Kesehatan

Kematian Meningkat Dua Kali Lipat, Kaltim Belum KLB DBD

person access_time 4 weeks ago remove_red_eyeDikunjungi 118 Kali
Kematian Meningkat Dua Kali Lipat, Kaltim Belum KLB DBD

Foto: Shutterstock

Sebanyak 17 jiwa meregang nyawa karena virus DBD sepanjang tahun lalu. Namun status KLB baru berlaku hanya di satu kabupaten.

Ditulis Oleh: Sapri Maulana
22 Januari 2019

kaltimkece.id Sejak Desember 2018 hingga kini, Kabupaten Paser berstatus Kejadian Luar Biasa atau KLB demam berdarah dangue atau DBD. Pada 2017 63 kasus DBD tanpa korban jiwa terungkap di Paser. Namun, pada 2018, dalam rentang waktu November—Desember terdapat 102 kasus dengan lima di antaranya meninggal dunia.

“Untuk jumlah yang meninggal itu data yang disampaikan secara lisan. Laporan resmi tertulis, tak ada korban jiwa tercatat,” kata Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan atau P2PL Dinas Kesehatan Kaltim, Soeharsono, kepada kaltimkece.id, Selasa 22 Januari 2019.

Status KLB adalah klasifikasi akan peristiwa merebaknya suatu wabah penyakit yang merujuk Peraturan Menteri Kesehatan RI 949/2004. Ada tiga situasi dijadikan acuan menetapkan status KLB.

Pertama, adanya peningkatan dua kali lipat kasus dari periode sebelumnya ke periode berjalan. Kedua, peningkatan kematian sebesar 50 persen lebih dari periode sebelumnya. Ketiga, dari tidak ada kasus atau kematian, menjadi ada kematian.

“Di Kaltim pada 2017 sekitar dua ribuan kasus. Sembilan orang meninggal. Pada 2018 terdapat 3.500 kasus dan 17 orang meninggal dunia. Untuk 2019 belum lengkap datanya,” jelas Soeharsono.

Angka kematian akibat DBD di Kaltim dari 2017—2018 mengalami peningkatan lebih dua kali lipat. Namun, provinsi ini belum menetapkan status KLB. Menurut Soeharsono, karena hanya satu dari sepuluh kabupaten/kota yang berstatus KLB.

“Aneh saja kalau kami tetapkan KLB, sedangkan sembilan kabupaten/kota lainnya tidak KLB,” kata Soeharso.

 

Cegah DBD

Mencegah DBD, Dinas Kesehatan Kaltim mengingatkan program pemberantasan sarang nyamuk atau PSN dengan cara 3M Plus. Pola ini perlu terus dilakukan sepanjang tahun, khususnya pada musim hujan. Program PSN , jelas Soeharso, dimulai dengan menguras yakni membersihkan tempat yang sering dijadikan tempat penampungan air seperti bak mandi. Demikian juga ember air, tempat penampungan air minum, penampung air lemari es, dan lain-lain.

Kedua, menutup, yaitu menutup rapat-rapat tempat-tempat penampungan air seperti drum, kendi, toren air, dan lain sebagainya. Ketiga adalah memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang memiliki potensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk penular DBD.

Selain 3 M, menaburkan bubuk larvasida di tempat penampungan air yang sulit dibersihkan juga dianjurkan. “Untuk itu kami mendistribusikan bubuk larvasida ke sejumlah daerah, termasuk ke Paser,” kata Soeharso.

Sejarah DBD, Cara Penularan, dan Ciri-ciri

Kasus pertama yang disinyalir sebagai kasus DBD ditemukan di Surabaya, Jawa Timur, pada 1968 lalu. Di Jakarta, kasus pertama dilaporkan ditemukan pada 1969. Di Kaltim sendiri, pada 2001 terdapat lima kasus dan tiga orang meninggal dunia, dilansir dari buku bertajuk Flu, HFMD, Diare pada Pelancong, Malaria, Demam Berdarah dan Tifus (2005).

Menurut buku bertajuk Demam Berdarah (2008) karya Dr Hindra I Satari, Sp.A(K), DBD disebabkan virus dengue dari famili Falviviridae dan genus Favivirus. Penyakit tersebut tidak dapat menular melalui kontak sesama manusia, hanya dapat ditularkan nyamuk.

Adapun nyamuk paling banyak menimbulkan DBD ialah Aedes aegypti subgenus Stegomyia dan Ae. albopictus, Ae polynesiensis. Sedangkan untuk Aedes aegypti, hanya betina dapat menyebarkan virus DBD.

Masih dari literasi yang sama, Aedes aegypti biasanya menularkan virus melalui gigitan pada pukul 09.00 hingga 10.00 dan 16.00 hingga 17.00. Biasanya senang menghinggapi tempat yang gelap dan lembab. Saat malam, nyamuk bersembunyi di tempat gelap dan benda-benda yang tergantung.

Ada beberapa ciri-ciri harus diwaspadai sebagai dampak DBD, dilansir dari buku Demam Berdarah (2008) karya Dr. Hindra I. Satari, Sp.A(K). Yakni demam mendadak disertai berkurangnya nafsu makan, timbul pendarahan di gigi, mulut, hidung, kulit, atau tinja. Juga demam disertai kemerahan di wajah dan leher serta muntah. Selain itu terjadi penurunan suhu tubuh secara tiba-tiba setelah beberapa waktu. Demam juga diiringi rasa gelisah, sakit perut, dan badan lemas. (*)

 

Editor: Bobby Lolowang

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar