Pariwara

Beragam Inovasi Berau Coal Mewujudkan Kemandirian Pangan dan Ekonomi Kampung Tasuk

person access_time 2 weeks ago remove_red_eyeDikunjungi 215 Kali
Beragam Inovasi Berau Coal Mewujudkan Kemandirian Pangan dan Ekonomi Kampung Tasuk

Bersama Berau Coal, para petani Kampung Tasuk menciptakan beras unggulan. (foto: istimewa)

Pertanian kampung di Berau ini sempat berada di fase kritis. Kini, para petaninya mulai bangkit.

Ditulis Oleh: Giarti Ibnu Lestari
11 Januari 2022

kaltimkece.id PT Berau Coal terus membuktikan kontribusinya membangun lingkungan sosial yang lebih baik. Melalui program corporate social responsibility (CSR), perusahaan tersebut mendampingi Kampung Tasuk di Kecamatan Gunung Tabur, Berau, untuk menjadikan kampung mandiri pangan dan mandiri ekonomi.

Mayortitas penduduk Kampung Tasuk berprofesi sebagai petani. Sekitar 40 persen para petaninya berusia produktif. Ketua Kelompok Tani Padat Karya dari Kampung Tasuk, Purnomo, membeberkan sejumlah masalah pertanian. Satu di antaranya mengenai kesusahan para petani menjual berasnya ke pasar.

Purnomo menyebut, produktivitas pertanian Kampung Tasuk berkisar 5 ton per hektare. Tapi, produk pertanian yang dipasarkan sangat rendah, hanya berkisar 1 ton per tahun. Sedangkan penggunaan pupuk kimianya tinggi, mencapai 700 kilogram per hektare.

Ketergantungan penghasilan Kampung Tasuk dari sektor pertambangan menjadi masalah berikutnya. Purnomo memaparkan, sekitar 61 persen ekonomi Kampung Tasuk mengandalkan pertambangan dan 150 kepala keluarga bekerja serabutan. “Tidak ada juga regenerasi di sektor pertanian. Kebanyakan, pertanian digeluti kaum tua,” urainya.

_____________________________________________________PARIWARA

Kondisi tersebut menjadi perhatian serius PT Berau Coal. Mencari solusinya, mereka memetakan permasalah Kampung Tasuk, termasuk menggali potensi ekonominya. Senior Manager Corporate Communications Berau Coal, Arif Hadianto, membeberkan hasil pemetaan. Kampung Tasuk disebut memiliki lahan terbuka 150 hektare yang belum dimanfaatkan. Selain itu memiliki sumber air berkualitas bagus. Jika potensi tersebut dimanfaatkan pertanian dengan maksimal, maka diyakini memberikan nilai tambah ekonomi yang berkelanjutan.

“Kampung Tasuk juga menyumbang 20 persen ketersediaan lahan basah di Berau,” beber Arif.

Berau Coal memanfaatkan dengan baik peluang tersebut. Perusahan tambang batu bara itu melakukan berbagai inovasi sosial untuk meningkatkan ekonomi Kampung Tasuk. Inovasi tersebut seperti memberikan varietas padi unggul, menerapkan budi daya pertanian yang terintegrasi dan ramah lingkungan, dan mengelola hasil pertanian padi.

Ada sejumlah program Berau Coal mengembangkan pertanian padi dan optimalisasi pembukaan lahan sawah baru di Kampung Tasuk. Satu di antaranya adalah memberikan edukasi budi daya padi melalui praktik demonstration plot (demplot) di atas lahan seluas 4 hektare. Selain itu, menyediakan sarana produksi pertanian untuk praktik demplot, memberikan pinjaman modal kepada petani, membangun Rumah Kemas Berau Creatif atau rumah pengemasan beras, dan memberikan edukasi pertanian ramah lingkungan yang berkelanjutan.

“Semua ini untuk menjadikan Kampung Tasuk menjadi kampung mandiri pangan dan mandiri ekonomi alias Tasuk Papan,” terang Arif.

Upaya Berau Coal memajukan perekonomian Kampung Tasuk mendapat apresiasi dari Pemkab Berau. Kepala Dinas Pertanian Berau, Mustakim Suharjana, mengucapkan terima kasih kepada Berau Coal yang telah ikut membangun Kampung Tasuk.

Bantuan-bantuan yang diberikan Berau Coal, kata Mustakim, memberikan dampak positif bagi Kampung Tasuk. Ia mencontohkan hasil panen padi beberapa waktu lalu. Saat itu, Kampung Tasuk berhasil mendapatkan 6,1 ton beras per hektare. Biasanya, mereka hanya mendapatkan 4,5 ton per hektare. “Ini tentunya memotivasi masyarakat yang lain,” seru Mustakim Suharjana.

Pertanian Kampung Tasuk pun dilaporkan mengalami kemajuan. Hal itu dilihat dari pengunaan varietas inpari 42, tidak adanya limbah, memanfaatkan limbah dedak dan sekam untuk pakan ternak, dan didirikannya Rumah Kemas Berau Creative. Rumah kemas juga berfungsi mengelola pinjaman modal dan mengelola perdagangan gabah dan beras. Rumah Kemas Berau Creative disebut sebagai lembaga pertama di Berau yang memiliki izin edar beras. Pertanian Kampung Tasuk juga sudah menggunakan teknologi modern seperti penggunaan traktor, alat tanam, sortir beras, dan dry box.

Ketua Kelompok Tani Kampung Tasuk, Wahyuni, mengatakan, setelah diberikan pelatihan pertanian dari Berau Coal, para petani kini lebih mengerti tentang bibit berkualitas yang laku di pasaran. “Sekarang menjadi lebih berhati-hati jika menanam agar mendapatkan hasil yang maksimal,” katanya. Ia menambahkan, hampir semua kebutuhan pertanian Kampung Tasuk seperti bibit padi, dibantu Berau Coal.

Ada beberapa unit dari Berau Coal yang memberikan pengetahuan dan keterampilan pertanian kepada para petani Kampung Tasuk. Pertama, Departmen Mine Closure memberikan penyuluhan menyiapkan lahan yang baik. Kemudian, Devisi Health, Safety, Inveronment (HSE) melakukan edukasi pembuatan pupuk organik, perimbangan penggunaan pupuk, dan pemilihan bibit tanaman yang baik. Berikutnya, Deparment CSR memberikan pendidikan tentang perawatan tanaman, perencanaan panen, dan pengelolaan pemasaran. Department CSR juga mengedukasi aspek legalitas produk beras melalui Yayasan Dharma Bhakti PT Berau Coal dan Rumah Kemas Berau Creative.

Bukan hanya di Kampung Tasuk, Berau Coal melakukan program serupa di lima kampung yang lain di Berau. Kelimanya yakni Kampung Merancang, Kampung Samburakat, Kampung Bangun, Kampung Gurimbang, dan Kampung Buyung-Buyung.

_____________________________________________________INFOGRAFIK

Tentang Berau Coal

PT Berau Coal yang bermarkas di Berau, Kaltim, adalah generasi pertama pemegang perjanjian karya pengusahaan pertambangan batu bara (PKP2B) pada 1983 dengan luas konsesi 108.009 hektare. Berau Coal merupakan obyek vital nasional yang berkontribusi dalam ketahanan energi nasional.

Pada 1995, Berau Coal memulai produksi di site Lati. Tahun berikutnya di Binungan, pada 2000 di Sambarata, dan 2019 di Gurimbang. Di Lati, Berau Coal meraih penghargaan peringkat hijau pada 2018, 2019, dan 2020. Penghargaan tersebut adalah pengelolaan lingkungan pertambangan mineral dan batu bara dengan peringkat aditama.

Pada 2019, Berau Coal meraih juara kedua kategori CSR Asean Energy Awards 2019 bertajuk Resettlement Program for Punan Basap Tribe as Part of the Empowerment’. Pada 2020, perusahaan tersebut mendapatkan Gold Winner PR Indonesia Award 2020 Community Base Development. (*)

Editor: Surya Aditya

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar