Kesehatan

Bagaimana Vitamin D Menyelamatkan Pasien Covid-19 dari Kematian Menurut Penelitian Terbaru

person access_time 1 month ago remove_red_eyeDikunjungi 860 Kali
Bagaimana Vitamin D Menyelamatkan Pasien Covid-19 dari Kematian Menurut Penelitian Terbaru

Berjemur di bawah sinar matahari pada waktu tertentu untuk vitamin D (ilustrasi)

Penelitian terbaru membuktikan vitamin D mampu menyelamatkan pasien positif Covid-19. Risiko meninggal lebih kecil bagi pasien dengan vitamin D yang cukup.

Ditulis Oleh: Fel GM
27 September 2020

kaltimkece.id Berjemur di bawah sinar matahari pada waktu yang tepat pada masa pandemi terbukti banyak manfaatnya. Sejumlah penelitian menemukan hubungan antara vitamin D dengan infeksi Covid-19. Orang dengan kadar vitamin D yang cukup di dalam tubuh lebih kecil berisiko meninggal dunia ketika terinfeksi SARS-Cov-2. 

Sebelum membahas bagaimana vitamin D bisa menyelamatkan nyawa pasien Covid-19, perlu dipahami dahulu metabolismenya. Vitamin D hanya diperoleh dari dua sumber yaitu sinar matahari dan asupan makanan termasuk suplemen. Perbedaan dari kedua sumber itu adalah vitamin D dari sinar matahari dua kali lebih lama bertahan di dalam darah dibandingkan vitamin D dari makanan. Akan tetapi, sinar matahari harus diproses lebih panjang oleh tubuh agar vitamin D bisa digunakan. 

Kulit manusia telah diciptakan dengan kemampuan istimewa. Permukaan tubuh mampu menyerap sinar matahari dalam bentuk previtamin D3 yang diubah menjadi vitamin D3 atau disebut kolekalsiferol. Vitamin D3 ini kelak membantu tubuh menyerap kalsium dan fosfor untuk menjaga kesehatan dan kepadatan tulang. Namun sebelumnya, vitamin D3 harus diangkut oleh protein ke hati dan diubah menjadi 25-hidroksivitamin D (25OHD) atau disebut kalsidiol (The Implications of Vitamin D Deficiency on Covid-19 for at-risk Populations, Jurnal, 2020). 

Senyawa kimia kalsidiol adalah “tabungan" vitamin D yang belum bisa dipakai tubuh karena belum aktif. Simpanan di dalam peredaran darah ini akan dibawa ke ginjal dan diubah menjadi senyawa 1,25-dihidroksivitamin D atau kalsitriol. Kalsitriol adalah golongan hormon yang sudah aktif atas bantuan enzim. Hormon kalsitriol inilah yang bertanggung jawab menyerap kalsium dan fosfor di dalam saluran pencernaan yang disebut fungsi kalsemik. 

Ada lagi peran utama vitamin D selain fungsi kalsemik untuk kesehatan tulang. Vitamin D memiliki fungsi nonkalsemik yang terdiri dari memperkuat sistem imun, memproduksi insulin --berhubungan dengan gula darah--, memperkuat fungsi jantung, serta mengatur tekanan darah.

Hasil Penelitian 

Memperkuat sistem imun adalah fungsi vitamin D yang berhubungan dengan infeksi virus termasuk Covid-19. Para peneliti telah mengetahui bahwa vitamin D dapat memengaruhi kekebalan tubuh terhadap infeksi virus. Sebelum virus corona, vitamin D diyakini mampu meringankan dampak berbahaya dari influenza (flu musiman), flu biasa, dan HIV.

Studi yang memperkuat hipotesis tersebut dipublikasikan Fakultas Kedokteran Universitas Boston dan Studi Medis Universitas Tehran. Peneliti mengambil sampel darah dari 235 pasien di Rumah Sakit Sina di Teheran, Iran, yang terinfeksi virus corona. Mereka menganalisis darah untuk mengetahui kadar vitamin D, tanda peradangan, serta sel darah putih yang membantu melawan infeksi (There's Even More Evidence that Getting Enough Vitamin D Could Reduce the Risk of Severe Coronavirus Infections, artikel, 2020). 

Penelitian menemukan bahwa pasien dengan kadar vitamin D yang cukup cenderung tidak mengalami infeksi parah dan kesulitan bernapas. Kelompok tersebut juga kurang berisiko menderita badai sitokin, sebuah situasi ketika sistem kekebalan tubuh bereaksi secara berlebihan sehingga memenuhi paru-paru. Kebanyakan pasien Covid-19 yang meninggal disebabkan badai sitokin yang bermuara kepada kesulitan bernapas. 

Secara keseluruhan, penelitian menyimpulkan bahwa pasien dengan vitamin D yang cukup lebih berpeluang bertahan hidup. Risiko kematian pasien di atas 40 tahun dengan vitamin D yang cukup bahkan berkurang sampai 50 persen. 

Baca juga:
 

Penelitian yang lain membandingkan konsentrasi hidroksivitamin D (25OHD) atau kalsidiol di tubuh pasien positif Covid-19 dengan yang negatif. Mereka yang positif Covid-19 ternyata memiliki kadar kalsidiol yang secara signifikan lebih rendah dibandingkan dengan kelompok negatif. Perbedaan kadar tersebut memberikan pemahaman baru terhadap pola kesembuhan pasien. 

Ada beberapa penjelasan bagaimana vitamin D membantu meringankan infeksi Covid-19. Pertama, vitamin D dapat menonaktifkan patogen virus atau, dengan kata lain, menghambat replikasi virus. Kedua, vitamin D mampu meningkatkan pertahanan sistem pernapasan. Ketiga, vitamin D menjaga fungsi kekebalan paru-paru dan sistem tubuh yang lain. Ketiga kemampuan vitamin D bisa mengurangi risiko pasien mengalami pneumonia (paru-paru basah), sepsis (komplikasi akibat infeksi), serta gangguan pernapasan akut (The Implications of Vitamin D Deficiency on Covid-19 for at-risk Populations, Jurnal, 2020). 

Masih menurut penelitian yang sama, beberapa kelompok manusia disebut rentan kekurangan vitamin D. Mereka di antaranya kelompok orang yang kelebihan berat badan dan manula berusia di atas 75 tahun. Sementara itu, menurut laporan terbaru, ras kulit gelap juga masuk kelompok rentan kekurangan vitamin D. Orang yang berkulit gelap memiliki konsentrasi kalsidiol lebih rendah karena faktor pigmentasi. Kelompok terakhir adalah mereka yang kurang terpapar sinar matahari. Kelompok ini termasuk orang-orang yang tinggal di negara empat musim, terutama pada musim dingin, maupun yang mengisolasi diri karena kebijakan karantina. 

Memperoleh Vitamin D

Sinar matahari adalah sumber utama vitamin D. Namun demikian, tubuh tidak menyerap vitamin D di setiap sang surya bersinar. Ada waktu-waktu tertentu. Pada pagi hingga petang, matahari sebenarnya memancarkan dua sinar yaitu ultraviolet A (UVA) dan B (UVB). Tubuh hanya memerlukan sinar UVB dari cahaya matahari. Sementara UVA, selain tidak dibutuhkan, seharusnya dihindari karena bisa meningkatkan risiko kulit keriput dan kanker kulit jika diserap berlebihan.

Baca juga:
 

UVA biasanya muncul pada pukul 05.30 pagi hingga 07.00 pagi. Sinar UVA dihasilkan matahari yang beranjak naik karena gelombang cahaya sedang panjang. Sinar UVB memiliki gelombang cahaya yang pendek. Sinar UVB yang baik bagi tubuh dan mengandung vitamin D ini muncul antara pukul 10.00-15.00. Tentu saja, pada waktu-waktu tersebut, sinar matahari sudah menusuk hingga ke tulang. Makanya, para ahli menyarankan, durasi berjemur cukup 5-30 menit, sedikitnya dua kali dalam sepekan. Sinar matahari tersebut minimal mengenai permukaan kulit di wajah, lengan, punggung, atau tungkai (Berbagai Manfaat Vitamin D, jurnal, 2017). 

Sinar matahari tidak merata di permukaan bumi. Itulah sebabnya, orang-orang di belahan bumi utara dan selatan seringkali kekurangan vitamin tersebut. Contohnya adalah orang-orang Eropa dan Amerika bagian utara pada saat musim dingin. Negara-negara di kawasan tersebut berupaya mencari sumber vitamin D dari makanan. Vitamin D3 ditemukan di ikan kaya minyak seperti salmon, makarel, dan hering. 

Sumber vitamin D dari makanan alami sebenarnya sedikit sekali. Amerika Serikat dan Kanada bahkan berupaya dengan menambahkan esensi vitamin D dalam beberapa produk makanan. Penambahan esensi atau disebut fortifikasi itu dilakukan kepada roti, jus jeruk, sereal, yogurt, dan keju.

Bersyukurlah kita yang tinggal di negara beriklim tropis. Sinar matahari bisa diperoleh setiap hari dan gratis. Tinggal mau berjemur sejenak atau tidak? (*)

Senarai Kepustakaan 

 

Temui kami di Instagram!

 

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar