Pariwara Mahakam Ulu

Pentingnya Mitigasi Bencana di Mahulu, Masyarakat Waspada, Personel dan Peralatan Siap Siaga

person access_time 2 weeks ago remove_red_eyeDikunjungi 225 Kali
Pentingnya Mitigasi Bencana di Mahulu, Masyarakat Waspada, Personel dan Peralatan Siap Siaga

Bonifasius Belawan Geh meninjau lokasi kebakaran di Ujoh Bilang. (nalendro priambodo/kaltimkece.id)

Ke depan perlu diperkuat manajemen dan standar operasional prosedur bagi petugas pemadam kebakaran di Mahulu.

Ditulis Oleh: Nalendro Priambodo
02 Juni 2021

kaltimkece.id Bupati Mahakam Ulu menyampaikan berbagai hikmah bisa dipetik setelah kebakaran di Kampung Ujoh Bilang pekan lalu. Pertama, kesiapsiagaan personel pemadam kebakaran, berikut peralatan dan kedua, kewaspadaan masyarakat mengantisipasi kebakaran. Dua hal itu diyakini menjadi faktor kunci penguatan mitigasi–pengurangan dampak bencana di Mahulu pada masa depan.

Bonifasius mengingatkan agar ke depan diperkuat manajemen dan standar operasional prosedur bagi petugas pemadam kebakaran. Ini meliputi peralatan pemadam kebakaran yang terus bisa digunakan langsung ketika terjadi kebakaran. Termasuk kesiapsiagaan, kecakapan, dan jumlah personel pemadam kebakaran.

“Jangan sampai waktu kebakaran kita masih sibuk perbaiki pompa, selang pendek, bocor lagi. Kita akan evaluasi terus,” ujar Bupati Bonifasius saat mengunjungi para korban kebakaran di Ujoh Bilang, Senin, 31 Mei 2021. “Kalau enggak cukup, segera dicukupkan personel (pemadam kebakaran),” sambungnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Ketenteraman Ketertiban Umum dan Perlindungan Masyarakat Mahulu, Lawing Nilas, menyampaikan bahwa saat ini jajarannya kekurangan personel pemadam kebakaran. Jumlah personel saat ini disebutnya hanya 18 orang yang sebagian besar berada di ibu kota Mahulu.

Mantan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kampung (DPMK) Mahulu itu menyadari Mahulu perlu menambah personel pemadam kebakaran. Hal tersebut melihat kondisi geografis antara kampung di Mahulu yang sebagian besar hanya bisa dilalui sungai.

Mengatasi hal itu, jajarannya berupaya membeli peralatan pemadam kebakaran. Langkah tersebut nantinya disinergikan pelatihan kepada para relawan yang berpotensi menjadi personel pemadam kebakaran.

“Minimal satu atau dua pemuda kampung. Kami akan diskusikan dengan DPMK mengenai anggarannya,” ucapnya.

Kembali ke Bonifasius. Dari peristiwa itu, orang nomor satu di Pemkab Mahulu terseut meminta evaluasi dari berbagai aspek. Ke depan, ia memerintahkan jajaran di bawahnya mulai merancang sungguh-sungguh sistem pencegahan dan pengendalian, berikut peralatan pemadaman kebakaran di permukiman. Mengingat, mayoritas perkampungan di Mahulu yang mulai rapat berada di pinggir sungai dan berbahan kayu yang mudah terbakar.

Salah satu yang ia sorot belum adanya hydrant air. Di beberapa kota besar, katup sambungan air tersebut sangat berguna sebagai salah satu sumber air bagi pemadam kebakaran ketika si jago merah mengamuk di permukiman.

Ia meminta jajaran di bawahnya memikirkan ulang bagaimana perencanaan sistem sumber pengairan darurat menghadapi kebakaran di permukiman. “Kalau ada jaringan hydrant, bagaimana sambungan ke selang pemadam. Jangan nanti pas sibuk kebakaran, sibuk pasang alkon (mesin sedot air),” pintanya.

Waspadai Sumber Potensi Kebakaran

Selain itu, Bupati yang kini menjabat periode kedua tersebut mengimbau seluruh masyarakat mewaspadai berbagai potensi kebakaran dari tingkat keluarga. Langkah pencegahan itu dia rasa penting guna meminimalkan kerugian berupa harta benda dan nyawa.

Apalagi mengingat banyak permukiman di Mahulu dibangun dengan bahan kayu yang mudah terbakar. Di sisi lain, terdapat banyak kendala infrastruktur yang bakal menyulitkan proses pemadam jika si jago merah berkobar.

Sejauh ini, Polres Kutai Barat masih terus menginvestigasi sumber dan dugaan penyebab kebakaran. Meski demikian, berkaca sejumlah kebakaran di berbagai daerah, Bupati meminta setiap warga meminimalkan potensi api pemicu kebakaran yang disebabkan oleh kelalaian.

Potensi api pertama yang harus diwaspadai ucap bupati bersumber dari instalasi kompor yang lupa dimatikan ketika meninggalkan rumah. Potensi kedua, berasal dari pembakaran sampah dekat permukiman yang lupa dimatikan. “Saya minta padamkan semua sumber api sebelum meninggalkan rumah,” pesan Bonifasius.

 Potensi api ketiga, berasal dari sambungan listrik tak berizin atau menyalahi spesifikasi tidak standar. Bupati mengingatkan pada seluruh masyarakat mengecek berkala instalasi listrik di rumah masing-masing. Kalaupun hendak membangun instalasi listrik baru hendaknya menggunakan peralatan yang sudah direkomendasikan PLN maupun petugas kompeten. Hal itu agar mencegah potensi korsleting yang menjadi sumber kebakaran.

“Jangan sambung instalasi listrik sendiri,” tegas Bonifasius.

Pada kesempatan itu Bupati Bonifasius juga memerintahkan para Ketua RT dan Petinggi kampung di Mahulu membuat peraturan kampung tentang manajemen api di permukiman. Hal tersebut agar memudahkan pengarahan dan mengingatkan warga akan bahaya kebakaran di rumah masing-masing.

“Kalau perlu ditik, ditempel di pintu rumah. Biar sebelum keluar rumah ingat,” ujar Bonifasius. (*)

 

Editor: Bobby Lolowang

 

 

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar