Cerpen

Ratih Tanpa Smartphone (Bagian-25): Wanita Berkursi Roda

person access_time 1 year ago remove_red_eyeDikunjungi 766 Kali
Ratih Tanpa Smartphone (Bagian-25): Wanita Berkursi Roda

Ilustrasi: Nurmaya Liwang (kaltimkece.id)

Sebuah rancang kegiatan yang paripurna. Memuaskan semuanya. 
(Ingin membaca cerita bersambung ini dari awal? Ketuk di sini). 

Ditulis Oleh: Fel GM
26 Oktober 2019

ANITA dan kawan-kawan, termasuk Ratih dan Burhan, sejak seminggu yang lalu sibuk menjadi panitia wisuda dari unsur mahasiswa. Sudah menjadi kebiasaan, setiap kali wisuda di Polnes ini, kepanitiaan bersifat gabungan civitas akademika: dosen, mahasiswa, dan pegawai. Unsur mahasiswa yang jadi panitia adalah adik tingkat wisudawan.

RP atau Rudi Perdana alias Riwayat Pintar adalah koordinator seksi kesenian. Ia mengurusi paduan suara, penampilan tari sebelum acara dimulai, dan penyanyi solo. Baik penyanyi dari kalangan wisudawan, dosen, maupun orang tua.

Anita adalah koordinator seksi sambutan. Tugasnya memastikan bahwa sambutan direktur, sambutan wisudawan, dan sambutan atas nama orang tua, siap tampil. Khusus untuk sambutan orang tua dan wisudawan, naskahnya disiapkan sebagai acuan. Wakil wisudawan dan wakil orang tua boleh menggunakannya, menambah, mengurangi, pun tidak menggunakannya sama sekali. Yang penting, mereka siap.

Burhan Magenta adalah koordinator pemanfaatan audio visual. Urusannya mulai pemotretan, rekaman video, live video, hingga video wisudawan terbaik beserta nilai yang diperoleh untuk ditayangkan saat nama mereka disebut.

Iyan Banjar, Ulis Harat, Rahman, dkk, bertugas menyiapkan perlengkapan acara. Dimulai dari sisi panggung, sound system, bendera, palu sidang, hingga nampan untuk plakat dan hadiah bagi wisudawan terbaik.

Ratih adalah koordinator acara dan pelayanan tamu. Tugasnya menyusun draft susunan acara, menghubungi orang yang bertugas, hingga pelayanan tamu. Ia harus mengecek petugas setiap tahapan acara, alat atau perlengkapan acara, durasi waktu setiap mata acara, kepastian jumlah tamu yang hadir hingga menempatkan petugas penerima dan pelayanan tamu. Misalnya informasi arah toilet pria dan wanita. Termasuk pula petugas dan ruang kesehatan untuk berjaga-jaga.

Alhamdulillah, semua persiapan telah tuntas. Pagi ini, acara wisuda dimulai tepat pukul delapan. Acara berlangsung dengan khidmat dalam suasana ke-Indonesia-an dan ke-Kutai-an (sebagai implementasi mencintai dan menghargai kearifan lokal). Hebatnya, semua berlangsung tanpa bertele-tele.

Yang membanggakan, prosesi wisuda bagi lulusan dengan predikat terbaik dan pujian sebanyak 53 dari 513 lulusan yang dikhususkan dan diberi hadiah khusus oleh direktur. Lebih dari itu, dan ini mengejutkan, adalah guru para wisudawan lulus terbaik semasa di SMA/SMK/MA diundang dan diberi penghargaan pada wisuda ini.

Sebagai koordinator acara, Ratih senang karena pewara (MC) sangat minim perannya. Tahapan-tahapan acara mengalir sesuai urutan karena setiap yang terlibat sudah tahu apa tugasnya dan kapan melakukannya.

Sesuai rencana, antar-mata acara selalu ada selingan lagu nasional dan lagu daerah. Bahkan, lagu daerah itu diiringi pula tariannya. Yang surprise adalah, penyanyi, pemain musik, bahkan penari adalah wisudawan yang muncul serta-merta dari kursinya. Undangan wisuda terkesan oleh kesan dan pesan wisudawan yang terasa sangat alami. Kesan dan pesan itu dijaring dari seluruh wisudawan.

Banyak kesan yang sangat mengharukan. Tidak sedikit pula pesan dan saran (kritik) disampaikan dengan bahasa gurauan, candaan, sehingga acara khidmat itu beraroma macam-macam rasa. Apalagi selesai menyampaikan sambutan atas nama wisudawan, paduan suara menyanyikan lagu yang syairnya berterima kasih kepada orang tua.

Yang juga mengharukan adalah tradisi Polnes menghargai lulusan dengan predikat cum laude. Mereka yang dinyatakan cum laude diberi tempat duduk yang terpisah. Mereka diapit kedua orang tua dan diwisuda tidak bersamaan dengan wisudawan lainnya. Direktur yang mendatangi wisudawan yang didampingi kedua orang tua.

Lulusan terbaik ini menerima piagam penghargaan, plakat, dan sebuah jam tangan. Pada wisuda kali ini, ada 53 lulusan cum laude dari 513 wisudawan. Tradisi ini tentu sudah lama diketahui seluruh mahasiswa dan diharapkan memotivasi untuk memperoleh kelulusan dengan predikat terbaik atau pujian.

Mereka yang menerima penghargaan cum laude terbagi dalam dua kategori yaitu terbaik dan pujian. Guru SMA/SMK/MA wisudawan kategori terbaik diundang untuk mendapatkan penghargaan. Ini mencitrakan bahwa predikat terbaik itu tidak serta-merta. Ia juga lahir dari pendidikan sebelumnya.

Saat dinyatakan nama wisudawan yang cum laude, di tiga layar besar tampak foto wisudawan dimaksud. Tidak sebagaimana foto kartu mahasiswa melainkan didesain dan disertai 'caption' lucu-lucu. Umumnya foto mereka seperti iklan produk tertentu yang dipelesetkan.

Begitu senat keluar dari acara wisuda, terdengarlah riuh rendah suara nyanyian. Yel-yel bak demo di luar ruang. Undangan yang belum pernah menghadiri wisuda akan mengira ada keributan karena terdengar seruan-seruan mahasiswa dengan suara nyaring sambil mengacung-acungkan poster.

Poster itu bertulis nama wisudawan. Pengacung poster adalah liaison officer (LO; penghubung). Adik tingkat, kawan-kawan Ratih yang bertugas sebagai LO yang mencari keluarga wisudawan. Mereka mengantarkan orang tua wisudawan ke ruang jurusan masing-masing untuk bersantap siang. Tak kalah ramainya dengan pengacung poster adalah ingar-bingar arakan para wisudawan oleh juniornya. Meriah. Dielu-elukan. Disambut yel-yel dengan lagu dan tarian kreasi bagai pahlawan datang dari medan juang.

Banyak undangan yang bertanya-tanya, dari mana biaya penyambutan itu? Biaya itu didapat dari usaha para junior. Di antaranya menjual minuman dan makanan berupa kue. Ini dilakukan oleh mahasiswa yang bertugas di bidang danus atau dana usaha. Sebagian mahasiswa yang lain bertugas di dekorasi, musik, arakan, dengan segala properti dan aksesorinya.

Sebelum masuk ke ruang bersantap, para orang tua wisudawan dapat melihat pajangan tugas akhir anaknya. Dipajang secara rapi layaknya pameran di ruang parkir yang sudah disulap mahasiswa menjadi ruang makan dengan hiasan tematik.

Ratih dan kawan-kawan yang bertugas sebagai panitia acara wisuda puas dengan berlangsungnya acara ini dengan baik. Sesuai dengan rencana. Pujian, baik yang ia dengar dari orang tua wisudawan, laporan teman-temannya, sangat mengharukan Ratih. Direktur bahkan secara khusus menemui Ratih untuk menyatakan penghargaannya. Ia menilai acara wisuda tahun ini lebih berkualitas dan sangat mengesankan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Lebih simpel, membanggakan, mengharukan.

"Kamu dan kawan-kawanmu luar biasa. Mudah-mudahan, saat giliranmu diwisuda, kamu akan mendapatkan suasana yang sama atau lebih dari yang telah kalian perlihatkan pada wisuda kali ini," kata direktur yang disertai wakil-wakil direktur.

Peran Ratih memang menonjol karena bersinggungan dengan kegiatan inti wisuda yaitu prosesi wisuda. Pada acara ini, kemampuan berkolaborasi, berkoordinasi, bersinergi dengan kepekaan dan pemantauan berlangsungnya setiap tahapan acara. Prosesi wisuda adalah wadah bertemunya semua kegiatan seksi-seksi.

Rancang pemanfaatan audio visual yang dikomandoi Burhan Magenta mendapat decak kagum dari seluruh undangan yang hadir. Terutama saat penayangan kesan dan pesan mahasiswa melalui empat layar besar, tiga di depan, satu di belakang.

Acara yang berlangsung khidmat tak kehilangan nuansa meriahnya. Hal itu terlihat dari respons undangan, apalagi wisudawan, saat menonton melalui layar. Foto-foto wisudawan saat menyampaikan kesan-kesannya selama mengikuti pendidikan di perguruan tinggi ini. Lucu-lucu.

Banyak pula hadirin yang dibuat terharu saat mendengar lagu-lagu yang dinyanyikan paduan suara. Lagu-lagu nasional itu berselang-seling dengan lagu terima kasih kepada orang tua dan almamater. Keharuan sangat terasa saat para wisudawan serentak memberikan bunga kepada orang tua masing-masing sebagai tanda terima kasih. Demikian pula pemberian bunga kepada seluruh senat yang duduk di panggung kehormatan.

Prosesi wisuda selesai, arak-arakan junior berakhir, penerimaan dan pelayanan santap siang untuk orang tua wisudawan selesai dilaksanakan. Para panitia dari unsur mahasiswa, yaitu Ratih dan kawan-kawan, berpelukan. Air mata haru mengalir dari sudut mata mereka.

Ratih kemudian menghindar dari kerumunan kawan-kawannya. Ia melihat seorang ibu yang duduk di kursi roda berurai air mata. Di belakang kursi roda itu, seorang wisudawan, masih dengan air mata, mendorong kursi roda ke sudut kampus. Tampaknya mereka sedang menunggu kendaraan untuk pulang.

Ratih terkesima oleh apa yang dilihatnya. Ia tahu wisudawan itu bernama Bayu yang lulus dengan predikat cum laude. Ratih ingin menyampaikan ucapan selamat kepada wanita yang duduk di kursi roda itu. Sekaligus dia ingin tahu, di mana suami wanita itu dan mengapa tak hadir menyaksikan putranya diwisuda dengan predikat membanggakan. (bersambung)

Serial selanjutnya, ketuk
 
Tentang penulis 
Syafruddin Pernyata atau Es Pernyata, lahir Loa Tebu (Tenggarong), 28 Agustus 1958. Alumnus Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Mulawarman serta Program Studi Linguistik (Magister) Universitas Padjadjaran Bandung. Pernah bekerja sebagai guru,  dosen,  wartawan, dan birokrat. Tugas sebagai birokrat ialah Karo Humas, Kepala Dinas Pendidikan, Kaban Perpustakaan, Kepala Diklat, dan Kepala Dinas Pariwisata Kaltim.
Karya yang diterbitkan: Harga Diri (kumpulan cerpen),  Aku Mencintaimu Shanyuan (novel),  Nanang Tangguh dan Galuh Intan (novel), Belajar dari Universitas Kehidupan (kisah motivasi), Ujar Mentor Jilid 1 dan 2 (buku motivasi), Zulaiha (novel), Aku Bulan Kamu Senja (novel), Awan (novel).

 

 

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar