Cerpen

Ratih Tanpa Smartphone (Bagian-28): Mabuk Cinta

person access_time 1 year ago remove_red_eyeDikunjungi 965 Kali
Ratih Tanpa Smartphone (Bagian-28): Mabuk Cinta

Ilustrasi: Nurmaya Liwang (kaltimkece.id)

Cinta bisa datang kapan saja. Meskipun tak selalu menghapus yang telah bersemi. 
(Ingin membaca cerita bersambung ini dari awal? Ketuk di sini). 

Ditulis Oleh: Es Pernyata
29 Oktober 2019

SIMPANG tiga jalan raya Samarinda-Bontang dan Muara Badak baru saja dilewati. Jalan agak menanjak tapi cukup landai. Rumah-rumah panggung di kiri kanan jalan masih sepi seperti belum ada aktivitas penghuni. Jalan menuju Muara Badak tak selebar jalan Samarinda- Bontang namun masih nyaman dilewati.

Pucuk-pucuk halaban, sirih-sirihan, menyembul di antara padang ilalang dan paku-pakuan. Beberapa pohon angsana lesu dan terasa asing menyambut Yusuf dan Ratih yang lewat di situ. Tak jelas, apakah ini bekas lahan terlantar atau bekas dibakar lalu ditanami pohon asing angsana. Yang pasti, pohon angsana itu tidak serapat seperti di kawasan perkebunan hutan tanaman industri. Pohon angsana di sini kesepian, tidak terurus, bagai kerakap tumbuh di atas batu. Hidup segan mati tak mau.

"Abang bawa peralatan snorkeling dan diving?" Ratih tiba-tiba memecah kesunyian. Ya, sejak Ratih menyinggung nama asing Burhan Magenta Pembualan dan Anita Kok Tega, batin Yusuf dipenuhi praduga. Sejak itu Yusuf tak banyak bicara.

Yusuf heran, mengapa di nama Burhan Magenta ada kata 'pembualan?' Yusuf tahu bahwa kata pembualan bukan nama marga seperti Panjaitan, Pangaribuan, Pandiangan, Pakpahan, Pardede, dan Pardosi. Yusuf Kertanegara, meski berasal dari Jakarta, tahu bahwa 'pembualan" adalah kata yang dipungut dari bahasa Banjar yang berarti 'sombong.'

Lantas, mengapa Ratih memberi cap pembualan kepada Burhan Magenta? Tidakkah ini adalah ekspresi kekecewaan Ratih yang terlontar serta-merta? Mengapa dia kecewa. Jangan-jangan Burhan adalah pemuda idaman Ratih? Mungkin benar, mata Ratih terpejam tapi lamunannya ke mana-mana. Ke lelaki bernama Burhan Magenta, pikir Yusuf.

Siapa pula Anita? Mengapa Anita diberi label 'kok tega?' Tidakkah ini juga ekspresi kekecewaan Ratih kepada nama itu? Tidakkah Ratih terlibat dalam cinta segitiga dan ketika sesak dadanya, diajaknya aku ke utara Badak untuk melipur lara dada dan pikirannya yang sesak, agar terlupa, move on, dan aku hanyalah sopirnya belaka? Batin Yusuf bertanya-tanya.

"Bawa tidak?"

"Tidak. Bawa hatiku saja."

"Hahahaha... Mau dipersembahkan kepada planton, kakap, hiu, atau cakalang."

"Untuk Tirah Nurani."

"Siapa itu?"

"Anak kepala desa."

"Desa mana?"

"Desa Suka Maju kecamatan Cibadak, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat."

"Salah jurusan, dong. Ini jalan ke arah Desa Tanjung Limau, Muara Badak."

Yusuf Kertanegara tak kuat menyembunyikan perasaannya. Dia membalas pernyataan Ratih sebelumnya yang menyebut-nyebut nama Burhan Magenta. Tirah Nurani adalah nama karangan Yusuf saja. Yang penting nama perempuan. Bukan nama laki-laki walaupun Tirah mirip dengan Ratih.

Mereka akhirnya tiba di Desa Tanjung Limau. Yusuf berdecak kagum saat memasuki gapura berhiaskan kapal pinisi yang dibangun dari bambu dan ditopang oleh dua pilar besar kumpulan bambu. Konstruksi yang menakjubkan sekaligus unik dan beda.

Yusuf juga terkesima oleh lapangan luas yang dijadikan tempat parkir. Di sekeliling lapangan, berhiaskan taman yang indah dan pepohonan. Sebuah tulisan besar terpampang. "Selamat Datang di Pantai Bahagia."

Beberapa orang menyapa Ratih dengan ramah dan membungkukkan badan seraya tangan kanannya memegang dada. Ini adalah adat yang dibiasakan pada semua karyawan sebagai ekspresi penghormatan pada tamu

Kekaguman Yusuf tiada hentinya saat melihat warung makan, toilet, dan musala. Semua rapi, bersih, dan terawat. Yusuf tak menduga, ada tempat wisata di Kalimantan, di Kaltim, bercita rasa kuat dan telah menerapkan prinsip-prinsip sapta pesona: aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, dan kenangan.

"Beliau adalah Haji Acok. Beliau yang punya usaha ini," kata Ratih memperkenalkan Haji Acok kepada Yusuf Kertanegara. Percakapan mengalir dengan lancar. Kadang diselingi tawa. Yusuf Kertanegara mudah beradaptasi. Kemampuan komunikasi antarpesona-nya baik sekali. Kepada siapa saja.

"Saya banyak kenal orang Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja saat saya bekerja di Makassar. Acok itu biasanya hanya nama panggilan. Mohon maaf, Pak Haji, nama sebenarnya pasti bukan Acok, kan?"

Ratih sempat terkejut oleh pengakuan Yusuf bahwa dia pernah bekerja di Makassar. Jauh juga perjalanan anak muda ini. Pasti banyak pula pengalamannya.

"Ya, Pak. Namaku Syaiful Badaruddin."

Ratih terkejut. Baru hari ini ia tahu bahwa Haji Acok itu bukan nama sebenarnya. Itu nama panggilan.

Setelah makan siang, Haji Acok bersama Ratih dan Yusuf meninjau Pantai Bahagia dengan perahu layar motor (PLM) Pantai Bahagia. Perahu ini memang dilengkapi layar. Bila angin bertiup kencang, mesin bisa dimatikan dan pergerakan perahu cukup menggunakan layar.

Sejak tiba di tempat parkiran tadi, Yusuf sibuk dengan kameranya. Dia memfoto semua sudut. Demikian halnya saat tiba di Pantai Bahagia. Pohon-pohon difoto. Gazebo difoto. Pantai difoto. Kulit kerang difoto. Dahan kayu tua difoto. Dia tidak berswafoto. Tidak juga memoto Ratih. Kesal hati Ratih dibuatnya.

"Pak Haji, di kapal ada pancing?"

"Di rumah, Pak. Kalau mau mancing, sempat ini. Kita beli umpan dulu. Bawa box dan batu es."

"Hahahaha...Pak Haji yakin pasti dapat?"

"Insya Allah."

"Kalau begitu, kita kembali dulu ambil pancing, umpan, dan box untuk ikannya."

"Tidak, Pak. Biar sebentar anak-anak antar ke sini."

Haji Acok mengeluarkan telepon androidnya. Dia bercakap-cakap dengan bahasa Bugis.

Hanya sekitar 15 menit, sebuah perahu bermesin ketinting merapat. Peralatan memancing segera berpindah tangan.

Tanpa membuang waktu, Haji Acok, Yusuf, dan Ratih diiringi dua orang karyawan sudah di atas PLM Bahagia. Haji Acok mengecek lokasi melalui GPS. Dia kemudian memberi isyarat agar motoris menghentikan kapal.

Haji Acok tidak ikut memancing. Dia hanya membantu mempersiapkan alat pancing, umpan, dan perlengkapan lainnya. Yang memancing hanya Yusuf dan seorang karyawan Haji Acok.

Sebenarnya peralatan memancing cukup untuk empat orang tapi Ratih belum berani mencobanya. Ia memilih duduk sambil memandangi joran yang dipegang Yusuf. Belum lima menit berlalu, joran Yusuf sudah terlihat lentur sekali. Ratih berteriak-teriak menyaksikan Yusuf menggulung tali pancingnya. Seekor kakap merah sebesar telapak kaki naik di atas perahu.

Belum selesai mata pancing dikeluarkan dari mulutnya, Dudi, karyawan Haji Acok juga menggulung tali pancingnya. Dilihat dari gerakan tangannya, tampaknya ikan yang menyambar umpan Dudi bisa lebih besar. Sebelum tiba di permukaan, ikan itu berontak. Ratih lagi-lagi berteriak girang melihat ikan itu. Wow, luar biasa. Dua kali lipat besarnya dari ikan pertama yang diperoleh Yusuf.

Akhirnya, dibantu Haji Acok, Ratih pun ikut memancing. Ia dipandu oleh Haji Acok. Ratih berdoa semoga Allah memberinya kenikmatan sebagaimana dilihatnya Yusuf dan Dudi.

Tiba-tiba ia merasakan ujung jorannya bergetar. Ratih menggulung tali pancingnya. Wajahnya berbinar-binar. Tampak tangannya payah mengendalikan ikan yang membawa mata kailnya ke kiri dan ke kanan, ke mana-mana karena ingin melepaskan diri dari mata pancing itu.

Haji Acok dan Yusuf tertawa melihat gerakan tangan Ratih. Duduk Ratih pun sudah tidak sempurna. Ia terus menggulung dan merasakan beratnya ikan yang ditarik. Tangannya terasa penat menggulung tali pancing dari kedalaman sekira 20 meter.

Ratih merasa ikan itu lepas dari pancingnya. Wajahnya kecewa. Ia menggulung tali pancing lagi. Tiba-tiba terasa berat.

"Wow, masih ada," teriaknya. Ratih makin bersemangat. Ikan itu berontak saat akan keluar dari habitatnya.

"Hahahaha...." Yusuf dan haji Acok serta dua karyawannya tertawa melihat ikan yang naik seukuran tiga jari saja. Ratih cemberut. Dia tidak menyangka, ikan yang terasa berat di jorannya tadi hanya sebesar itu.

"Tunggu saatnya, induknya yang akan naik," kata Ratih sambil melabuh mata pancing itu kembali.

Sementara itu, Yusuf dan Dudi bergantian menarik pancingnya. Mungkin sudah lebih tiga puluh ekor ikan besar-besar masuk ke box. Ratih kesal, pancingnya tak disentuh ikan lagi. Ia mencoba sabar tapi hari terus bergeser ke sore dan Yusuf mengajak Haji Acok kembali ke dermaga.

Yusuf Kertanegara pura-pura tak melihat ekspresi cemberut di wajah Ratih yang masih penasaran karena hanya seekor ikan yang didapatnya. Itupun 'cucunya.'

Saat perjalanan pulang, Ratih lebih banyak diam. Bukan karena masih kesal dengan perolehannya melainkan karena lelah. Lelah tubuhnya. Lelah batinnya. Hanya sehari bersama Yusuf Kertanegara, dia telah merasakan ada getaran-getaran di jiwanya.

"Kalau ngantuk, tidurlah," kata Yusuf.

"Ya, aku agak mabuk."

"Biasa. Main di laut, ya, mabuk laut. Asal jangan mabuk cinta."

Ratih menoleh. Dipandanginya wajah Yusuf. Yusuf tahu ia sedang dipandangi tapi ia pura-pura fokus ke jalan.

"Memang kamu tidak cocok di laut. Mungkin di dasar laut. Menyelam."

"Ya, sih. Mungkin tidak cocok. Kalau Pak Muchlis ke Muara Badak, aku akan ikut belajar menyelam lagi."

"Ya, kamu tidak cocok jadi pemancing."

"Sok."

"Dapatnya ikan baru lahir. Kasihan."

"Belum saatnya saja."

"Bukan. Bukan belum saatnya. Kamu tidak cocok jadi pemancing. Sungguh. Kamu itu sebaiknya dipancing!" Yusuf tertawa lepas. Senang sekali tampaknya.

Ayah dan ibu Ratih terkejut saat box ikan itu nyaris penuh dengan kakap, terkulu, bambangan, besar-besar. Semua diserahkan Yusuf kepada keluarga itu.

"Terlalu banyak ini, Nak. Ambillah sebagian," kata Ibu Ratih. Ratih tertawa mendengar kata-kata ibunya.

"Bang Yusuf itu tidak punya dapur. Dia kalau mau makan tinggal pesan. Kalau pun punya dapur, belum tentu dia bisa masak," kata Ratih.

Yusuf tersenyum. Pamit. Meninggalkan rumah sederhana itu ditemani sore menjelang senja.

***

Belum lama dan mungkin belum jauh Yusuf meninggalkan rumah itu, ibu Ratih memberi tahu bahwa siang tadi ada teman Ratih yang mau bertemu.

"Namanya Burhan Magenta. Katanya teman kuliah." Duh! (bersambung)

Serial selanjutnya, ketuk
Tentang penulis 
Syafruddin Pernyata atau Es Pernyata, lahir Loa Tebu (Tenggarong), 28 Agustus 1958. Alumnus Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Mulawarman serta Program Studi Linguistik (Magister) Universitas Padjadjaran Bandung. Pernah bekerja sebagai guru,  dosen,  wartawan, dan birokrat. Tugas sebagai birokrat ialah Karo Humas, Kepala Dinas Pendidikan, Kaban Perpustakaan, Kepala Diklat, dan Kepala Dinas Pariwisata Kaltim.
Karya yang diterbitkan: Harga Diri (kumpulan cerpen),  Aku Mencintaimu Shanyuan (novel),  Nanang Tangguh dan Galuh Intan (novel), Belajar dari Universitas Kehidupan (kisah motivasi), Ujar Mentor Jilid 1 dan 2 (buku motivasi), Zulaiha (novel), Aku Bulan Kamu Senja (novel), Awan (novel).
folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar