Terkini

Lorong Pengurai Kemacetan

person access_time 2 weeks ago remove_red_eyeDikunjungi 362 Kali
Lorong Pengurai Kemacetan

Kemacetan di Jalan Otista, kawasan Sungai Dama. FOTO: HAFIDZ PRASETIYO-KALTIMKECE.ID

Jalur terowongan akan menerobos Gunung Manggah. Lorong pintas itu akan mengurangi 360 mobil per jam di kawasan Sungai Dama.

Ditulis Oleh: Hafidz Prasetiyo
Jum'at, 20 Januari 2023

kaltimkece.id Kendaraan di Jalan Sultan Sulaiman belum begitu ramai ketika Hera Nuraeni mengantar kedua anaknya ke sekolah. Pegawai negeri Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UMKM Kaltim tersebut berangkat pagi-pagi sekali, pukul 06.15 Wita. Hera tak boleh telat semenit pun. Ia bisa terjebak kemacetan di persimpangan Jalan Sultan Sulaiman-Sultan Alimudin. 

Ibu tiga anak ini mengantar anaknya sekolah setiap hari. Ia pergi dari kediamannya di Jalan Pelita IV, Sambutan, menuju sekolah anaknya di Kampung Jawa, Samarinda Ulu. Hera mengendarai sepeda motor. Mobil Daihatsu Xenia miliknya ditinggal saja di rumah.

“Kalau naik sepeda motor, 20 menit sudah sampai. Kalau pakai mobil, bisa 45 menit,” tutur Hera kepada kaltimkece.id, Jumat, 20 Januari 2023. “Itu kalau Jalan Otista lancar jaya. Kalau macet di pertigaan Gunung Manggah, Gang Damai, atau pasar Sungai Dama, bisa sampai sejam naik mobil,” sambungnya.  

Tiga titik kemacetan yang disebut Hera terletak di Jalan Otto Iskandardinata atau Otista. Jalur di Kelurahan Selili, Samarinda Ilir, tersebut, memegang status sebagai jalur dengan kemacetan tertinggi di Samarinda sejak dahulu kala. kaltimkece.id menghitung jumlah kendaraan di Jalan Otista untuk mengetahui betapa padat jalan selebar 8 meter tersebut. 

Jumat, 20 Januari 2023, pukul 17.00-18.00 Wita, sebanyak 610 roda empat merayap dari Jembatan Sungai Dama menuju Gunung Manggah. Perlu satu menit untuk sebuah mobil yang melewati Jalan Otista sejauh 100 meter. Kecepatan kendaraan di Simpang Sungai Dama itu tidak lebih dari 6 kilometer per jam. Mobil-mobil di kawasan ini bahkan bergerak lebih lamban dari kecepatan lari orang dewasa. 

Kepadatan di Jalan Otista menuju Gunung Manggah sewaktu sore hari. FOTO: HAFIDZ PRASETIYO-KALTIMKECE.ID
 

Terowongan Mengurai Kepadatan

Kepadatan kendaraan di Jalan Otista telah mengundang sejumlah wacana. Satu di antara wacana yang akan menjadi nyata, Pemkot Samarinda menyiapkan Terowongan Gunung Manggah. Jalur lorong di bawah dua bukit ini akan menghubungkan SMP 9 Samarinda di Jalan Sultan Alimuddin dengan Jalan Kakap. 

Aplikasi Google Map mencatat waktu tempuh mobil di kedua titik tersebut. Pada jam-jam sibuk, waktu tempuh dari SMP 9 Samarinda menuju Jalan Kakap adalah 10 menit. Jaraknya 1,6 kilometer. Rute sebaliknya lebih panjang karena kendaraan roda empat harus menyeberangi Jembatan Sungai Dama. Waktu tempuh Jalan Kakap menuju SMP 9 via Jembatan Sungai Dama adalah 16 menit dengan jarak 2,2 kilometer. Kendaraan hanya merangkak rata-rata 8 kilometer per jam. 

Pembangunan Terowongan Gunung Manggah diyakini memperlancar arus kendaraan di Jalan Otista. Melalui terowongan ini, jarak dari SMP 9 menuju Jalan Kakap terpangkas. Panjang total jalur baru ini hanya 690 meter atau setengah dari rute yang sekarang. 

Ilustrasi Terowongan Gunung Manggah. Menghubungkan Jalan Sultan Alimuddin dengan Jalan Kakap. DESAIN GRAFIK: NAUVAL-KALTIMKECE.ID
 

Terowongan akan terbagi dari beberapa segmen. Kepala Bidang Bina Marga, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Samarinda, Budy Santoso, menguraikan detail terowongan tersebut. Jalur pendekat dari tepi Jalan Sultan Alimuddin menuju pintu terowongan panjangnya 115 meter. Kemudian, masuk terowongan pertama sepanjang 120 meter. 

“Setelah terowongan pertama, ada bagian terbuka yang sekaligus jalur udara keluar-masuk sepanjang 60 meter,” urainya. Dari area terbuka itu, masuk pintu terowongan kedua sepanjang 240 meter yang tembus ke dekat Jalan Kakap. Setelah keluar dari terowongan, tersedia jalan pendekat sepanjang 155 meter ke Jalan Kakap. 

“Sehingga total panjang Terowongan Gunung Manggah yaitu 690 meter,” terangnya. 

Pintu terowongan didesain berbentuk persegi dengan lebar dan tinggi sama-sama 15 meter. Lebar jalannya 12 meter. Jalur ini hanya untuk melayani kendaraan dari Sambutan ke pusat kota. Menurut perhitungan Dinas PUPR, terowongan bisa menekan kemacetan sampai 60 persen di kawasan Sungai Dama. 

Apabila keterangan pemkot tersebut disandingkan perhitungan kaltimkece.id, kepadatan di Sungai Dama bisa berkurang drastis. Sebelum terowongan dibangun, jumlah kendaraan di Jalan Otista mencapai 610 mobil per jam. Pengurangan 60 persen itu sama dengan 366 kendaraan per jam di kawasan Sungai Dama. Makin lengang jalan, kecepatan kendaraan bisa bertambah. 

Kehadiran terowongan turut memangkas waktu tempuh kendaraan dari Jalan Sultan Alimuddin menuju Jalan Kakap. Sebelumnya terowongan berdiri, waktu tempuhnya sekitar 10 menit. Apabila melalui terowongan sejauh 690 meter, hanya perlu 1 menit dengan kecepatan 40 km per jam. Pemangkasan waktu tempuhnya mencapai 90 persen. 

“Kami sudah menetapkan kontraktor pekerjaan fisik terowongan yaitu PT Pembangunan Perumahan,” jelas Budy Santoso. Pekerjaan fisik terowongan disebut bersamaan di kedua sisi. Waktu pengerjaannya 18 bulan yang dimulai tahun ini. 

Menurut Budy, pekerjaan fisik dimulai dengan pembangunan jalan masuk di kedua sisi terowongan. Dilanjutkan dengan penentuan titik terowongan sebelum proses penggalian. Sebelum digali, terlebih dahulu dipasang rangka baja sebagai penopang. Atap terowongan kemudian dipasang bertahap selama penggalian, dilanjutkan pengecoran rangka terowongan. 

Titik pintu terowongan di Jalan Kakap. FOTO: HAFIDZ PRASETIYO-KALTIMKECE.ID
 

Dihubungi kaltimkece.id, Sekretaris Kota Samarinda, Hero Mardanus, mengatakan bahwa pembangunan terowongan adalah langkah paling realistis. Terowongan disebut solusi yang paling murah. Hero menjelaskan, sebelumnya muncul wacana pelebaran jalan. Ada pula wacana jalan layang atau fly over. Menurut perhitungan pemkot, kedua pilihan tadi menelan anggaran Rp 750 miliar. Biaya paling besar adalah pembebasan lahan warga. 

“Sementara untuk membangun terowongan, hanya perlu Rp 419 miliar,” tuturnya. Pembangunan terowongan juga memiliki permasalahan sosial yang relatif kecil. Tidak banyak lahan warga yang harus dibebaskan. 

Skema Pembiayaan

Proyek Terowongan Gunung Manggah memakai pembiayaan multiyears contract (MYC) atau skema tahun jamak selama tiga tahun. Sumbernya dari APBD Samarinda 2022 hingga 2024. Tahun lalu, anggaran difokuskan untuk dokumen studi kelayakan dan pembebasan lahan. Pekerjaan fisik baru dimulai pada 2023. 

“Targetnya, sebelum masa jabatan kepala daerah berakhir, pekerjaan fisik sudah selesai,” kata Hero.

Hero Mardanus, Sekkot Samarinda. FOTO: HAFIDZ PRASETIYO-KALTIMKECE.ID
 

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Samarinda, Ananta Fathurrozi, memberikan keterangan tambahan. Samarinda memiliki dua proyek yang menggunakan skema MYC. Selain terowongan, ada pembangunan kolam retensi di Perumahan Bengkuring. Kedua proyek ini telah mendapat bantuan keuangan (bankeu) dari Pemprov Kaltim. 

Dari total Rp 419 miliar untuk pembangunan terowongan, Ananta memerinci, Rp 395 miliar untuk pembangunan fisik. Sementara Rp 20 miliar disiapkan untuk pembebasan lahan. Ananta mengatakan, pemkot menyiapkan Rp 150 miliar dan bankeu Pemprov Kaltim Rp 20 miliar pada 2023. Apabila dana tersebut kurang, ia mengusulkan untuk ditambah di APBD Perubahan 2023. (*)

shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar