Pariwara

Desa Keraitan: Direlokasi karena Batu Bara, Terisolasi karena Hujan

person access_time 1 year ago remove_red_eyeDikunjungi 1391 Kali
Desa Keraitan: Direlokasi karena Batu Bara, Terisolasi karena Hujan

Foto: kaltimkece.id

Bupati Kutai Timur mendatangi permukiman hasil resettlement PT Kaltim Prima Coal. Masih memerlukan akses yang lebih baik.

Ditulis Oleh: Fachrizal Muliawan
22 September 2018

kaltimkece.id Bunyi hujan di atas genting masih terdengar ketika Bupati Kutai Timur Ismunandar tiba di Kampung Budaya, Desa Keraitan, Kecamatan Bengalon. Mengelilingi kampung untuk sejenak, Bupati kemudian menuju SD 013 Filial. Kehadirannya disambut keceriaan murid sekolah yang berseragam batik ungu dengan motif kotak-kotak. 

Pekan pertama September 2018, Bupati menyinggahi Desa Keraitan dalam rangkaian safari dinasnya. Permukiman ini dihuni sekitar 80 kepala keluarga dan berdiri 4 kilometer dari pusat kecamatan. Biarpun dekat, perlu satu jam memangsa waktu untuk melewati jalur tersebut. Pada saat rombongan bupati datang, jalan tanah selebar 2,5 meter telah berubah menjadi lumpur. Hanya mobil berpenggerak empat roda yang bisa lolos. Itu pun mesti dikemudikan oleh sopir gaek. 

Di sekolah filial, Ismunandar menerima berbagai penjelasan. SD 013 Filial yang berinduk kepada SD 013 Bengalon memiliki enam kelas. Gedung sekolah dibangun PT Kaltim Prima Coal atau KPC. Sedangkan manajemen sekolah ditunjuk oleh Poetra Sampoerna Foundation. Sekolah ini memang didirikan atas kerja sama perusahaan dan yayasan tersebut. Ada enam tenaga pengajar yang bertugas mengampu enam kelas. Namun sebagian guru, termasuk kepala sekolah, masih berstatus tenaga bantu dari SD induk. 

Baca juga:
 

Kepada Bupati, Acting Manager Bengalon Community Relation and Development PT KPC, Denny Pratama, melanjutkan penjelasannya. SD 013 Filial adalah sekolah berbasis budaya. Sekolah ini berdiri di permukiman suku Dayak Basap yang didampingi perusahaan. “Kami ingin transformasi (budaya) dari para tetua ke generasi muda tak hanya turun-temurun. Transformasi bisa lebih formal lewat kegiatan ekstrakurikuler sekolah,” jelas Denny. 

Bupati Ismunandar mencatat berbagai keterangan tersebut. Senyampang itu, dia melihat kondisi ruang kelas berikut perpustakaan sekolah. Di sela-sela kunjungan, Bupati berusia 58 tahun itu bercakap-cakap dengan beberapa murid. 

Pulau di Dalam Pulau

Kampung Budaya di Desa Keraitan mulai dihuni pada 2012. Sebagian besar penduduk adalah suku Dayak Basap yang berkali-kali “terpaksa” bermigrasi. Pada awalnya, penduduk Desa Keraitan menetap di Dusun Bajang Tidung dan Keraitan Lama, masih di Kecamatan Bengalon. Warga Basap mulai dipindahkan ketika pemekaran Desa Sepaso dan pembentukan Desa Keraitan. Mereka mendiami Dusun Segading di Desa Keraitan, sebagaimana ditulis Nurul Elmiyah dalam jurnal Universitas Indonesia berjudul Ketidakberdayaan Masyarakat Adat di Bidang Pertambangan pada Suku Dayak Basap di Kecamatan Bengalon dan Sangkulirang, Kutai Timur (2011, hlm 64). 

Ketika berdiam di Dusun Segading Lama, permukiman warga lagi-lagi digeser. Relokasi bermula setelah kandungan batu bara berkualitas tinggi ditemukan di bawah permukiman. PT KPC selaku pemegang konsesi pertambangan lantas mencanangkan program resettlement yang dimulai pada 2012. 

Kedatangan Bupati Ismunandar sejatinya untuk melihat program resettlement yang telah berusia enam tahun tersebut. Salah satu kriteria keberhasilan resettlement, kata Ismunandar, adalah fasilitas umum di lokasi yang baru harus lebih baik dibanding permukiman lama. Dari kunjungan tersebut, Bupati menyimpulkan kondisi sekolah dan permukiman penduduk sudah lebih bagus. 

Dalam program relokasi, PT KPC membangun rumah kayu ulin untuk warga yang dilengkapi sambungan air bersih dan listrik. Pada dua tahun pertama, fasilitas itu digratiskan bagi warga. Demikian halnya biaya hidup, ditanggung PT KPC. Selain itu, setiap kepala keluarga juga diberi lahan seluas 2 hektare. Kebun dikembangkan untuk budi daya ikan dan kebun karet (Sebanyak 57 KK Suku Basap Dapat Rumah Bantuan KPC, Antara, 2014).

“Tinggal akses menuju desa yang masih bermasalah,” jelas Ismunandar. Dia bersyukur tiba di Desa Keraitan di bawah guyuran hujan. Kondisi jalan menuju desa dapat diketahui dengan nyata. Ketika hujan, transportasi warga seperti lumpuh total. “Area ini ibarat pulau yang terisolasi,” tutur Ismunandar, bertamsil. 

Permasalahan yang masih dihadapi Suku Dayak Basap di Desa Keraitan menginspirasi Ismunandar untuk mengangkatnya sebagai disertasi. Bupati mengatakan, problem desa harus dicarikan solusi mengingat Dayak Basap adalah masyarakat khas di Kutim. Dia lantas meminta izin kepada warga Desa Keraitan untuk memulai penelitian doktoralnya. “Mungkin, saya menginap beberapa hari di sini,” pinta Ismunandar. 

Mewakili PT KPC, Denny Pratama mengakui bahwa kendala infrastruktur desa telah dibahas jauh-jauh hari. Sebagai langkah konkret, perusahaan segera membangun jalan cor beton sepanjang 1,2 kilometer. Pekerjaan tahap pertama itu mengambil lokasi di titik-titik terparah saat hujan. (*)

Editor: Fel GM

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar