SASTRA

Ulasan Novel “Awan”: Segumpal Mega, Sejuta Makna

person access_time 2 months ago remove_red_eyeDikunjungi 791 Kali
Ulasan Novel “Awan”: Segumpal Mega, Sejuta Makna

Foto: koleksi pribadi Syafruddin Pernyata

Riuh nelangsa
Ramai air mata
Terselip tawa

Ditulis Oleh: Fel GM
09 September 2018

kaltimkece.id Syahdu-pilu melawan kemelaratan dan menggapai kesuksesan mestinya adalah kisah yang tak terlampau istimewa. Apalagi ketika ia, tokoh utamanya, adalah fiksi maupun setengah nyata belaka. 

Tanpa bermaksud meremehkan, cerita serupa yang berpangkal dari kejadian nyata justru sudah terserak di mana-mana. Dahlan Iskan, sebagai contoh, dicengkeram kemiskinan sejak anak-anak. Wartawan dari Samarinda itu sampai harus mengikat perutnya dengan sarung untuk mengusir rasa lapar sebagaimana ditulis dalam biografinya. Ada lagi Chairul Tanjung, bos Trans Grup, yang dijuluki anak singkong karena kemelaratan masa kecilnya. Jack Ma dan mendiang Steve Jobb, dua tokoh sukses dunia, adalah kisah nyata dengan plot nyaris serupa. 

Namun, betapa ia fiksi atau nyata, perlawanan terhadap kemiskinan, dendam kepada kemelaratan, dan keheroikan menaklukkannya, adalah cerita sepanjang masa. Ia tak lekang dimangsa zaman, sebagaimana kisah asmara yang memabukkan banyak insan. Demikianlah, sedari Buya Hamka mengarang Zainuddin yang “teroesir” sebagai salah satu masterpiece sastra bangsa, hingga kini berwarsa-warsa kemudian.

Adalah Syafruddin Pernyata atau Espe, novelis Samarinda yang mengarang "Awan", mengambil tema sejalan. Awan adalah tokoh setengah fiksi bernama lengkap Gamawan Putra Nirlara, artinya sang awan yang tak bersedih. Awan tinggal di Desa Santan Baru, Kecamatan Muara Badak, Kutai Kartanegara. Ia lahir dari keluarga papa, besar di kampung yang tak berpunya.

Di sana, Awan sekolah sampai SMP Nusantara. Sekolah swasta itu, meskipun namanya sama seperti sekolah di Balikpapan —di Straat IV—, kondisinya berbeda dengan di kota. Fasilitas sekolah sangat terbatas. Begitu juga Awan dan tiga temannya yang membeli buku saja tidak berdaya. Awan —meminjam istilah sekarang— dan sobat-sobat misqueen-nya harus menjadi buruh demi membeli buku matematika. Mereka bekerja sebagai kuli panggul garam di Samarinda saban akhir pekan.

Singkat kata menyederhanakan cerita, Awan kelak menjadi pebisnis yang sukses. Usaha awalnya, ikan asin Danau Jempang, berhasil setelah melewati perjuangan yang berdarah-darah. Mulai hidup menumpang ketika SMA dan kuliah di Samarinda, hingga dituduh mencuri ketika bekerja sambilan sebagai tukang cat. Dari ikan asin, Awan berhasil mengembangkan usahanya di mana-mana. Ia menjadi pemuda sukses, walaupun hidup menjomblo.

Sejuta Makna

Novel Awan, sebagaimana karya-karya Espe terdahulu, selalu kaya akan makna. Penulis dengan lihai menyeruakkan nilai-nilai luhur dan kemanusiaan di sela-sela hidup Awan. Kritik sosial dan pemerintah diselipkan di lain tempat. Di sini, Espe sangat mampu melukiskan Awan sebagai segumpal mega yang memiliki sejuta makna. 

Corak demikian tak lepas dari latar belakang penulisnya. Selain seorang pensiunan birokrat dengan jabatan terakhir kepala Dinas Pariwisata Kaltim, Espe adalah lulusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dari Universitas Mulawarman. Ia juga pernah menjadi wartawan, penyair, dan tentu saja guru. 

Kelihaian penulis melukiskan setting cerita yakni Muara Badak, Samarinda, dan Kota Bangun, juga meninggalkan kesan yang dalam. Bukan hanya pemilihan figur bernama Banjar dan Kutai dengan segala kelucuannya, banyak lokasi wisata turut tersemat. Tokoh utama novel ini terasa dekat dengan warga Kaltim, baik di pedalaman maupun di pusat keramaian.

Kembali kepada Awan, ia adalah tokoh setengah fiksi. Puncak dari konflik kehidupannya diambil dari kisah nyata, kerabat penulis sendiri. Espe bercerita, ia memiliki keluarga, seorang pria tua, yang sedang menderita kanker usus. Tahapan operasi membuat lelaki yang tinggal di Kabupaten Paser itu dirawat di RSUD AW Sjahranie Samarinda. 

Selama dirawat, istrinya setia menemani. Anak lelaki tertuanya, yang menjadi tulang punggung keluarga, juga selalu datang setiap akhir pekan. Sebagai anak yang taat dan menyayangi orangtua, ia bolak-balik Samarinda-Paser pada Jumat hingga Minggu. Ia bekerja sebagai pegawai negeri. Kepadanyalah keluarga menaruh harapan besar setelah turun-temurun hidup dalam kemiskinan. Ia adalah anak yang selalu dibanggakan ayahnya.

Sampai tragedi itu tiba. Dalam perjalanan ke Samarinda, sang anak mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Ibunya, atau siapapun saja, takkan sampai hati menyampaikan kabar mengerikan tersebut kepada sang ayah yang masih terbaring sakit. Dengan sedih yang tak terperi, sang ibu menghadiri pemakaman putranya di Paser tanpa sepengetahuan suaminya. Sampai beberapa hari kemudian, ia akhirnya buka suara. Di luar dugaan, sang ayah hanya berkata, “Sudah takdirnya.”

Awan, sebagaimana tokoh sang anak yang menjadi tulang punggung dan kebanggaan keluarga, melewati skenario yang sama. Dalam novel, Awan bahkan telah menjadi kebanggaan desa, kabupaten, dan provinsi. Lalu, setelah perjuangan panjang yang mengaduk-aduk emosi, haruskah hidup Awan berakhir dengan tragis? Espe menyiapkan kejutan di akhir cerita. (*)

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar