Gaya Hidup

Gegap Gempita K-Pop di Big Mall Samarinda dan Sejarah Perlawanan Musisi Korsel

person access_time 1 year ago remove_red_eyeDikunjungi 6974 Kali
Gegap Gempita K-Pop di Big Mall Samarinda dan Sejarah Perlawanan Musisi Korsel

Dance cover K-pop bertajuk Wfesta 2020 di Big Mall, Samarinda, Sabtu, 1 Februari 2020 (Mustika Indah Khairina/kaltimkece.id)

Industri K-pop yang sudah mewabah di Indonesia dan Kaltim adalah sebuah contoh. Betapa dalam situasi apapun, kreativitas tak akan bisa dikekang.

Ditulis Oleh: Mustika Indah Khairina
06 Februari 2020

kaltimkece.id Sudah hampir pukul tujuh malam. Atrium Big Mall di Jalan Untung Suropati, Samarinda, sudah dipenuhi ratusan orang. Mereka adalah penonton yang menantikan dance cover K-pop bertajuk Wfesta 2020, sebuah kompetisi tari yang diiringi musik populer dari Korea Selatan. 

Sabtu, 1 Februari 2020, peserta yang sudah bersiap di belakang panggung segera keluar. Mereka mengenakan berbagai busana desain pribadi. Macam-macam warnanya. Sepenjuru atrium pun gegap gempita ketika tim pertama tampil mengcover Feel Special milik grup Kpop, Twice. Semua peserta hafal lirik dan gerak lagu berbahasa Korea tersebut.

Malam minggu di Big Mall merangkak gembira dengan penampilan grup-grup berikutnya. Total, ada 20 tim yang mengikuti festival ini.  Pemenangnya adalah Skylar, sebuah grup dari Ruby Entertainment. 

Defa Saputra Pratama adalah mahasiswa semester akhir di Universitas Mulawarwan yang sudah mengenal K-pop sejak sekolah dasar. Ia adalah anggota Skylar, pemenang festival tersebut. 

Kepada kaltimkece.id, Defa mengatakan bahwa perkembangan K-pop di Samarinda dan Kaltim seturut dengan masuknya drama Korea. Lambat laun, semakin banyak muda-mudi yang menyukai musik latar drama. Grup-grup yang menyanyikannya pun mulai dilirik.  

"Sekarang sudah banyak yang mengadakan konser di Indonesia. Bikin komunitas penggemar K-pop juga gampang, hanya bermodalkan media sosial, sudah bisa," terangnya.

Bagi Defa, K-pop tak ubahnya seperti sepak bola. Dua-duanya adalah wadah penyaluran hobi. Bedanya, komunitas K-pop berkata “Yuk, nge-dance” alih-alih “Yuk, futsal.”

K-pop juga membawa dampak positif. Banyak artis K-pop bergerak di aktivitas-aktivitas sosial. Kampanye positif seperti gerakan Love Yourself atau cinta diri sendiri, cinta lingkungan, dan seterusnya, tumbuh di mana-mana. 

“Jadi tidak melulu cewek dan cowok ganteng yang menari. Tentu saja, ini tidak lepas dari sejarah K-pop itu, yakni sebuah perlawanan," kata Defa. 

Awal Mula K-Pop

Ada ‘Asianisasi’ balik gegap-gempita K-pop yang tengah menguasai dunia permusikan sekarang ini. Asianisasi didefinisika Ariel Heryanto dalam Identitas dan Kenikmatan (2015) sebagai fenomena pergeseran sosial dan kultural. Kiblat konsumsi budaya populer sekarang tidak hanya bertumpu kepada produk-produk Barat. Budaya Asia pun mulai merasuk ke relung pikiran penikmat musik Tanah Air (hlm 248). 

Industri pop Korea Selatan jelas telah mengubah lansekap budaya yang populer di Indonesia. K-pop telah menggeser One Direction atau Justin Bieber dari sebagian besar kepala anak muda. BTS, Blackpink, Gfriend, dan NCT, hadir sebagai gantinya.

Industri K-pop yang gilang-gemilang itu, sesungguhnya berawal dari perlawanan pemuda terhadap pemerintah Korsel. Sebelum 1990-an, pemerintah Negeri Ginseng gemar mempolitisasi musik. Korsel adalah negara yang terbentuk dari dampak Perang Dunia II. Negara ini sebelumnya di bawah penjajahan Jepang. Pada masa penjajahan, generasi muda Korsel menikmati musik yang diimpor dari Jepang bernama kayo. Genre ini adalah gabungan jazz, blues, pop, dan rock, yang sebenarnya berasal dari Eropa dan Amerika Serikat (K-pop in Korea: how the pop music industry is changing a post-developmental society, 2014, hlm 75). 

Memasuki masa kemerdekaan, pemerintah menetapkan kebijakan untuk mengenyahkan kayo dan segala unsur Barat dan Jepang. Namun, sebagian generasi muda Korsel tetap menggemari budaya luar. Pemerintah lantas memberlakukan sensor ketat serta membatasi peredaran lagu-lagu berunsur Barat dan Jepang. 

Musisi Korsel yang ingin mengembangkan kayo semakin terimpit. Pada masa Korsel dipimpin orang berlatar belakang militer, pemerintah yang otoriter mengawasi siaran radio dan televisi. Pembajakan pun merajalela. Para musisi terpaksa menyogok stasiun TV untuk mendapatkan jam tayang. Para penyanyi kayo ini umumnya dari kaum miskin. Mereka hidup dalam dunia hiburan yang sarat suap dan skandal.

K-Pop, Sebuah Perlawanan

Memasuki dekade 1990-an, Korsel yang otoriter menjadi lebih demokratis. Kehadiran grup trio Seo Taiji and the Boys pada 1992 menjadi titik awalnya. Mereka menyuguhkan musik yang tidak terdengar seperti kayo. Tarian adalah bagian yang penting dari pertunjukan. Aliran musik grup ini membaurkan rap dan hiphop dari Amerika Serikat. Inilah permulaan aliran musik yang sekarang dikenal sebagai K-pop (What Is the K in K-pop? South Korean Popular Music, the Culture Industry, and National Identity, 2012, hlm 349).

Suatu waktu, Seo Taiji and The Boys menulis lagu berjudul Regret The Times. Lagu ini, seperti karya-karya mereka yang lain,  tidak berisi kesedihan atau percintaan. Lagu-lagu mereka mewakili pikiran dan emosi remaja. Mulai kritikan atas sistem pendidikan, mengejek keangkuhan orang dewasa, hingga keinginan rakyat menyatukan dua Korea.

Sebelum Regret The Times dirilis, pemerintah rupanya memaksa lirik tersebut diganti. Kebijakan itu mengundang protes keras dari para fans. Derasnya kritik akhirnya membuat pemerintah menghapus aturan sensor pada 1995 (Hybridity and the rise of Korean popular culture in Asia, 2006, hlm 36). Sejak saat itu, pemimpin grup yang bernama Seo Taiji dinobatkan sebagai ‘Presiden Budaya’ karena telah memelopori kesadaran sosial melalui K-pop.

Semakin Mendunia

Sosiolog Ingyu Oh dari Universitas Korea dan Hyo-Jung Lee dari Universitas Yonsei mempelajari popularitas K-pop. Matinya televisi secara bertahap di tangan YouTube dan media sosial adalah kunci terpenting dari penyebaran virus K-pop. Pemerintah tidak bisa melarang ataupun menyensor seperti dulu.

Seiring perkembangan industri drama dan film, ketenaran Kpop dan produk-produk hiburan Korsel pun melejit. Yang terjadi malah pemerintah yang dulunya alergi dengan kayo dan K-pop, kini mendukung habis-habisan. 

Dalam 25 tahun terakhir, dukungan pemerintah Korsel kepada industri kreatif sangat terasa. Di bawah arahan Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata, K-pop telah menjadi instrumen penggerak pertumbuhan ekonomi Korsel. Dukungan itu nampak dari suntikan dana Rp 3,7 triliun pada 2013. Anggaran segede itu untuk mempromosikan hallyu dan hangul (alfabet Korea), budaya tradisional, dan tempat pariwisata yang menjadi latar di drama-drama Korea (hlm 110). 

Seluruh upaya itu berhasil membuat demam drama Korea dan K-pop mewabah di seluruh dunia. Indonesia, termasuk Kaltim, termasuk Samarinda, adalah salah satunya. (*) 

Editor: Fel GM 

Senarai Kepustakaan
folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar