Cerpen

Ratih Tanpa Smartphone (Bagian-2): Kegundahan Hati

person access_time 2 months ago remove_red_eyeDikunjungi 512 Kali
Ratih Tanpa Smartphone (Bagian-2): Kegundahan Hati

Ilustrasi: Nurmaya Liwang (kaltimkece.id)

Diberhentikan dari pekerjaan membuat Ratih gundah. Terbawa hingga ke kampus.
(Ingin membaca cerita bersambung ini dari awal? Ketuk di sini).

Ditulis Oleh: Es Pernyata
03 Oktober 2019

TIBA di gerbang kampus, langkah Ratih semakin ragu. Apakah ia akan terus menapakkan kakinya ke ruang kuliah? Apakah ia sanggup meneruskan cita-citanya agar suatu saat kelak bisa memakai toga dan membanggakan ayah-bundanya?

Ia tahu, sejak standar sepeda motornya ia buka dengan kaki, beberapa pasang mata memandang ke arahnya. Ia tahu bahwa penampilannya berbeda dari hari biasa. Ya, ia tak melepaskan kaca mata hitam sepanjang perjalanan menuju ruang kuliah.

Sesaat ketika akan memasuki ruang kuliah, Rudi Perdana berdehem. Ia menjajari langkah Ratih. Ratih tak menoleh. Merasa tak dihiraukan, Rudi pun berlari-lari kecil mendahului langkah Ratih lalu membalikkan tubuhnya.

"Sejak kapan kamu menjadi model?"

Ratih tahu maksudnya. Ia pun melepas kacamata matanya. Daripada diolok-olok semua temannya. Cukuplah Rudi Perdana.

Rudi Perdana. Ia anak pertama dari tiga bersaudara. Adiknya yang kedua bernama Dwi Wulandari. Yang ketiga, Tri Andarmono. Andai Rudi punya adik keempat, bisa saja namanya Catur Sumarno jika lelaki atau Catur Sumarni jika perempuan.

Ratih mengenal dekat lelaki yang biasa disapa dengan Er Pe. Singkatan itu memang berasal dari Rudi Perdana. Belakangan, karena nilai kuisnya selalu jeblok, Er Pe itupun berubah kepanjangannya menjadi Riwayat Pintar.

Setiap orang punya riwayat hidup. Rudi, selain punya riwayat hidup juga punya riwayat pintar. Ia mengaku, semasa SMA selalu masuk tiga besar. Ketika kuliah, ia harus pindah ke kota dan indekos dekat kampus.

Di indekos pun ia banyak teman. Teman-temannyalah yang mengajarkan bagaimana bermain catur. Rudi ketagihan. Ia malas belajar. Kepintarannya berangsur pudar. Sejak itu, Er Pe bukan lagi Rudi Perdana melainkan Riwayat Pintar.

"Agaknya kamu ditinggalkan padahal baru saja jatuh cinta."

"Sok tahu."

"Hanya karena putus cinta, seorang gadis bisa menangis."

"Kamu jangan dekat-dekat. Ini penyakit mata menular. Mau matamu berair dan bengkak?"

Er Pe tersentak. Ia mundur dua langkah. Ratih pun mempercepat langkahnya dan kali ini memilih duduk di belakang. Ia segera mengambil buku catatannya. Menulis. Entah apa yang ditulisnya.

Pak Fauzan Putra Kleper masuk. Seperti biasa, ia memulai perkuliahan selalu dengan mengajukan pertanyaan.

"Selain aksesibilitas harus terbangun dan lancar, sebuah destinasi wisata harus dilengkapi sarana pendukung yang biasa juga disebut sebagai amenitas. Akan tetapi, meskipun akses mudah, amenitas terbangun, jika tidak didukung atraksi, destinasi itu hanyalah sebuah tempat dan tidak akan dikunjungi. Sebelum saya lanjutkan, adakah di antara kalian yang bisa menjelaskan, apakah yang saya maksud atraksi itu?" tanya Pak Fauzan Putra Kleper seraya matanya menyapu semua mahasiswa.

Dua menit berlalu. Dosen yang murah senyum dan baik hati ini tak sabar menunggu jawaban mahasiswanya. Ia pun lalu mengarahkan telunjuknya kepada Sofyan Banjar. Sebenarnya, namanya Sofyansyah. Jika berbicara, dialek Banjarnya sangat kentara. Itulah sebabnya ia selalu disapa dengan Iyan Banjar.

"Ulun, eh, saya kira atraksi itu meliputi tiga hal. Pertama, atraksi tari. Kedua, atraksi nyanyi. Ketiga, atraksi sulap."

Pak Fauzan mengernyitkan kening. Kening berkerut pertanda jawaban itu salah. Setidak-tidaknya tidak memuaskan. Akan tetapi, tak ada yang membantah jawaban Iyan Banjar. Sampai Ulis Harat mengacungkan tangannya.

"Tari dan nyanyi bukanlah atraksi. Itu pertunjukan. Atraksi lebih dari itu. Kalau sulap, itu tipu-tipu karena sulap artinya palsu," jelas Ulis Harat.

"Betul. Sulap itu adalah atraksi sebagaimana akrobat. Bedanya, sulap penuh tipu-tipu. Makanya palsu. Sulap itu huruf-hurufnya sama dengan palsu. Akrobat bukan tipu-tipu. Akrobat adalah skill." Tiba-tiba saja, Rahman, anak perantauan dari kecamatan Long Kali, Kabupaten Paser, angkat suara. Rahman kawan karib Ulis Harat.

Pak Fauzan tersenyum. Senyum yang mengisyaratkan bahwa ia merasa geli. Bukan karena puas atas jawaban Ulis dan Rahman. Pak Fauzan Putra Kleper dikenal bijak. Jika pertanyaannya dijawab salah oleh mahasiswa, ia tidak serta-merta menyalahkan apalagi mengejek si penjawab.

Ia dosen yang sangat disayangi. Bukan karena ia bijak dan murah senyum saja tapi juga karena pintar. Konon, kata Kleper dilekatkan di belakang Fauzan Putra karena ayahnya yang orang Bakumpai mencita-citakan anaknya ini pintar. Kleper bukan nama orang Belanda. Kleper dipungut dari bahasa Inggris, 'clever', yang artinya pandai atau pintar.

Pak Kleper masih memberi kesempatan kepada mahasiswa yang lain untuk menjawab. Menurut Pak Kleper, jawaban-jawaban itu belum sesuai dengan maksud atraksi dalam ranah pariwisata.

Mahasiswa semester tiga Program Studi Manajemen Destinasi Pariwisata ini sebenarnya memiliki dua orang mahasiswa yang berotak encer. Dialah Burhan Magenta dan Ratih. Burhan jarang sekali mengacungkan tangan. Ia akan berbicara bila diminta.

Sebagian kawan-kawannya, terutama yang perempuan, menjuluki Burhan sebagai Burhan Tiga C. Cakep, Cerdas, tapi Cuek. Burhan memang cakep. Tubuhnya proporsional. Otaknya cerdas. Meski demikian, dia juga menjengkelkan karena cuek. Sikap cueknya oleh sebagian dianggap angkuh, sombong, jemawa.

Ratih tetap sibuk menulis. Ia tak berselera menjawab pertanyaan Pak Kleper meskipun ia tahu jawabannya.

Akhirnya Pak Kleper mengarahkan pertanyaan itu pada Burhan Magenta yang sedari tadi ia lihat adem-adem saja atas jawaban Iyan Banjar, Ulis Harat, dan Rahman.

"Atraksi itu berasal dari bahasa Inggris, attraction, artinya daya tarik." Burhan Magenta menjawab. Sahabat-sahabatnya pun terperangah.

"Sebagaimana artinya, daya tarik, suatu tempat belum bisa dikatakan destinasi wisata bila tidak memiliki daya tarik. Daya tarik bisa juga dikatakan sebagai magnet."

"Hanya itu?"

"Menurut saya, Pak, destinasi wisata harus memiliki daya tarik. Daya tariklah yang menyebabkan wisatawan akan berkunjung. Semakin menarik, semakin berkesan. Daya tarik itu bisa karena alam, budaya, pun bisa pula oleh karya manusia." Burhan menyudahi jawabannya.

"Bisa kau jelaskan lebih lanjut?"

"Yang dimaksud daya tarik alam itu misalnya pantai, bukit, gunung, dan lembah. Sedang daya tarik budaya misalnya situs, museum, candi, karya seni seperti tari, lukisan, musik. Ada pula daya tarik karya manusia, misalnya taman yang indah, water park, studio, wadah bermain. Semakin indah, unik, apalagi aneh, langka, makin tinggi daya tariknya."

Pak Kleper tersenyum. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawaban Burhan juga memuaskan sahabat-sahabatnya. Iyan Banjar berbinar-binar. Ia merasa jawaban Burhan hanyalah penjabaran dari tiga hal yang telah diungkapkannya.

"Benar ‘kan kataku? Tari, nyanyi, sulap. Buktinya, banyak wisatawan yang datang ke daerah kita karena kagum melihat tarian Dayak. Apalagi tari perang. Mereka juga mengagumi lagu-lagu Dayak yang diiringi petikan sape."

"Tapi sulap tidak termasuk." Ulis Harat tiba-tiba menyela.

"Masuk, dong. Coba lihat di dekat Terminal Pasar Pagi. Mengapa orang mau berdesak-desak melihat pertunjukan sulap oleh penjual obat? Itu karena sulap selalu memiliki daya tarik. Ya, ‘kan? Ya, ‘kan?" Iyan Banjar mengajukan tanya.

"Yang nonton itu bukan wisatawan. Yang nonton penjual obat itu adalah orang-orang kurang hiburan," sergah Ulis.

Mendengar alasan yang dikemukakan Iyan Banjar dan bantahan Ulis Harat, Rahman melongo. Mulutnya terbuka. Iyan mengambil sesuatu di dalam tasnya. Sesuatu itu ia lemparkan ke mulut Rahman. Rahman tersedak. Ia kesulitan bernafas. Matanya terbelalak.

Rahman berdiri mencari nafas. Ia berputar-putar dengan wajah pucat. Ruang kuliah jadi gaduh. Murni Murai memberi Rahman air mineral. Ia lalu menepuk-nepuk punggung Rahman dengan keras.

Iyan Banjar pucat. Perbuatannya bisa mematikan sahabatnya. Ia mengguncang-guncang tubuh Rahman dari arah depan. Bersamaan dengan itu mulut Rahman menembakkan kacang atom disertai semburan air liurnya.

Air liur itu menyemprot wajah Iyan Banjar. Tenggorokan Rahman lega. Kacang atom yang menyumbat tenggorokannya sudah terbang. Ia bisa tersenyum. Iyan menyumpah-nyumpah. Suara gaduh membahana di ruang kuliah itu. Pak Fauzan melirik jam tangannya.

"Sudah. Sudah. Dengarkan saya. Jadi, kesimpulan yang dapat kita ambil ialah sebuah destinasi wisata itu harus memiliki daya tarik agar setiap wisatawan yang berkunjung merasa puas dan berkesan. Kesan yang baik akan disebarkan wisatawan kepada sahabat-sahabatnya. Tapi ingat, memasukkan kacang atom ke mulut kawan bukanlah daya tarik. Demikian juga menyemburkan air ludah ke wajah kawan."

Pak Fauzan meninggalkan ruang kuliah yang masih gaduh. Sebagian masih terbahak hingga batuk-batuk. Beberapa mahasiswa masih terpingkal-pingkal. Ulis lebih gawat, tawanya yang nyaring, bagai lolongan anjing di siang bolong.

Di tengah keramaian itu, Ratih tak bisa turut tertawa. Ia membayangkan masa depannya. Dua bulan lagi semester tiga berakhir. Biaya kuliah untuk semester empat menghantuinya. Ingatannya pun kembali ke tempat kerja. Tempat majikannya bernama Nanang Kaya yang telah menutup jalan hidupnya dan mempersilakan Ratih keluar dari warungnya. (bersambung)

Seri berikutnya, ketuk:

Ratih Tanpa Smartphone (Bagian-3): Jujuran

Tentang penulis 
Syafruddin Pernyata atau Es Pernyata, lahir Loa Tebu (Tenggarong), 28 Agustus 1958. Alumnus Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Mulawarman serta Program Studi Linguistik (Magister) Universitas Padjadjaran Bandung. Pernah bekerja sebagai guru,  dosen,  wartawan, dan birokrat. Tugas sebagai birokrat ialah Karo Humas, Kepala Dinas Pendidikan, Kaban Perpustakaan, Kepala Diklat, dan Kepala Dinas Pariwisata Kaltim.
Karya yang diterbitkan: Harga Diri (kumpulan cerpen),  Aku Mencintaimu Shanyuan (novel),  Nanang Tangguh dan Galuh Intan (novel), Belajar dari Universitas Kehidupan (kisah motivasi), Ujar Mentor Jilid 1 dan 2 (buku motivasi), Zulaiha (novel), Aku Bulan Kamu Senja (novel), Awan (novel).
folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar