaya kumbang malam itu membuat malam semakin indah dan romantis. 

Keunikan alam bersanding dengan atraksi para serangga yang kini sukar dijumpai itu tersaji di Desa Wisata Taro, Kecamatan Tegallelang Kabupaten Gianyar, Bali. Keindahannya telah menjadi magnet bagi para wisatawan. Beragam poto dan video para turis yang beredar di dunia maya semakin menarik para turis berdatangan dari berbagai penjuru dunia. Salah satunya, Kristina Tening yang sekarang menjadi Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga (Disparpora) Mahulu yang sempat berkunjung dan belajar ke sana beberapa waktu lalu. 

Tening – sapaan karibnya bukan hanya takjub atas keindahan alam dan atraksi yang tersaji di kampung wisata yang konon kampung tertua di pulau dewata ini. Yang membuat perempuan berkaca mata itu salut adalah ide dasar dan orisinalitas para pegiat wisata lokal melahirkan objek wisata alam berbasis konservasi nan atraktif. 

“Awalnya, penduduk lokal mengembangkan agrowisata dari sawah kecil dengan cara organik,” ucap Tening kepada kaltimkece.id, Senin, 25 Oktober 2021 menceritakan pengalaman diskusinya dengan pengelola destinasi wisata di kampung Taro. 

Bercocok tanam tanpa bahan kimiawi itu ternyata memberi banyak manfaat. Pengelola wisata pun mulai mengembangkan sebuah studi hubungan antara pertanian organik dan munculnya kunang-kunang. Rupanya serangga ini hanya mau hidup dan berkembang biak di lahan yang alami dan bebas dari paparan zat kimia. “Kebetulan mereka juga melakukan studi tentang kunang-kunang,” kata Tening. 

Studi itu dijadikan bahan pengembangan objek agrowisata yang unik dan menguntungkan. Pengunjung bisa bersantai, mengambil poto dan video sembari menikmati keindahan alam dan memutar memori masa kecil tentang keindahan kunang-kunang. Tak hanya itu, wisatawan juga bisa diedukasi tentang pentingnya kelestarian alam. 

“Orang datang mau minum, bersantai dan melihat kunang-kunang. Sederhana kan konsepnya,” ujar Tening. 

Tening menceritakan ada pelajaran penting yang bisa dipetik dari wisata kunang-kunang itu. Penduduk lokal tidak menyerah pada keadaan dan kreatif mengolah potensi daerah yang mereka miliki. “Mereka berdiskusi bersama memanfaatkan isu Covid-19 agar tidak tertidur dan terlena. Tapi menangkap peluang membentuk objek wisata dan sekarang wisatawan berdatangan,” ujarnya. 

Tening berucap, Bali dan Mahulu punya kesamaan modal kuat pengembangan pariwisata berbasis budaya, alam ditambah konservasi. Hanya saja, salah satu yang membedakan adalah kesadaran dan kepeloporan para pegiat pariwisata. Selain dinas terkait juga Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).

“Pokdarwis adalah ujung tombak pengembangan pariwisata. Idealnya, mereka yang lebih tahu potensi wisata di kampung,” ucap Tening seusai menghadiri pengukuhan Pokdarwis Mange Hake dari Kampung Ujoh Bilang dan Hinaq Banguq Bagun Kampung Long Bagun Ulu Senin, 25 Oktober 2021 di Lamin Adat Ujoh Bilang. 

Tening berharap pengurus Pokdarwis di tingkat kampung juga mampu memetakan dan menggerakkan tumbuhnya kampung wisata melalui penguatan kapasitas sumber daya manusia setempat. Tentu saja, harapan dia adalah lahir objek wisata Mahulu yang memiliki ciri khas yang bersaing dibanding tempat lainnya. 

Ia tak menampik, di banyak tempat banyak pengurus Pokdarwis yang kurang aktif dan cenderung mati suri. Karena itu, ia meminta kepada para pengurus Pokdarwis tingkat kampung harus memiliki kesamaan visi dan misi membangun kesadaran pentingnya pariwisata agar masyarakat sejahtera. 

Ia menyarankan para pengurus Pokdarwis menyusun langkah-langkah-langkah mengembangkan wisata lokal dengan konsep yang matang dan memiliki ciri khas dan nilai jual. “Pokdarwis harus membangun kemitraan dengan pihak lain baik swasta, pemerintah dan perguruan tinggi. Tidak bisa bekerja sendiri,” tutupnya.

Bupati Mahakam Ulu, Bonifasius Belawan Geh menyadari, butuh banyak usaha agar sektor ini menjadi industri yang menjanjikan di masa depan. Karena itu, bupati berharap Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga mampu menjadi fasilitator dan motivator pengembangan pariwisata Mahulu. Tak ketinggalan bupati berpesan agar Pokdarwis membantu masyarakat kampung mengembangkan pariwisata setempat. 

“Jangan hanya berpikir wisata di Bali. Kalau bisa kita memindahkan wisatawan ke Mahulu,” ujar Bupati melalui Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan E Tek Hen usai pelantikan. (*)

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar