Pariwara

Penghasilan Warga Kukar dari Mengolah Sampah Organik, Setara Empat Kali Lipat UMP Kaltim

person access_time 1 month ago remove_red_eyeDikunjungi 2287 Kali
Penghasilan Warga Kukar dari Mengolah Sampah Organik, Setara Empat Kali Lipat UMP Kaltim

Warga Kukar mengemas pupuk kompos. (foto: aldi budiaris/kaltimkece.id)

Sudah belasan tahun, warga Kukar ini menjadi pembuat pupuk dan pestisida organik. Hasilnya tak main-main, belasan juta rupiah dalam sebulan.

Ditulis Oleh: Aldi Budiaris
09 Oktober 2021

kaltimkece.id Hampir setiap hari, Dasri Sumari, 47 tahun, bersama putranya, Ali Sodikin, 16 tahun, menyusuri permukiman di tempat tinggalnya di Desa Manunggal Jaya, Tenggarong Seberang, Kutai Kartanegara. Mereka mencari daun-daun dan tetumbuhan berbagai jenis, baik yang sudah layu maupun masih segar. Kotoran-kotoran hewan ternak turut mereka kumpulkan.

Sabtu siang, 9 Oktober 2021, di perkarangan rumahnya, Dasri dan Ali mengolah sampah-sampah organik tersebut menjadi pupuk organik seperti tricoderma kompos dan pupuk cair mikro organisme lokal (MOL). Pestisida alami untuk menangkal hama, juga mereka buat. Dalam sebulan, Dasri mengaku bisa memproduksi 1 ton tricoderma kompos.

_____________________________________________________PARIWARA

Setelah dikemas, barang-barang tersebut siap dijual. Selain Kukar, mereka juga memasarkan produk-produknya ke kelompok tani dan perusahaan pertanian swasta di Kutai Timur hingga Kutai Barat. Dinas Pertanian Kaltim menjadi pelanggan tetapnya. Setiap bulan, dinas tersebut memasan 200 kemasan pestisida alami milik Dasri. Produk tersebut dibagikan Dinas Pertanian ke sejumlah petani di Kaltim.

“Dari hasil membuat pupuk dan pestisida alami ini, kami bisa mendapatkan keuntungan sekitar Rp 12 juta dalam sebulan,” kata Dasri kepada kaltimkece.id. Penghasilan tersebut setara empat kali lipatnya upah minimum provinsi Kaltim. UMP Kaltim tahun ini adalah Rp 2.981.378.

Seruan Membuat Produk Organik

Dasri menceritakan awal mulanya menjadi pembuat pupuk dan pestisida alami. Sebermula pada 2012, bapak dua anak itu mengikuti pelatihan hortikultura yang diprakarsai Unit Pelaksana Teknis Dinas Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Kaltim. Pelatihan ini juga bertujuan membentuk kelompok pelaksana pengembang agens hayati (PPAH). Dari pelatihan inilah Dasri mendapatkan ilmu membuat pupuk dan pestisida organik. Ilmu tersebut kemudian diimplementasikannya menjadi usaha tetap.

Pada tahun yang sama, Dasri menjadi kader PPAH dan membentuk kelompok tani bernama Toga Lestari. Saat ini, kelompok tersebut memiliki anggota 25 petani. Dasri menjelaskan tugas pokok Toga Lestari. "Tugas utamanya, menyosialisasikan pupuk dan pestida untuk pertanian organik,” jelasnya.

Berkat sosialisasi dan mengembangkan pertanian organik, Dasri dan kelompok taninya mendapat dua penghargaan. Pertama pada 2015, ia mendapat penghargaan dari Kementerian Pertanian. Penghargaan yang kedua didapat dari Gubernur Kaltim, Awang Faroek Ishak, ketika masih menjabat.

Dasri pun mengajak seluruh masyarakat untuk membuat pupuk dan pestisida alami. Selain menjanjikan keuntungan yang cukup besar, membuat produk-produk tersebut juga mudah. Bahan-bahan dasar membuat pupuk dan pestisida alami, sebutnya, bisa ditemukan di mana saja. Adapun bahan-bahannya, seperti daun pepaya, brotowali, bawang putih, mimba, kipait, saliara, suren, dan jarak pagar.

Dia pun meminta masyarakat tidak menggunakan pupuk dan pestisida berbahan kimia. Walaupun hasilnya lebih baik, namun tanaman dari pupuk dan pestisida berbahan kimia bisa menyebabkan gangguan kesehatan jika dikonsumsi terus-terusan. “Bila yang alami lebih murah dan aman, kenapa harus menggunakan bahan kimia yang berbahaya dan mahal,” ujarnya.

_____________________________________________________INFOGRAFIK

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kukar, Sutikno, mengatakan, sosialisasi dan pengembangan pertanian organik yang dilakukan Dasri bersama kelompoknya adalah upaya yang sangat baik. Dia pun berharap, para pemuda Kukar ikut bergelut dalam usaha tani dan mendukung produk-produk organik.

Sutikno menyebut, pengunaan pupuk dan pestisida berbahan kimia masih banyak. Pasalnya, efektivitas produk pertanian berbahan kimia dinilai lebih unggul. “Tapi, bagi kesehatan konsumen, produk berbahan kimia sangat berbahaya,” ucapnya.

Selaian membahayakan kesehatan, tambahnya, produk berbahan kimia juga bisa merusak lingkungan. Penggunaan produk pertanian berbahan kimia dalam jangka panjang, diyakini dapat mengubah unsur hara tanah. Dengan begitu, produktivitas lahan ikut menurun. “Kami tidak melarang. Tapi, lebih baik meminimalisasi bahan kimia berlebih,” seru Sutikno.

Wakil Ketua l DPRD Kukar, Alif Turiadi, mengapresiasi kinerja Dasri dan Toga Lestari dalam mengembangkan dan menyosialisasikan pertanian organik. Menurut Alif, apa yang dilakukan Dasri dan Toga Lestari itu dapat memberikan dampak postif bagi keberlangsungan hidup.

“Bukan hanya membantu melestarikan lingkungan, mereka juga menjaga kesehatan masyarakat,” kunci politikus dari Partai Gerakan Indonesia Raya itu. (*)

Editor: Surya Aditya

shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar