Musik

Sang Petualang Sejati Telah Pergi, Selamat Jalan Lord Didi

person access_time 2 months ago remove_red_eyeDikunjungi 637 Kali
Sang Petualang Sejati Telah Pergi, Selamat Jalan Lord Didi

Didi Kempot tutup usia pada 5 Mei 2020. (istimewa)

Dionisius Prasetyo, nama lahir dari Didi Kempot, Selasa 5 Mei 2020  menutup mata. Serangan jantung disebut jadi penyebabnya.

Ditulis Oleh: Robithoh Johan Palupi
05 Mei 2020

kaltimkece.id Lahir dan besar di pesisir selatan Jawa Tengah, dan menjalani masa remaja pada akhir 1990-an, jelas membuat telinga tak asing dengannya. Lagu-lagu yang tiap hari diputar di semua stasiun radio, adalah pembuktian betapa dahsyatnya pengaruh Didi Kempot pada anak seumuranku.

Dionisius Prasetyo, nama lahir dari Didi Kempot, Selasa 5 Mei 2020  menutup mata. Serangan jantung disebut jadi penyebabnya. Apapun alasannya, satu yang pasti; Pakde Didi, petualanganmu telah usai.

Satu karya besar yang selalu saya ingat adalah lagunya; Sewu Kutho. Lagu yang menggambarkan bagaimana seorang Didi Kempot adalah petualang sejati. Boleh jadi, di alam bawah sadar, lagu itu juga yang menginspirasi saya untuk menjejaki langkahnya. Berpetualang.

Sewu kutho uwis tak lewati

(Seribu kota sudah kulewati)

Sewu ati tak takoni

(Seribu hati kutanya-i)

Nanging kabeh podho ra ngerteni

(Tapi semua tak ada yang mengetahui)

Lungomu nang endi

(Ke mana pergimu)

Begitu penggalan lagu yang sedikit jadi penggambaran untuk terus mencari dan mencari. Mencari apa? Kalau dalam lagu itu pencarian jawaban dari seorang kekasih yang tersakiti. Yang patah hari.

Meski bagi saya, pencarian sejati yang tergambar dalam lagu itu adalah soal jati diri.

Walau tidak bisa dinafikan, Lord Didi memberi pesan soal pencarian dan berusaha untuk terus bergerak. Untuk terus berkarya. Dan bagi seorang manusia; untuk terus mencari ridho-Nya.

Hingga wafatnya, tak terhitung oleh Sad Boy dan Sad Girl, jenama untuk mereka yang mengidolakan Didi Kempot, berapa lagu yang bisa dihapal dari karya seorang Didi. Banyak lagu yang juga memberikan impresi bagi tiap penggemarnya. Cidro, Stasiun Balapan, Terminal Tirtonadi, Kuncung, Layang Kangen, Cintaku Sekonyong-konyong Koder, Perawan Kalimantan, Jambu Alas, Parangtritis, Kalung Emas, Suket Teki, Banyu Langit atau Pamer Bojo, bisa jadi mewakili tiap kepala dengan segala kisah yang mengikutinya.

Dalam sebuah wawancara, Didi Kempot pernah menyebut karyanya menyentuh angka lebih 600. Jelas itu jumlah yang sangat fantastis untuk ukuran karya. Tak salah hingga akhirnya sebutan The God Father of Broken Heart disematkan padanya. Bapake wong loro ati. Dan sebenarnya masih banyak julukan yang disematkan padanya.

Maklum, dari ratusan lagu yang diciptakannya, hanya beberapa gelintir yang tidak bersinggungan dengan kenyataan hidup dan sakitnya patah hati dan dihianati.

Proses panjang yang dilewati Didi Kempot tentu tak semuanya bisa mengikuti. Dia pernah berada di titik terendah saat tidak dianggap, saat disepelekan, saat semua mata tidak mau meliriknya. Tapi Didi juga mengajarkan, lewat karya-karyanya, bahwa kenyataan hidup harus tetap dijalani, disyukuri, dan jika perlu; di-joget-i.

Didi pergi saat berada di puncak ketenaran. Pria kelahiran Surakarta 31 Desember 1966 itu sedang menikmati gelombang kemasyhuran. Lagu-lagunya tidak hanya dinyanyikan generasi yang lahir di akhir abad 21. Para milenialis juga turut mendengungkannya. Mungkin, mereka yang lahir di awal 2000-an, sudah mulai paham apa artinya sakit hati dan dikecewakan. Hingga mendapatkan tempat pelampiasan dan merasa terwakili lewat lagu-lagu Pakde Didi.

Yang bakal terus diingat, tentu bukan hanya soal lagu dan karyanya, Lord Didi juga dikenal dari sisi humanisnya.  Tak terhitung kegiatan konser amal pernah digelarnya dengan ragam elemen.

Lord Didi tentu bakal terus dikenang lewat petualangannya. Bagaimana namanya begitu masyhur hingga ke Amerika Tengah. Suriname. Negara yang dulunya jadi koloni Belanda, dan banyak penduduknya berasal dari Jawa dan merupakan warga yang dipaksa migrasi saat era kolonialisme. Lagu-lagu Didi Kempot banyak diminati warga Suriname. Sudah puluhan kali Didi Kempot mentas di negeri yang diakui sebagai negara keduanya setelah Indonesia.

Lord Didi juga bakal terus dikenang lantaran pesan-pesan yang disampaikannya, dan terasa sangat mengena. Soal mengenalkan budaya Jawa. Soal melestarikan warisan leluhur. Juga soal kebhinekaan Indonesia.

Kita, akan mengenang karya terakhir yang sempat dirilis Lord Didi saat berkolaborasi dengan Wali Kota Surakarta, FX Rudi Hardyatmo, didedikasikan untuk mengenang pandemi korona. Diberi judul Ojo Mudik (Jangan Mudik), sebagai pesan kepada para penggemarnya untuk mengikuti anjuran pemerintah kala pandemi. Anjuran soal tetap di rumah, dan tidak melakukan mudik Lebaran 2020, sebagai upaya pencegahan merebaknya Covid-19.

Kini, pesan terakhirnya sudah kita dengar bersama. Tapi ternyata Lord Didi lebih dulu “Pulang Kampung” menutup cerita untuk selamanya.

Ambyar. Ambyar bagi kita yang ditinggalkan dan masih terus berpetualang.

Kini, seberat apapun sakit dan patah hati atas kamu yang lebih dulu pergi, kami akan terus ingat pesanmu. Seberat apapun beban, akan terasa lebih ringat dengan di-joget-i.

Untukmu Pakde Didi, Alfatihah. (*)

Ikuti berita-berita berkualitas dari kaltimkece.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:

Kaltim Kece
folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar