Cerpen

Ratih Tanpa Smartphone (Bagian-17): Aku Anak Yatim

person access_time 3 weeks ago remove_red_eyeDikunjungi 156 Kali
Ratih Tanpa Smartphone (Bagian-17): Aku Anak Yatim

Ilustrasi: Nurmaya Liwang (kaltimkece.id)

Perjuangan seorang anak yang menjadi tulang punggung keluarga. 
(Ingin membaca cerita bersambung ini dari awal? Ketuk di sini).

Ditulis Oleh: Es Pernyata
18 Oktober 2019

 

RATIH bukanlah tipikal anak gadis yang suka bepergian ke pusat perbelanjaan. Selain memang tidak hidup berkecukupan, ia khawatir pusat perbelanjaan membuatnya ketagihan.

Akan tetapi, hari ini ia harus ke pusat perbelanjaan. Ratih mesti ke toko buku dan toko tersebut di mal, sebuah pusat perbelanjaan terbesar di Samarinda. Kebetulan, pagi ini ia tidak ada jadwal kuliah. Pak Adang, pengasuh mata kuliah Pengelolaan Informasi dan Promosi Pariwisata, baru masuk setelah zuhur. Ratih memanfaatkan waktu itu pergi ke toko buku di dalam mal. Warga kota menyebutnya Big Mal.

Ratih tak terlalu lama mencari buku yang berkaitan dengan taman. Buku tersebut ia perlukan untuk menjadi referensi penataan tempat parkir di Muara Badak. Bagi Ratih, tempat parkir itu harus dipoles, didandani, dan ditata. Tempat parkir itu mestinya tidak terasa fungsinya namun yang menonjol adalah keindahannya.

Mengapa tempat parkir harus indah? Tempat parkir adalah pintu gerbang ke Pantai Bahagia. Bagaimana mungkin menjual pantai jika tidak dibangun daya tarik sedari lini pertama? Lini pertama Pantai Bahagia adalah tempat parkir dan pintu gerbangnya.

Menurut Ratih, dengan pintu gerbang yang menghadirkan sosok kapal pinisi ditopang dua pilar besar dari bambu, pasti mencengangkan mereka yang melihatnya. Ini zaman orang-orang senang berfoto dan berswafoto. Ratih meyakini pintu gerbang dan tempat parkir itu berfungsi sebagai objek wisata.

Buku yang dicari didapatkan. Tiga buku. Satu buku tentang desain taman. Satu buku tentang pergola dan satu buku khusus lansekap. Merasa yang dicarinya sudah ia dapatkan, Ratih bergegas menuruni ekskalator.

Baru saja Ratih turun, seorang anak tiba-tiba berlari di depannya sambil menangis dan berteriak memanggil ayahnya. Anak itu terjatuh dan tangisnya semakin nyaring. Melihat peristiwa itu, rasa iba Ratih timbul. Serta-merta ia mengangkat anak itu dan membujuknya berhenti menangis.

"Ini orang tuanya mana?" Ratih bertanya dalam hati sambil melihat ke sekeliling.

"Adek sama siapa ke sini?" Ratih bertanya kepada anak itu. Sambil terus menangis, anak tersebut menunjuk seorang pria yang berdiri agak jauh dan memandang ke arah mereka.

Anehnya, pria tersebut tak bereaksi apa-apa. Kalau pria itu memang ayahnya, mengapa ia tak peduli kepada anaknya yang berlari seraya memanggil-manggil ayahnya? Anaknya jatuh tidak dipedulikan. Ayah macam apa ini? Batin Ratih mulai berbisik.

Dengan sedikit tergesa-gesa, Ratih kemudian menyerahkan anak itu kepada ayahnya seraya berkata, “Bapak tidak mendengar dia memanggil-manggil?"

Ayah anak itu tak segera menjawab. Ditatapnya Ratih. Tentu saja Ratih tidak senang dengan tatapan ayah anak tersebut. Tidak ada senyum. Tidak berterima kasih anaknya telah ditolong.

“Dia tidak sakit. Dia sudah pandai berjalan. Dia bisa bangun sendiri. Kalau kamu gendong seperti tadi, dia akan manja. Tidak ada yang hilang dari dirinya karena menangis. Dia harus belajar bahwa berlari-lari ada akibatnya. Sayang, kamu tidak mengerti,” kata pria itu dan segera meninggalkan Ratih yang masih bengong.

Benarkah sikap itu? Atau justru itu bentuk dari ketidakbecusan orang tua mengasuh anaknya? Begitukah cara mendidik anak agar mandiri atau itu adalah pelanggaran hak-hak anak untuk memperoleh kasih sayang orang tuanya?

Ratih, meskipun masih kuliah, dikenal sebagai sosok dengan kecerdasan di atas rata-rata temannya. Kemampuannya melihat persoalan dan kearifannya dalam menyelesaikan telah membuahkan hasil.

Dalam perjalanan menuju kampus, Ratih bertanya-tanya kepada dirinya sendiri. Salahkah tindakannya atau ayah anak itu yang salah? Ratih kemudian sampai kepada kesimpulan bahwa sikap yang ditunjukkan ayah anak itu adalah sebuah proses mendidik anak menjadi pribadi mandiri sejak usia dini.

"Menurutmu, apa tindakan itu salah?" Ratih bertanya saat bertemu Burhan Magenta di ruang kuliah. Pak Adang belum masuk karena memang jadwal kuliah masih setengah jam lagi.

"Aku bisa memahami tindakanmu. Itu benar. Itu artinya kamu peduli. Itu artinya kamu peka. Kamu hebat. Tak banyak orang yang punya kepekaan sekarang. Tak peduli lingkungan. Tak peduli tetangga. Tindakanmu menunjukkan bahwa kamu memiliki kecerdasan emosional sekaligus kecerdasan sosial."

Pujian Burhan membuat Ratih tersanjung. Ia merasakan wajahnya pasti berubah. Wanita mana yang tidak senang dipuji? Akan tetapi, Ratih pura-pura biasa saja. Ia mengalihkan perasaannya dengan bertanya lagi.

"Jadi, tindakan ayah anak itu salah dong?"

"Tidak. Tindakan ayah anak itu pun benar. Itu adalah salah satu cara mendidik anaknya agar tidak manja, tidak cengeng. Ayah anak itu tentu bermaksud agar sikap mandiri ditanamkan sejak dini. Kemandirian itu penting karena tidak selamanya anak hidup bergantung kepada orang tuanya."

"Jadi, dua-duanya benar?"

"Ya. Suatu tindakan tidak selalu bisa dianggap hitam putih. Tindakan itu kebenarannya lebih didasarkan alasan yang melatarinya."

Burhan lalu menceritakan pengalamannya bertemu dengan seorang bapak yang dibuat susah oleh anaknya hanya karena persoalan sepele.

"Bapak itu pejabat. Sudah setahun dibuat pusing karena anaknya yang sudah sarjana dari perguruan tinggi ternama di Jogja masih menganggur. Istri bapak itu selalu mendesak suaminya agar mencarikan pekerjaan anaknya. Sebenarnya, ia bisa mempekerjakan anak itu di kantornya tapi ia punya beban mental. Sudah enam orang keluarganya ia terima sebagai tenaga honor. Jika anaknya diterimanya bekerja di situ, apa kata orang?"

"Mengapa anaknya yang sarjana itu tidak mencari pekerjaan sendiri?" Ratih bertanya.

"Di situlah masalahnya. Anaknya terbiasa dimanjakan. Okelah, masuk SMP diurus orang tua. Tapi, saat masuk SMA juga diurus orang tua. Pakai uang pelicin lagi. Waktu kuliah ke Jawa, bapak dan ibunya yang mengantarkan, mendaftarkan, dan mencari indekos."

"Mungkin karena anak gadis satu-satunya."

"Anaknya laki-laki."

"Waduh!"

"Ya, itulah kenyataan. Aku yang mendengar cerita bapak itu. Sedih bercampur geli."

"Itu tidak pantas."

"Betul. Dalam perspektif seperti itu, aku bisa memahami tindakan ayah anak kecil itu memperlakukan anaknya seperti yang kau ceritakan. Kita tidak bisa melihat sesuatu dari tindakannya semata tetapi juga melihat hal yang melatarbelakangi tindakan itu dilakukan."

"Ya, ya, aku paham."

"Kemandirian itu adalah harta tak benda. Orang-orang yang mandiri, insya Allah hidupnya tak susah. Kalaupun bertemu suatu masalah, ia bisa menghadapi, menyelesaikannya. Contohnya kamu, Ratih."

"Kok, jadi beralih ke aku?"

"Kamu adalah model pribadi mandiri. Aku salut."

"Bukannya dirimu yang jadi model? Justru aku kagum pada dirimu. Teman-teman hanya tahu bahwa kamu adalah mahasiswa cerdas. Mereka tidak tahu bahwa mahasiswa bernama Burhan Magenta itu adalah sopir angkot yang baik hati."

"Hahahaha...."

"Ya, kan?"

"Kalau itu bukan contoh yang baik. Aku harus bekerja karena aku ini anak yatim. Tak punya ayah lagi. Di kampung, ibuku tinggal bersama dua adikku. Dari mana mereka makan, sekolah, kalau tidak bergantung kepadaku sebagai anak tertua?"

Ratih menelan air liurnya. Sedih hatinya mendengar kisah Burhan Magenta. Tak disangkanya kehidupan Burhan sampai sesusah itu. Selama ini, Ratih merasa dialah mahasiswa yang paling miskin dan selalu berhadapan dengan masalah karena kemiskinan itu. Ternyata tidak.

Lelaki macam Burhan Magenta, menurut Ratih, adalah pohon rindang yang bisa menjadi tempat berteduh. Ibarat dinding, dialah yang kokoh sebagai tempat bersandar.

"Makanya, maafkan aku, saat kau berulang tahun dulu, aku tidak hadir. Aku sudah titip pesan kepada Anita, aku tak bisa datang karena bekerja."

"Ya, aku mengerti saat Anita mengatakan kau tak bisa datang karena bekerja. Anita tahu kau bekerja sebagai sopir?"

"Tidak. Tidak ada yang tahu, kecuali kamu memberitahu dia karena kamu pernah naik angkotku. Hehehe."

"Masalah bagimu jika teman-teman tahu bahwa kamu sopir?"

"Tidak. Apa masalahnya? Memang itu pekerjaanku."

"Jadi, Anita pun tidak tahu?

"Ada apa dengan dia? Apa untungnya jika kuberi tahu?" Burhan Magenta balik bertanya.

Banyak yang akan ditanyakan Ratih lagi kepada Burhan. Bukan soal ayah yang membiarkan anaknya menangis. Bukan soal ayah yang mencarikan anaknya pekerjaan. Tapi soal seberapa jauh hubungan Burhan Magenta dengan Anita.

Sayang, Pak Adang sudah tiba. Perkuliahan dimulai. Ratih masih belum bisa fokus. Ia masih menyesali dirinya tak sempat menggali informasi seberapa jauh hubungan Burhan dengan Anita.

Kesempatan 'ngobrol' dengan Burhan tak selalu bisa karena Burhan tak banyak waktu di kampus. Ratih tahu kesibukan Burhan. Kisah Burhan yang waktunya digunakan untuk kuliah dan bekerja sebagai sopir angkot guna membiayai ibu, adik, dan dirinya sendiri membuat Ratih bertambah empati dan simpati. Masalahnya, sahabatnya yang bernama Anita terang-terangan kepada Ratih ingin Burhan menjadi kekasihnya.

"Jadi, aku? Aku?" Ratih bertanya kepada dirinya sendiri. Pertanyaan yang tidak jelas maksudnya. Tentu sukar pula jawabannya. Pak Adang, dosen yang dianggap cerdas itu pun jika ditanya tak akan bisa menjawabnya. (bersambung)

Serial selanjutnya, ketuk:
Tentang penulis 
Syafruddin Pernyata atau Es Pernyata, lahir Loa Tebu (Tenggarong), 28 Agustus 1958. Alumnus Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Mulawarman serta Program Studi Linguistik (Magister) Universitas Padjadjaran Bandung. Pernah bekerja sebagai guru,  dosen,  wartawan, dan birokrat. Tugas sebagai birokrat ialah Karo Humas, Kepala Dinas Pendidikan, Kaban Perpustakaan, Kepala Diklat, dan Kepala Dinas Pariwisata Kaltim. 
Karya yang diterbitkan: Harga Diri (kumpulan cerpen),  Aku Mencintaimu Shanyuan (novel),  Nanang Tangguh dan Galuh Intan (novel), Belajar dari Universitas Kehidupan (kisah motivasi), Ujar Mentor Jilid 1 dan 2 (buku motivasi), Zulaiha (novel), Aku Bulan Kamu Senja (novel), Awan (novel).

 

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar