Pariwara

Hetifah Memetakan Persoalan Kaltim selama Pandemi, Dana BOS untuk Belajar Online

person access_time 2 weeks ago remove_red_eyeDikunjungi 301 Kali
Hetifah Memetakan Persoalan Kaltim selama Pandemi, Dana BOS untuk Belajar Online

Salah satu kegiatan Hetifah selama pandemi. (istimewa)

Kuota internet menjadi satu persoalan yang banyak dikeluhkan selama penerapan belajar dari rumah.

Ditulis Oleh: PARIWARA
18 Juni 2020

kaltimkece.id Hetifah Sjaifudian merupakan wakil Kaltim di Senayan yang rajin kembali ke daerah menyerap aspirasi. Semasa pandemi, praktis kebiasaan itu harus tertunda demi memutus penyebaran virus corona.

Namun demikian, Hetifah tetap menjalankan tugasnya tersebut dengan memanfaatkan teknologi. Menyerap aspirasi dari konstituen maupun mitra kerja secara daring. Bagaimana implementasinya selama pandemi, berikutnya wawancaranya yang kami saring dalam tulisan tanya jawab.

 

Bagaimana pantauan tentang penanganan pandemi di dapil Anda (Kalimantan Timur)?

Hingga hari ini saya pantau melalui data dari Pemprov Kaltim, per 14 Juni kemarin terdapat 11.438 ODP dan 378 kasus positif. Dari total tersebut, yang sembuh sebesar 261 kasus, yang meninggal sebanyak 4 kasus, dan yang masih dalam perawatan sebesar 113 kasus.

Untuk zona sendiri, di Kaltim terdapat 3 zona merah yaitu Samarinda, Balikpapan, dan Kutai Barat. Sedangkan zona kuning ada Paser, Berau, Kutai Kartanegara, Bontang, Penajam Paser Utara, dan Kutai Timur. Sementara yang tergolong zona hijau hanyalah Kabupaten Mahakam Ulu.

Sebagian pemda sudah menjalankan protokol dengan ketat, sebagai contoh di Balikpapan yang merupakan kota teramai, pemerintahnya cukup tegas. Untuk pendatang harus memiliki surat keterangan negatif Covid-19 dengan PCR atau TCM dari rumah sakit yang terdaftar Kemenkes.

Mereka juga rutin memberikan imbauan kepada warga terkait protokol kesehatan. Namun demikian melihat keberjalanan di lapangan kesadaran masyarakat dan pengawasan dari pemerintah masih harus ditingkatkan. Sebagai contoh, banyak masyarakat yang belum memiliki kesadaran yang tinggi dan tetap keluar rumah tanpa protokol kesehatan yang ketat. Ini merupakan PR kita bersama.

 

Sebagai wakil ketua komisi X DPR RI yang membawahi bidang pendidikan, bagaimana pantauan Ibu mengenai kegiatan belajar mengajar di Kalimantan Timur?

Dari berbagai diskusi dan pertemuan yang telah dilakukan beberapa bulan kemarin dengan berbagai stakeholder di Kalimantan Timur, terdapat beberapa permasalahan pokok yang menjadi evaluasi PJJ beberapa bulan kemarin, antara lain masih sulitnya akses telekomunikasi di berbagai daerah di Kaltim, tingginya biaya kuota internet, keterbatasan gadget di rumah, minimnya kemampuan orangtua dalam melakukan pendampingan, serta perbedaan kesiapan pengajar dalam melakukan pendidikan jarak jauh.

Masalah-masalah ini tentu harus kita carikan bersama solusinya. Ke depannya, kami di DPR mendorong kebijakan-kebijakan yang berfokus untuk meningkatkan keberjalanan pendidikan jarak jauh. Antara lain percepatan pembangunan infrastruktur telekomunikasi, peningkatan kapasitas guru secara digital, pengarusutamaan pendidikan parenting, serta peningkatan kualitas platform pendidikan daring.

Di sisi lain, terdapat juga beberapa fenomena baru yang dapat diamnfaatkan menjadi peluang, antara lain maraknya sharing session yang terjadi antar-guru dan komunitas pendidikan, peningkatan literasi digital yang begitu signifikan bagi guru, orangtua murid, dan siswa, juga proses pendidikan yang lebih banyak mengeksplorasi materi-materi diluar buku paket. Hal-hal ini dapat menjadi modal awal bagi kita untuk mentransformasi sistem pendidikan nasional.

 

Apa saja bantuan yang diberikan Ibu sebagai anggota dewan terhadap masyarakat Kaltim di masa pandemi?

Beberapa program aspirasi yang telah kami dari Komisi X laksanakan untuk Kalimantan Timur antara lain adalah pemberian APD lengkap dan reagent PCR. Pada pengiriman pertama sendiri APD yang telah diterima untuk Kaltim totalnya sebanyak 11.460, yang terdiri dari 960 baju hamzat, 500 pasang sepatu boots, serta 10.000 masker.

Untuk pengiriman kedua terdapat 3.000 APD yang tersebar di 11 rumah sakit di Kaltim, yang terdiri dari 750 baju hamzat, 750 sarung tangan, 750 sepatu boots, dan 750 masker N95.

Terkait pendidikan, terdapat Beasiswa Program Indonesia Pintar (PIP) yang sudah disalurkan ke Kalimantan Timur. Siswa yang telah menerima manfaat untuk tingkat sekolah dasar sebanyak 56.003 orang, SMP sebanyak 23.621 orang, SMA sebanyak 7.396 orang, dan SMK sebanyak 9.887 orang. Untuk mahasiswa Kaltim, kami telah memberikan Beasiswa KIP Kuliah kepada sebanyak 1000 mahasiswa di semester 1 dan semester 3.

Selain itu, terdapat juga beberapa program lainnya yang telah dan akan kita lakukan untuk Kaltim, antara lain Bantuan operasional relawan Covid-19, Bantuan sarana prasarana pendidikan terkait TIK untuk Sekolah Dasar, dan Bantuan Akses permodalan untuk pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif terdampak.

 

Selain bantuan sosial, apa peran lainnya sebagai anggota dewan yang telah Ibu laksanakan selama masa pandemi ini?

Terdapat beberapa hal yang telah kami lakukan dalam menjalankan peran sebagai wakil rakyat. Pertama, memastikan penyesuaian kebijakan dan anggaran agar sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi masyarakat di Indonesia pada umumnya, dan mengakomodasi kebutuhan dapil pada khususnya.

Sebagai contoh, di saat masyarakat mengeluhkan kesulitan biaya kuota, kami mengusulkan kepada Kemendikbud untuk menggagas program-program yang menyelesaikan masalah ini, seperti kerjasama dengan provider, dan pemberian izin penggunaan dana BOS untuk kuota. Lalu juga adanya realokasi anggaran yang dilakukan untuk penanggulangan Covid-19.

Di Kemendikbud sendiri misalnya terdapat pemotongan sebesar Rp5 triliun, dan disalurkan untuk berbagai program seperti peningkatan kapasitas RS pendidikan, dan penggerakan relawan Covid-19.

Kedua, memastikan aspirasi mereka yang paling terdampak bisa didengar dan dijadikan bahan pembuatan kebijakan. Sebagai contoh, terdapat kelompok masyarakat yang tidak memiliki akses terhadap internet, maka dari kami mengusulkan penggunaan TVRI dan RRI sebagai salah satu solusi, mengingat akses terhadap TVRI dan RRI cukup luas di masyarakat.

Ketiga, membuat gerakan-gerakan sosial yang nyata di daerah pemilihan, selain yang telah disebutkan diatas. Sebagai contoh, pembagian nasi bungkus untuk korban banjir di Samarinda. Rencananya, kami juga akan membagikan balasa (beras lauk pauk siap saji) sebanyak 9800 paket ke Kaltim.

Keempat, berbagi info dan gagasan dengan stakeholder melalui puluhan webinar. Dengan begitu, komunikasi terjadi secara dua arah. Kami dapat menjaring aspirasi dari para konstituen di Kaltim sebagai bahan pembuatan kebijakan, dan mereka mendapatkan info terkini mengenai kebijakan dan program dari pemerintah pusat.

Terakhir dan yang tidak kalah penting, kami harus menjadi role model dengan mencontohkan perilaku tertib dan patuh pada imbauan pemerintah, yang diharapkan dapat ditiru oleh masyarakat.

 

Apa pesan-pesan Ibu terhadap Masyarakat Kaltim di Era New Normal?

Saya harap masyarakat Kaltim tetap waspada dan tidak menjadikan New Normal ini seakan-akan pandemi sudah berakhir, karena virusnya masih ada. Berdasarkan pantauan lapangan sebagian besar masyarakat terlihat sudah beraktivitas seperti biasa saja.

Ada yang pakai masker namun banyak yang belum mematuhi protokol kesehatan, misalkan anak-anak muda yang nongkrong tidak pakai masker dan menjaga jarak. Kita semua harus sama-sama saling mengingatkan dan jangan bosan-bosan menyampaikan kepada keluarga, teman, dan lingkungan sekitar.

Masa-masa ini memang masa-masa yang berat bagi kita semua. Namun demikian dengan bekerja sama dan saling bergandengan tangan saya yakin kita akan mampu melewati masa-masa sulit ini dengan baik. (*)

 

Ikuti berita-berita berkualitas dari kaltimkece.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar