Cerpen

Ratih Tanpa Smartphone (Bagian-38): Tamu

person access_time 1 week ago remove_red_eyeDikunjungi 139 Kali
Ratih Tanpa Smartphone (Bagian-38): Tamu

Ilustrasi: Nurmaya Liwang (kaltimkece.id)

Perjalanan yang menyenangkan. Ketika pulang, lebih lagi senang.  
(Ingin membaca cerita bersambung ini dari awal? Ketuk di sini). 

Ditulis Oleh: Es Pernyata
08 November 2019

 

MINGGU pagi. Gerimis. Matahari malas. Hingga pukul sembilan, langit tetap mendung. Palm ekor tupai yang berselang seling dengan pucuk merah di tepi pagar kedinginan. Angin tak bertiup. Jalan-jalan basah. Pekarangan basah. Mata Ratih juga basah.

Penyesalan selalu datang belakangan. Tak pernah duluan. Penyesalan itu adalah penyakit. Penyakit karena perbuatan diri sendiri.

Mengapa harus menyalahkan Yusuf? Yusuf bukan tunangan apalagi suami. Yusuf hanyalah pemuda yang baik, peduli, dan penolong. Mengapa penolong itu harus diperlakukan sebagai tersangka? Tersangka apa? Kejahatan apa?

Ratih tak bisa lepas dari rasa sesalnya. Tidak pada tempatnya ia berlaku tidak sopan kepada Yusuf Kertanegara --pemilik hotel bintang empat, pengusaha sukses, baik budi, dan penolong --di hadapan general manager, anak buahnya.

"Apakah tidak membalas pesan dan tidak mengangkat telepon karena sibuk mengurus orangtua yang sakit adalah kesalahan? Kalaulah alasan sibuk mempersiapkan acara pernikahan, apa pula urusannya dengan aku? Aku ini siapa? Apa kedudukanku di hadapan Yusuf Kertanegara? Tunangan bukan. Atasan bukan," jerit batin Ratih.

"Aku hanyalah manusia biasa. Aku salah. Aku harus minta maaf. Tapi apakah bang Yusuf akan memaafkanku?"

Ratih menghidupkan telepon yang sudah seminggu offline. Ada beberapa pesan WhatsApp. Tidak terlalu penting. Ratih mencari-cari apakah ada pesan dari Yusuf yang telah ia lukai hatinya. Yusuf yang telah ia rendahkan derajatnya di depan anak buahnya. Tidak ada.

"Maafkan aku, Bang. Tak sepatutnya aku berlaku seperti itu kepada Abang. Selama ini, Abang telah banyak membantuku dan keluargaku. Harusnya aku berterima kasih karena aku telah berutang budi kepada Abang. Harusnya aku bersyukur atas kepedulian bahkan dukungan Abang untuk tugas-tugasku membantu Haji Acok. Maafkan aku, Bang. Aku malu. Aku tak tahu diri. Sekali lagi, maafkan aku lahir batin." Ratih mengirimkan pesannya.

Ratih tidak ingin membaca pesan itu sekali lagi. Ia takut perasaannya berubah. Tidak jadi meminta maaf. Ia sadar, ia belum dewasa. Perasaannya saja bahwa dia sudah matang.

"Aku masih kekanak-kanakan," kata Ratih kepada dirinya sendiri.

Ratih sengaja tidak menelepon. Cukup mengirim pesan saja. Ia khawatir kalau Yusuf mengangkat telepon lalu marah padanya. Ia tak kuat. Meskipun itu adalah hak Yusuf namun Ratih takut mendengarnya.

Sebuah pesan masuk dari Yusuf Kertanegara.

"Aaaashiyappp." Hanya itu balasannya.

Antara geli, suka, benci; benar-benar cinta, langsung bergelora dalam dadanya.

"Awas, kalau ketemu nanti, ku... Ah... bingung aku," bisik Ratih dalam hatinya.

Tiba-tiba rindu menyergap Ratih. Ingin sekali ia berjumpa dengan Yusuf Kertanegara. Pikiran Ratih pun ke mana-mana. Bingung sendiri. Pusing sendiri. Ratih tak ingin bermenung diri di rumah. Kesendirian akan menyudutkannya kepada rasa sesal tak berkesudahan. Ia tahu, salah satu cara melupakan rasa sesal itu adalah dengan menyibukkan diri.

Ratih mengontak sahabat barunya yang tergabung dalam komunitas pencinta wisata dan budaya. Mereka adalah Muhammad Noor, Fadli Yessradiogv, Irvan Maulana, Eddy Yan, Chiel Ipeth, Paula Heline Nisansha, dan Yana Benthong, Muhammad Shokheh, Hadi Ibn Abdul Hamid, Syafwan Yuliansyah Al Hussein melalui pesan WhatsApp. Ia mengajak mereka untuk mendaki sebuah bukit di Tenggarong. Bukit Biru namanya.

Sudah lama Ratih ingin memenuhi keinginannya mendaki bukit itu sejak ia tidak bisa turut serta bersama teman-teman seangkatannya kuliah pergi ke sana. Saat itu, Ratih tak bisa ikut karena harus bekerja di warung makan Haji Nanang Kaya.

"Kok, mendadak?" Chiel Ipeth bertanya.

"Mau, sih, ikut tapi terlanjur janji dengan teman mau nonton," balas Paula.

"Ada keluarga nikah," kata Hadi.

"Saya pindah kerja ke Berau," ujar Shokheh.

Akhirnya, Ratih berangkat ke Tenggarong hanya dengan Fadli Yessradiogv dan Muhammad Noor serta beberapa teman Fadl Fadli Ahmad yang lebih dulu berangkat.

Sudah lama Ratih berkeinginan trip ke Bukit Biru Tenggarong bahkan jauh sebelum trip ke Batu Dinding, Samboja, Kutai Kartanegara. Ratih sebagai mahasiswa prodi manajemen pengembangan destinasi pariwisata, menganggap trip ke tempat wisata di Samarinda, Balikpapan, Tenggarong, dan Bontang, adalah agenda rutin. Tidak semua bisa Ratih ikuti karena kesibukannya sebagai pekerja di warung makan Haji Nanang Kaya.

Ratih sempat ikut trip ke Batu Dinding kecamatan Samboja tapi belum jua bisa ke Bukit Biru. Barulah hari ini tanpa rencana alias dadakan dia dan beberapa teman mewujudkan impian tersebut. Teman-temannya yang sudah pernah ke bukit Biru menginformasikan bahwa trek ke Bukit biru banyak tanjakan terjal.

Namun, keinginan untuk menikmati keindahan alam ciptaan Allah terus bergelora dalam dadanya. Akhirnya, ditemani Eddy Yan, Muhammad Noor, Fadli Yessradiogv, Ratih pun menyusul kawan-kawan yang sudah lebih dulu berangkat.

Ratih tiba di simpang tiga, tidak jauh selepas Hotel Grand Elty Tenggarong. Jalan kecil ini cukup mulus menuju titik perhentian atau parkir mobil di desa Sumber Sari Tenggarong. Setelah itu, mereka harus berjalan kaki. Awalnya, jalan menuju puncak sangat nyaman. Jalan mirip gang di pemukiman itu dibangun dari paving dan dibuat dua jalur. Jalur naik dan turun. Di tengahnya dipasang pembatas terbuat dari pipa besi. Panjangnya hanya sekira 400-500 meter.

Jalan paving berakhir. Ratih tiba di sebuah pondok yang berjualan minuman. Sebenarnya, bagi yang mengendarai roda dua, perjalanan berkendara bisa sampai di sini dan tarif parkirnya 5.000 rupiah per sepeda motor. Ratih menumpang Fadli Yessradiogv yang membawa kendaraan roda empat.

Karena treknya tak beda dengan gang di pemukiman, Ratih, Eddy, dan Fadli memilih berjalan kaki saja melewati jalan paving ini hingga tiba di kedai minuman itu. Kawan-kawan lainnya sudah menunggu. Selanjutnya, mulailah naik ke jalur pendakian. Ratih berusaha santai mengikuti jejak kawan yang di depan.

Kepada Fadli, Ratih mengajak untuk tidak buru-buru. Fadli sepakat. "Kita santai saja," kata lelaki berusia 31 tahun yang menyukai musik jazz ini. Ia beriringan dengan Eddy Yan. Sementara Muhammad Noor sudah jauh di depan bergabung dengan Fadli Ahmad dkk. Ratih melihat Muhammad Noor yang ringan sekali langkahnya saat mendaki tanjakan yang mulai terjal.

Nafas Ratih mulai terdengar. Dia menoleh ke arah Fadli dan Eddy. Lelah tak dapat disembunyikan. Fadli mengisyaratkan agar beristirahat sejenak. Sesungguhnya nafas Ratih sudah tersengal-sengal. Saat berhenti, Ratih merasa mual. Maka, dia pun berjalan-jalan kecil agar mual tak berlanjut muntah.

Puncak Bukit Biru masih jauh. Mendaki pada sore menjelang senja ini memang memanjakan mata tapi juga meragukan. Hamparan sawah di bawah kaki bukit memang indah. Tapi puncak terjal menjulang sekira 60 derajat itu juga meragukan batin, apakah Ratih bisa mencapainya?

Istirahat tiga menit dirasa sudah cukup. Tak boleh berlama-lama. Takut kehilangan momentum sunset di musim panas dengan langit cerah ini. Mereka pun melangkah dan bersepakat, sekira 30 meter lagi akan istirahat. Kondisi trek semakin mengkhawatirkan. Terlalu terjal. Keraguan muncul saat melihat gundukan batu-batu gundul di dua jalur pendakian yang sama susahnya. Kecamuk perasaan menyeruak saat kaki melangkah menuju puncak dan membayangkan sulitnya kelak saat penurunan. Apalagi malam.

Kepalang basah. Berharap pertolongan Allah. Ratih pun mencoba meraih tali di depan. Batang kayu yang semula diharapkan membantu beban tubuhnya, terpaksa dibuang. Susah payah sangat terasa saat kakinya melangkah. Salahnya sendiri mengapa menggunakan celana panjang slim fit sehingga menyusahkan gerakannya.

Baju mereka basah. Keringat bercucuran. Wajah Eddy, Fadli seperti orang habis berwudhu. Sayangnya bukan segar melainkan pucat. Ratih? Sama saja. Sedangkan tower di puncak bukit masih sekira 100 meter dan tampang puncak bukit sangat mendebarkan. Tajam! Masya Allah, sampaikah betis ini ke puncak? Pikir Ratih.

Seraya berharap pertolongan Allah, Ratih melangkah lagi dan terus fokus untuk memastikan telapak kaki tidak berjejak pada jalur yang salah. Pendakian di tebing terjal ini sangat dibantu oleh tali yang cukup kuat. Ratih berterima kasih pada siapapun yang telah menyiapkan tali ini. Tanpa tali di jalur ini, pasti Ratih akan mengurungkan niatnya untuk terus ke puncak.

Alhamdulillah, akhirnya gundukan batu mirip di Batu Dinding Samboja sudah mereka capai. Ratih terharu. Keharuan itu menyebabkan kabut di matanya. Ratih bersyukur, dia bisa menikmati keindahan ciptaan Allah dari sebuah bukit dengan hamparan sawah di bawahnya. Sayup dia melihat rumah-rumah warga dan kelokan sungai Mahakam.

Lima belas menit yang indah. Matahari beranjak turun. Matahari tak ingin berlama-lama menyaksikan mereka bersuka cita. Temaram senja menyambut malam. Sesaat lagi bukit hanya menyisakan gelap.

Perasaan masygul dan bimbang memukul-mukul dada. Bisakah menuruni tebing terjal ini? Kalau terpeleset sedikit, tidakkah hanya tinggal nama?

Akhirnya, Ratih, Fadli, Eddy, Muhammad Noor, dibantu sahabatnya dari Loa Duri bernama Fadli Ahmad berhasil menuruni tebing terjal itu. Tak seperti dibayangkan. Menuruni bukit, Ratih jauh lebih berani daripada mendaki. Pandangan yang terbatas karena malam membuat gugup; nervous hilang. Petunjuk Fadli Ahmad agar posisi tubuh seperti memanjat tebing dengan tetap berpegang erat pada tali, membantu keberanian melangkahkan kaki.

Hanya memerlukan waktu 35 menit untuk turun dari bukit ini, tanpa istirahat, hingga berada di kedai minuman.

Alhamdulillah, inilah trip yang tak akan Ratih lupakan sepanjang hayat masih di kandung badan. Ratih sering mengatakan kepada kawan-kawannya, tidak semua orang bisa menikmati keindahan ciptaan Allah karena belum tentu sehat dan ada kesempatan.

Dalam perjalanan pulang, mereka tak henti-hentinya memutar ulang kisah pendakian. Obrolan itu tak menyadarkan mereka bahwa kendaraan yang mereka tumpangi sudah memasuki kota Samarinda.

Ratih tiba di depan rumahnya. Jantungnya berdegup kencang karena di depan rumahnya, ia melihat tiga buah mobil mewah terparkir. Ia tidak tahu, siapa pemilik mobil itu. Yang jelas, bukan mobil Yusuf Kertanegara. Mobil Yusuf hanyalah Avanza.

Dia mengucapkan salam dengan tersenyum seraya memandang wajah kedua orang tuanya. Ia mencium tangan mereka. Juga menyalami semua tamunya sambil meminta maaf karena baju dan celananya kotor.

"Bagaimana? Capek?" Ayah Ratih bertanya. Ratih mengangguk. Ia permisi ke belakang. Ibunya buru-buru menyusul. Wanita paruh baya itu memeluk Ratih sambil berkata dengan suara amat pelan.

"Tamu itu adalah ayah dan ibu Yusuf beserta keluarganya. Mereka melamarkan anaknya, untukmu." Bisik ibunya. (bersambung)

Serial selanjutnya, ketuk:
 
Tentang penulis 
Syafruddin Pernyata atau Es Pernyata, lahir Loa Tebu (Tenggarong), 28 Agustus 1958. Alumnus Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Mulawarman serta Program Studi Linguistik (Magister) Universitas Padjadjaran Bandung. Pernah bekerja sebagai guru,  dosen,  wartawan, dan birokrat. Tugas sebagai birokrat ialah Karo Humas, Kepala Dinas Pendidikan, Kaban Perpustakaan, Kepala Diklat, dan Kepala Dinas Pariwisata Kaltim.
Karya yang diterbitkan: Harga Diri (kumpulan cerpen),  Aku Mencintaimu Shanyuan (novel),  Nanang Tangguh dan Galuh Intan (novel), Belajar dari Universitas Kehidupan (kisah motivasi), Ujar Mentor Jilid 1 dan 2 (buku motivasi), Zulaiha (novel), Aku Bulan Kamu Senja (novel), Awan (novel).

 

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar