Pariwara

Bupati Berau Tinjau Ruang Isolasi Covid-19, RSUD dr Abdul Rivai Kewalahan Tampung Pasien

person access_time 4 days ago remove_red_eyeDikunjungi 166 Kali
Bupati Berau Tinjau Ruang Isolasi Covid-19, RSUD dr Abdul Rivai Kewalahan Tampung Pasien

Bupati Berau, Sri Juniarsih, meninjau RSUD dr Abdul Rivai. (istimewa)

Bupati Berau, Sri Juniarsih, meninjau langsung ruang isolasi RSUD Abdul Rivai pada Minggu, 18 Juli 2021.

Ditulis Oleh: PARIWARA
21 Juli 2021

kaltimkece.id Pasien Covid-19 yang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Abdul Rivai, Kabupaten Berau terus meningkat. Hal tersebut membuat Bupati Berau, Sri Juniarsih meninjau langsung ruang isolasi RSUD Abdul Rivai pada Minggu, 18 Juli 2021.

Kedatangan Bupati bertujuan memastikan pelayanan berjalan optimal. Sekaligus mendengar kendala tenaga kesehatan selama bertugas. Bupati juga memanfaatkan momen tersebut memberikan bantuan kepada nakes.

Setelah melihat langsung kondisi di dalam RSUD, menurut Sri, kondisinya sangat memprihatinkan. Banyak tenaga kesehatan mulai terpapar. Banyaknya pasien juga membuat fasilitas kurang memadai.

“Ini menjadi pertimbangan kami dan ke depan. Akan kami tindak lanjuti untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk,” bebernya.

Orang nomor satu di Berau itu menuturkan, RSUD saat ini sudah kelebihan kapasitas. Maka dari itu, pihaknya mencoba mengalihkan pasien ke rumah sakit darurat (RSD) di eks Hotel Cantika meskipun fasilitasnya juga belum memadai

“Fasilitas di RSD terus terang sangat terbatas karena ini sebenarnya diperuntukkan pasien dengan kondisi sedang. Tetapi kalau yang masih level berat dan perlu penanganan segera harus di RSUD. Kami akan tindak lanjuti segala yang terbatas dan menjadi kendala,” tegasnya.

Sementara itu, Dokter Spesialis Paru-paru RSUD dr Abdul Rivai, Robert Christian Naiborhu, mengungkapkan bahwa kondisi rumah sakit saat ini sangat berbeda. Pasien masuk rumah sakit kebanyakan mengalami gejala berat. Nakes pun harus bekerja ekstra.

“Kalau yang sebelum-sebelumnya itu banyak gejala sedang dan ringan,” ungkap Robert.

Saat ini, pasien banyak disertai komorbid dengan tingkat keparahan tinggi. Ketersediaan alat bantu napas HFNC juga masih terbatas. Tidak sebanding pasien yang ada. Rumah sakit pun terpaksa harus menentukan lagi pasien mana perlu diprioritaskan menerima alat tersebut.

“Pertimbangan tergantung keadaan. Semisal pasien masuk 10 sedangkan alat tersisa dua, saya menentukan mana pasien yang tingkat keselamatannya masih tinggi, itu yang bisa kami perjuangkan,” jelasnya.

Rumah sakit saat ini menghadapi kendala kompleks. Pasien bertambah banyak dan cepat. Ruang rawat inap semakin sempit dan sedikit. Tingkat keparahan yang tinggi juga menyebabkan waktu rawat semakin lama.

“Kalau fasilitas kita mau memperbanyak tetapi kita juga memikirkan yang lain. Contohnya kalau kita melengkapi dengan alat yang membutuhkan oksigen besar, tentu kapasitas oksigen juga harus ditingkatkan. Nah, itu memang membelinya kita mampu, tapi menyanggupi kebutuhan hariannya menjadi sulit,” pungkasnya. (*)

 

Editor: Bobby Lolowang

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar