Musik

Sheila on 7 dan Romantisme Pita Kaset

person access_time 9 months ago remove_red_eyeDikunjungi 817 Kali
Sheila on 7 dan Romantisme Pita Kaset

Sumber foto: Septian Yudha Adi Perwira on Flickr

Merdu suara dalam torehan pita
Tembang-tembang mengoyak kenangan
 

Ditulis Oleh: Fachrizal Muliawan
16 September 2018

kaltimkece.id Gudang kenangan generasi 90-an terbuncang ke kiri dan ke kanan. Konser grup band Sheila on 7 di Balai Sarbini Jakarta yang disiarkan secara langsung pada Jumat, 14 September 2018, mengoyak nostalgia masa silam. Seluruh rindu masa lalu hadir dalam tembang-tembang nan merdu. 

Pada 1999 silam, suara Akhdiyat Duta Modjo yang khas diiringi pekik Fender milik Erros Chandra yang nge-blues, menyihir telinga generasi muda. Kita serta Dan, dua single pertama Sheila on 7 yang sangat renyah, menjadikan grup band asal Jogjakarta ini tenar senusantara. Dan mampu memuncaki chart MTV Ampuh selama 40 minggu pada masa itu. Dan belum ada yang mampu menyamainya (Majalah Hai Edisi 43, 2000). 

Bersama kedua hits itu, Perhatikan, Rani, J.A.P, Anugerah Terindah yang Pernah Kumiliki, hingga Berai, membawa album perdana Sheila on 7 mencetak platinum. Ia terjual hingga 1,3 juta kopi dan menjadikan Sheila on 7 sebagai band pendatang baru tersukses. 

Baik Sheila on 7 (1999) maupun Kisah Klasik untuk Masa Depan (2000), keduanya adalah album sukses pada masa kaset pita masih berjaya. Meskipun cakram padat atau compact disc telah ditemukan sejak 1983, ia belumlah umum digunakan. Masyarakat awam masih memilih kaset berpita yang diputar di tape deck. Demikianlah sebagian besar album awal Sheila on 7 didistribusikan dalam bentuk kaset, termasuk di Kaltim. 

Sebagaimana televisi, nyaris tak satu pun rumah yang tak memiliki pemutar kaset. Ia adalah gawai yang berstatus wajib dimiliki. Pemutar kaset ini memiliki beberapa jenis. Pertama, tape deck yang biasanya teronggok di ruang keluarga. Kedua adalah mini-compo, pemutar kaset personal di dalam kamar. Bagi yang ingin menikmati musik sembari berjalan-jalan, tersedia pemutar kaset portabel yang dilengkapi headset. Produk paling kesohor adalah Walkman yang sejak 1979 diluncurkan Sony, jenama perusahaan elektronik dari Jepang (Sony: The Company and It’s Founders, 2013, hlm 13).

Kehadiran Toko Kaset 

Balikpapan menjadi kota pertama di Kaltim yang memiliki toko kaset resmi berjaringan nasional. Bagi remaja 90-an, Disc Tarra adalah nama yang tidak asing. Gerai Disc Tarra berlokasi di Balikpapan Central Plaza atau BC, kini Plaza Balikpapan. Adalah kebanggaan berbelanja di Disc Tarra sebagaimana bergengsinya mengantre iPhone keluaran terbaru pada masa sekarang. 

Disc Tarra dianggap memiliki gerai dengan koleksi kaset terlengkap. Namanya kondang sampai ke Samarinda yang pada masa itu baru memiliki toko kaset lokal. Tak jarang, remaja Samarinda menitip membeli kaset kepada teman-teman mereka yang sedang ke Balikpapan. Saat itu, toko kaset lokal di Samarinda kebanyakan di kawasan Citra Niaga. Mulai penjual kaset original seperti Toko Sumber Hiburan dan Scorpio, hingga toko kecil yang menjajakan kaset bajakan. Kaset original dijual Rp 18 ribu untuk produk Indonesia dan Rp 22 ribu untuk album mancanegara. Kaset bajakan jauh lebih murah, Rp 8 ribu, sesuai dengan rendahnya kualitas.

Samarinda baru benar-benar memiliki gerai seperti Disc Tarra di Balikpapan pada 2000. Kekosongan pasar di Kota Tepian segera ditangkap M-Studio. Toko ini membuka penjualan di Mal Lembuswana. Tak hanya kaset, M-Studio menjual poster dan kaus band-band ternama.  

Memiliki sebuah kaset pun seperti kewajiban remaja 90-an sebagaimana memiliki ponsel pada masa kini. Bedanya, para remaja sering bertukar kaset berhari-hari lamanya, sesuatu yang tidak umum untuk telepon pintar. Memiliki kaset asli --bukan bajakan-- dari band-band ternama juga suatu kebanggaan. Ada keasyikan menyenandungkan Sephia sembari menghapal lirik lagu yang tersaji di belakang sampul album Kisah Klasik Masa Depan-nya Sheila on 7.  

Mixtape

Jauh sebelum era digital, pembajakan karya musik sudah berlangsung. Pada masa jayanya, kaset hasil rekaman ulang (mirip salin-tempel atau copy-paste) merajalela. Ada yang untuk meraih keuntungan secara ilegal, ada pula hanya untuk kepentingan personal. 

Salah satu yang paling populer adalah mixtape, rekaman campuran. Mixtape mirip seperti menyusun playlist di Spotify pada masa sekarang. Yang berbeda, mixtape menggunakan kaset pita. Setiap orang bisa memilih daftar lagu sesukanya untuk direkam di kaset kosong berdurasi 60 atau 90 menit. Satu kaset biasanya dapat memuat hingga 20 lagu. Untuk membuat mixtape juga tidak mudah. Harus memiliki keahlian khusus terutama jemari yang lihai menekan tombol play, pause, dan record. Waktu menekan tombol itu harus tepat pada saat memulai atau menghentikan rekaman. Sama halnya ketika memberi jeda untuk lagu berikutnya. 

Setidaknya ada dua alasan seseorang membuat mixtape. Pertama, mereka hanya menyukai single-single tertentu dari beberapa album. Alasan kedua lebih romantis. Mixtape sering dipakai untuk PDKT atau pendekatan. Mixtape adalah tentang seseorang yang mencintai musik dan menginginkan orang lain mencintai musik yang sama. Mereka berharap, calon kekasih akan jatuh cinta setelah mendengar lagu-lagu di dalam kaset. Maka muncullah kalimat ampuh pembuat mixtape yang bisa membuat klepek-klepek gebetannya, “Semua lagu di dalam mixtape ini tentang kamu banget.”

Masa keemasan kaset berikut mixtape, mulai redup seturut kedatangan era digital sekitar 2003. Kehadiran format MP3 mengubah cara manusia mendengarkan musik. Generasi 90-an pun memasuki masa peralihan, dari analog menuju era digital (Generasi 90-an, 2013, hlm 8). 

Sejak saat itu, kaset tinggallah nama. Tidak ada lagi kegiatan membersihkan pemutar kaset dengan cairan alkohol. Tak lagi side-A dan side-B. Tombol fast forward-rewind telah digusur fasilitas next-back di layar telepon pintar. Sebagaimana tembang Sheila on 7, kaset tinggallah sebuah kisah klasik untuk masa depan. (*)

Editor: Fel GM

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar