Pariwara Mahakam Ulu

Pembelajaran Tatap Muka di Mahulu Berpeluang Dimulai Kembali Awal 2021

person access_time 4 weeks ago remove_red_eyeDikunjungi 201 Kali
Pembelajaran Tatap Muka di Mahulu Berpeluang Dimulai Kembali Awal 2021

Seravina Igit, pelajar di Kampung Batu Majang, Mahulu, mengerjakan tugas sekolah selama proses belalar dari rumah. (robithoh johan palupi/kaltimkece.id)

Ada beberapa komponen dan protokol kesehatan yang harus benar-benar disiapkan sekolah untuk mendukung pembelajaran tatap muka.

Ditulis Oleh: Nalendro Priambodo
19 Desember 2020

kaltimkece.id Bupati Mahakam Ulu, Bonifasius Belawan Geh, membuka peluang pembelajaran tatap muka di kabupaten yang ia pimpin bisa dimulai awal 2021. Peluang itu muncul setelah mempelajari dan menerima sebagian laporan pengecekan kesiapan lapangan yang mengacu Surat Keputusan Bersama (SKB) empat menteri tentang panduan penyelenggaraan pembelajaran tahun akademik dan ajaran 2020-2021 pada masa pandemi Covid-19.

SKB tersebut dikeluarkan Menteri Kesehatan, Dalam Negeri, Pendidikan dan Kebudayaan, serta Agama pada 20 November 2020. Mengatur panduan pembelajaran tatap muka mulai jenjang PAUD hingga perkuliahan selama masa pandemi Covid-19. PAUD hingga sekolah menengah pertama menjadi kewenangan kabupaten dan kota.

“Sepanjang memenuhi syarat, kita bisa membuka pembelajaran tatap muka. Apalagi jika nanti wilayah Mahakam Ulu kembali ke zona hijau, tidak ada masalah. Terpenting, protokol Covid-19 tetap dijalankan,” ucap Bupati Mahulu, Bonifasius Belawan Geh, Kamis, 17 Desember 2020, kepada kaltimkece.id sela kunjungan ke situs proyek perkantoran di Ujoh Bilang.

Terkait sejumlah persyaratan itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Mahulu, Veridiana Hendoq, menjelaskan bahwa jajarannya turun langsung mengecek kesiapan di lapangan. Sejak November 2020, timnya sudah mendatangi dua kecamatan di Long Hubung dan Long Bagun. Verifikasi akan berlanjut ke tiga kecamatan lain seperti Laham, Long Pahangai, dan Long Apari.

Ada beberapa komponen dan protokol kesehatan yang harus benar-benar disiapkan sekolah untuk mendukung pembelajaran tatap muka. Di antaranya pistol pengecek suhu, mewajibkan penggunaan masker, penyediaan tempat cuci tangan, menjaga jarak ruang belajar, hingga koordinasi dengan puskemas terdekat. “Bila ada riwayat anak atau guru pernah perjalanan ke luar Mahulu, tentunya wajib rapid test di puskemas terdekat,” kata Veridiana setelah mengikuti upacara HUT Mahulu ke-7 di Ujoh Bilang, Senin, 14 Desember 2020.

Veridiana menambahkan, setelah memverifikasi sekolah di lima kecamatan, jajarannya segera melapor kepada bupati supaya ditindaklanjuti dalam rapat. Hasil pembahasan menjadi acuan apakah bupati dapat mengeluarkan izin pembelajaran tatap muka di sekolah atau tidak. “Karena beliau (bupati) yang akan mengeluarkan suratnya,” katanya.

Akan tetapi, ia juga menerangkan jika keputusan terakhir sebetulnya berada di wali murid, yang dirundingkan melalui pihak sekolah dengan komite orangtua. “Jika mereka memperbolehkan nanti boleh dilaksanakan. Tetapi jika orangtua tidak memperbolehkan, tatap muka juga tidak bisa dilaksanakan,” tutupnya.

Peluang pembelajaran kembali tatap muka disambut baik Kepala Dinas Kesehatan Mahulu drg Teguh Agustinus Santoso. Dia menuturkan, Dinas Kesehatan Mahulu sudah menyiapkan protokol kesehatan untuk kegiatan belajar mengajar sedari memasuki masa normal baru, pada saat itu masih di zona hijau. Meskipun saat ini Mahulu masuk zona kuning, dirinya optimistis masih dalam kondisi terkendali.

 “Dalam hal kami ini sudah ada rencana untuk mengadakan tatap muka, khususnya untuk pembelajaran di sekolah. Tahapannya sudah jelas dari Kementerian Pendidikan, dimulai dari SMA kemudian berjenjang tingkat SMP kemudian SD hingga terakhir PAUD. Akan tetapi ini tetap membutuhkan persetujuan dari orang tua melalui perwakilan komite di sekolah,” ujarnya terpisah.

Dinas Kesehatan Mahulu saat ini juga sudah berkoordinasi dengan Satgas Covid-19 Mahulu, hal tersebut terkait dengan prosedur protokol yang dilaksanakan pada masa memasuki belajar tatap muka dan berjalannya pembelajaran. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar belajar tatap muka dapat dilaksanakan, dimulai dari pengecekan pengajar. Guru akan dipindai minimal dengan tes cepat yang dilakukan oleh Puskesmas di wilayah kerjanya masing-masing. Sedangkan murid cukup dengan pemeriksaan umum.

“Mengapa kami mengutamakan gurunya untuk di rapid test, karena gurunya ini kan yang memberikan  pelajaran biasanya lebih aktif. Sedangkan untuk murid akan dilakukan pemeriksaan secara umum sebelum masuk sekolah. Jadi kalau ada yang punya gejala pilek atau batuk, lebih baik jangan ikut pembelajaran dulu,” tutur drg Teguh.

Tidak berubah seperti sebelumnya, protokol kesehatan seperti mengenakan masker juga dipastikan harus terlaksana selama masa pembelajaran tatap muka nanti. Ditambah perlengkapan tambahan untuk guru misalnya pelindung wajah, untuk menghindari percikan liur dan bersin. Guru maupun murid juga diwajibkan membawa makanan dari rumah dan alat tulis sendiri serta tiap sekolah menyediakan tempat mencuci tangan.

“Jadi sesuai protokol kesehatan kelah hanya boleh diisi separuh dari daya tampung kelas tersebut. Misal 40 per kelas, yang boleh ya cuma 20 murid,” kata drg Teguh.

Terkait jumlah yang dibolehkan mengikuti pembelajaran tatap muka dalam kelas ini, dia mengatakan waktu belajar di kelas akan dilakukan bergantian. Dibagi dua kelas pagi dan siang. Kemudian pelajaran olahraga yang sifatnya kontak fisik, juga tidak diperkenankan. Dia lebih menganjurkan senam, karena tetap bisa menjaga jarak dan tetap mengenakan masker.

Sementara itu, terkait kondisi zona yang bisa berubah kapan saja ke depan drg Teguh tetap menganjurkan protokol kesehatan untuk tetap dijalankan meski nanti kembali menjadi zona hijau. Akan tetapi bila menjadi zona merah, maka pembelajaran tatap muka bisa dihentikan.

“Yang penting ini ada peningkatan dalam pembelajaran tatap muka, kami dari Dinas Kesehatan dan dari Satgas Covid-19 hanya memberikan rambu-rambu kalau mau tatap muka pembelajaran, ya silahkan diikuti seperti itu,” tutup drg Teguh.

Sebagai informasi, Mahulu punya pengalaman baik pencegahan dan penanganan Covid-19. Lima bulan sejak pengumuman pandemi Covid-19 di Kaltim Maret 2020, Mahulu berada di zona hijau alias bebas Covid-19. Keberhasilan ini dikarenakan kebijakan instruksi bupati yang mewajibkan setiap pelaku perjalanan masuk ke Mahulu harus mengantongi hasil tes usap metode polymearse chain reaction (PCR) ataupun tes cepat dengan hasil negatif Covid-19. Kebijakan ini diselingi dengan sistem buka tutup wilayah dalam kondisi rawan seperti adanya kasus baru di daerah atau potensi arus besar kedatangan orang di hari besar.

Menurut catatan Dinas Kesehatan Kalimantan Timur, per 18 Desember 2020, Mahulu menjadi satu-satunya daerah di bumi etam yang memiliki dampak persebaran Covid-19 terendah. Dari 26 kasus yang tercatat, 23 orang dinyatakan sembuh, 1 orang meninggal dan hanya tersisa dua pasien dalam perawatan. Sebagai catatan, belum ditemukan kasus transmisi lokal. Dan, kebanyakan pasien tertular berdomisili di luar Mahulu namun masih mengantongi data kependudukan Mahulu. Sehingga kasus itu dilaporkan di zona Mahulu. (*)

 

Editor: Bobby Lolowang

Ikuti berita-berita berkualitas dari kaltimkece.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar