Cerpen

Ratih Tanpa Smartphone (Bagian-11): Untuk Siapa Pembelaan Itu?

person access_time 1 month ago remove_red_eyeDikunjungi 241 Kali
Ratih Tanpa Smartphone (Bagian-11): Untuk Siapa Pembelaan Itu?

Ilustrasi: Nurmaya Liwang (kaltimkece.id)

Salah sangka karena memendam rasa. 
(Ingin membaca cerita bersambung ini dari awal? Ketuk di sini).

Ditulis Oleh: Es Pernyata
12 Oktober 2019

"AKU terlanjur janji kepada Burhan. Ada cerita rakyat yang akan kuadopsi jadi naskah drama. Di perpustakaan kampus tidak ada. Aku yakin, buku cerita Rakyat Kutai itu ada di Perpustakaan Provinsi di Jalan Juanda."

"Oh, begitu. Memang mau mentas di mana?"

"Bukan aku. Adik-adik SMA 3. Aku bantu-bantu melatih adik-adik yang memilih teater sebagai kegiatan ekstrakurikuler. Saat acara perpisahan sekolah nanti, mereka mementaskannya."

Ratih termangu. Hari ini, ia berencana mengajak Anita bertemu ketua Asita --Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies. Asita adalah suatu perkumpulan yang mewadahi pengusaha atau pelaku usaha di bidang jasa perjalanan wisata di Indonesia.

Ketua Asita Samarinda adalah Pak Putra. Nama lengkapnya adalah I Gusti Bagus Putra. Orang-orang menyapanya Pak Putra. Ratih mengenal Pak Putra saat diajak Pak Fauzan Putra Kleper mengikuti sosialisasi Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dua pekan lalu di Hotel Harris.

"Kamu perlu apa sih dengan Pak Putra? Mau melamar kerja jadi guide?"

"Ngobrol saja. Kita kan mahasiswa pariwisata. Apa salahnya kalau kita belajar kepada pelaku pariwisata yang tahu persis lapangan."

"Aku mau. Tunda saja dulu. Besok bagaimana?"

"Kamu kira Pak Putra pengangguran? Dia orangnya sibuk. Selain ketua Asita, dia juga punya travel. Kamu saja yang batalkan ke perpustakaan. Besok kutemani."

"Jangan. Jangan. Marah besar Burhan. Kemarin aku yang maksa-maksa dia menemani aku. Kalau kubatalkan, kau tahu ‘kan akibatnya? Pasti aku dibilangnya tidak konsisten. Burhan orangnya serius. Menghadapi dia, kita tidak bisa main-main. Hancur reputasi."

"Bah. Bahasamu mengisyaratkan sesuatu."

"Maksudmu?"

"Tampak benar kau menjaga imej di depan Burhan. Sepertinya ke perpustakaan bukan sekedar mencari buku. Tapi pedekate."

"Hahahaha....."

"Benar, kan?"

"Ampun. Kamu memang sahabat sejati. Kamu tahu membaca bahasaku."

"Sejak kapan?"

"Gak ah."

"Hei, sejak kapan?"

Anita tak segera menjawab. Ia malu menyatakan perasaannya karena belum pasti. Baginya, jodoh bukan takdir. Jodoh harus diusahakan. Itu tidak berarti sebagai wanita ia harus mendahului. Tetapi, bagaimana mungkin seorang pria menyatakan cintanya kepada seorang wanita jika wanita itu tidak dikenalnya? Ini bukan zaman Siti Nurbaya. Aku bukan Hayati dalam roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.

"Ratih. Jujur, aku mengagumi Burhan. Dia cerdas. Meski sikapnya yang rada cuek, sebenarnya dia baik hati. Dia mudah menolong."

"Ya, aku tahu. Aku setuju penilaianmu."

"Dia laki-laki."

"Yang bilang dia perempuan siapa?"

"Bukan begitu. Kau dengarlah ceritaku. Minggu lalu aku minta dia temani aku ke Pasar Pagi."

"Wow, ternyata sudah sering jalan bersama."

"Kamu salah. Itu yang pertama. Aku kan harus mencari kain yang murah-murah untuk pembuatan kostum. Orang bilang, di Pasar Pagi murah tapi banyak copet. Aku tak berani sendiri. Burhan kuminta menemani. Semula ia keberatan. Alasannya, dia harus bekerja. Kutanya, kerja apa? Dia tidak menjawab. Karena tidak menjawab, maka kuanggap alasan itu hanya alasan. Maksudku, bila aku mampu meyakinkannya, kalau perlu setengah merayu, pasti ia mau mengabulkan bisa permintaanku.

"Terus?"

"Dia maulah. Nah, benar, hampir aku dicopet. Burhan melihat. Ia menegur pencopet itu. Pencopet itu tak terima. Ia menatap Burhan bagai menghadapi musuh. Burhan bergeming. Matanya balik menantang. Eee, pencopet itu balik kanan meninggalkan kami."

"Punya ilmu kanuragan kali Burhannya?"

"Maksudmu?"

"Kanuragan adalah ilmu yang berfungsi untuk bela diri secara supranatural dan dalam bahasa di negeri lain juga disebut dengan ki/chi atau juga disebut tenaga dalam. Ilmu ini mencakup kemampuan bertahan terhadap serangan dan kemampuan untuk menyerang dengan kekuatan yang luar biasa, di luar nalar manusia dan logika."

"Wow. Dasar memang dirimu gadis cantik yang paling cerdas. Urusan tenaga dalam saja kamu mengerti."

"Aku tahu maksudnya tapi aku tak punya ilmu itu. Dulu, guru silatku yang mengatakan itu saat kami ngobrol."

"Wah, sama dong sama Burhan. Burhan itu juga pesilat. Burhan bilang, ia tidak mencari musuh. Tapi ia tidak mundur jika harus membela yang benar."

"Mantap!"

"Itulah yang kukagumi dari dirinya, Ratih. Ia kuanggap telah menjadi pendekar bagiku. Tanpa dia, habislah aku hari itu."

Percakapan kedua sahabat terhenti. Lelaki yang disebut-sebut Anita datang. Tampak betul keterkejutan Burhan Magenta saat dilihatnya ada Ratih di situ.

Ratih adalah bidadari yang selalu menghiasi khayalnya saat ia sendiri. Saat menjelang tidur. Saat bangun pagi. Bidadari itu kini ada di hadapannya. Berdua dengan Anita, sahabat Ratih. Sahabatnya juga.

"Ratih, jaga dirimu baik-baik. Salam dengan ketua Asita, Pak Putra," kata Anita tak mau berlama-lama karena ingin segera duduk dibonceng Burhan Magenta.

"Siyap, Kaka," jawab Ratih bercanda. Ia mencoba senyum setulus-tulusnya kepada Anita juga kepada Burhan Magenta. Ratih meraba-raba, ada yang berbeda dari tatapan mata Burhan. Agak gelagapan. Salah tingkah. Tidak biasa. Tidak pula ada basa-basi. Diam. Bagai robot. Tapi tatapan mata Burhan dibacanya seperti mahasiswa yang penasaran atas kuliah dosennya. Ingin bertanya namun tak tersampaikan.

"Aku mungkin salah. Mungkin aku terbawa perasaan. Perasaan kecewa karena Anita, sahabat kentalku itu tak mau menemaniku karena punya urusan lain. Ah, bukan. Bukan itu soalnya. Tapi karena Anita harus bersama Burhan, lelaki yang mengantarkanku saat pulang malam. Lelaki yang tidak mau menerima haknya sebagai balasan atas jasanya sebagai pengojek. Lelaki yang tak pernah kuduga, ternyata dia adalah sahabatku sendiri, Burhan Magenta. Ya, Burhan Magenta yang kini pergi bersama Anita."

Berkecamuk batin Ratih. Ia masih berdiri terpaku di bawah pohon angsana. Dekat tempat parkir sepeda motor. Ia merasa tak kuat untuk buru-buru menuju sepeda motor tua, pengganti sepeda motornya yang baru dijual untuk melunasi uang kuliah semester genap. Ratih membiarkan dirinya ditatap awan mendung di langit.

Sepanjang jalan dari kampusnya, Anita tak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Embusan angin yang menderu-deru menampar wajahnya bagai lagu-lagu romantis yang dinyanyikan dengan suara semerdu-merdunya. Anita tidak tahu seperti apa perasaan Burhan saat mereka bertemu bertiga. Mata Anita melihat tapi pandangnya tak bisa menembus relung-relung jiwa, gejolak-gejolak batin, badai-badai, yang membuat laut jiwa Burhan Magenta tak tenang.

Tak ada yang tahu seperti apa perasaan Burhan. Hanya dirinya sendiri. Burhan merasa dirinya bagai perahu layar ditiup angin tanpa nakhoda. Burhan kehilangan semangat untuk segera sampai di tujuan. Ia biarkan kemudi mau membawanya ke mana.

Burhan tak merasakan apa-apa saat melintasi jalan, menyeberang jembatan, menyusuri tepian Mahakam, masuk ke Jalan Antasari dan Juanda, meski bersama gadis cantik; artis di kampusnya.

Burhan, adalah segumpal awan. Terserah angin mau ke mana ia diterbangkan. Ia tak berdaya. Ia tak tahu, harus menyatakan apa, saat beberapa waktu yang lalu dia bertemu Ratih di depan Anita.

"Aku hanya membantu Anita. Tidak lebih," kata Burhan seakan membela diri. Tapi untuk siapa pembelaan itu? (bersambung)

Serial selanjutnya, ketuk:
Tentang penulis 
Syafruddin Pernyata atau Es Pernyata, lahir Loa Tebu (Tenggarong), 28 Agustus 1958. Alumnus Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Mulawarman serta Program Studi Linguistik (Magister) Universitas Padjadjaran Bandung. Pernah bekerja sebagai guru,  dosen,  wartawan, dan birokrat. Tugas sebagai birokrat ialah Karo Humas, Kepala Dinas Pendidikan, Kaban Perpustakaan, Kepala Diklat, dan Kepala Dinas Pariwisata Kaltim.
Karya yang diterbitkan: Harga Diri (kumpulan cerpen),  Aku Mencintaimu Shanyuan (novel),  Nanang Tangguh dan Galuh Intan (novel), Belajar dari Universitas Kehidupan (kisah motivasi), Ujar Mentor Jilid 1 dan 2 (buku motivasi), Zulaiha (novel), Aku Bulan Kamu Senja (novel), Awan (novel).
folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar