• Berita Hari Ini
  • Warta
  • Historia
  • Rupa
  • Arena
  • Pariwara
  • Citra
Kaltim Kece
  • WARTA
  • BALIKPAPAN
  • Kisah Sabani, Birokrat yang Sempat Berkali-Kali Menolak Jadi Calon Wali Kota Balikpapan

WARTA

Kisah Sabani, Birokrat yang Sempat Berkali-Kali Menolak Jadi Calon Wali Kota Balikpapan

Sosok amtenar ini terbilang humble, mengetahui waktu yang tepat untuk bertarung. Bukan soal ambisi, tetapi keyakinan bisa menyelesaikan masalah Balikpapan dalam dua tahun saja.
Oleh Surya Aditya
22 Oktober 2024 10:00
Calon Wali Kota Balikpapan Sabani. FOTO: SURYA ADITYA-KALTIMKECE.ID
Calon Wali Kota Balikpapan Sabani. FOTO: SURYA ADITYA-KALTIMKECE.ID

Untuk mengenalkan sosok calon pemimpin Kota Minyak kepada publik menjelang debat perdana calon wali kota Balikpapan yang akan digelar Rabu malam, 23 Oktober 2024, kaltimkece.id berupaya mewawancarai para calon wali kota Balikpapan. Dari tiga peserta Pemilihan Kepala Daerah Balikpapan 2024, baru dua kandidat yang memberikan lampu hijau. Permintaan wawancara yang dilayangkan ke aplikasi percakapan Rahmad Masud, kandidat lainnya, belum direspons hingga Selasa, 22 Oktober 2024. Laporan eksklusif tentang Rendi Susiswo Ismail dan Muhammad Sabani tayang dalam dua artikel berbeda pada 22 dan 23 Oktober 2024.

***

SEJAK menjabat sebagai Asisten Ekonomi dan Pembangunan, Sekretariat Provinsi Kalimantan Timur, pada 2010, Muhammad Sabani kerap didatangi sejumlah tokoh politik dan tokoh masyarakat. Para tokoh itu disebut merayu Sabani untuk maju Pemilihan Kepala Daerah Balikpapan 2011. Sabani mengaku tak punya ambisi menjadi wali kota. Ia pun menolak permintaan tersebut dengan alasan sederhana.

"Saya enggak mau melawan pimpinan saya," kata Sabani kepada kaltimkece.id saat ditemui di kediamannya di Balikpapan, Senin, 14 Oktober 2024.

Pimpinan yang dimaksud Sabani adalah Rizal Effendi dan Heru Bambang. Dalam pilkada 13 tahun silam itu, Rizal menggandeng Heru untuk maju sebagai calon wali kota dan calon wakil wali kota Balikpapan. Rizal dan Heru pernah menjadi atasan Sabani saat bertugas di Pemkot Balikpapan.

Begitu pula ketika rayuan yang sama kembali datang menjelang Pilkada Balikpapan 2016. Sabani bersikeras tak ingin mengkhianati para bekas atasannya itu. Dalam Pilkada Balikpapan 2016, Rizal dan Heru berpisah jalan. Keduanya maju sebagai calon wali kota.

Permintaan Sabani memimpin Kota Minyak tak pernah berakhir. Bahkan, saat peluit Pilkada Balikpapan 2019 segera ditiup, sejumlah toko disebut menemui Gubernur Kaltim, Isran Noor. Mereka memohon agar Isran memberi lampu hijau untuk Sabani bertarung di pilkada tersebut. Isran pun memanggil Sabani dan meminta anak buahnya itu menjadi calon wali kota Balikpapan. Kali ini, Sabani menolak dengan menggunakan alasan berbeda.

"Kepada Pak Isran, saya bilang enggak mau ikut karena masih aktif menjadi pegawai negeri," cerita bapak lima anak itu.

Desakan agar Sabani menjadi wali kota Balikpapan kian kencang seusai ia pensiun dari lembaga birokrasi pada 2022. Sejumlah tokoh masyarakat, tokoh agama, termasuk ketua partai politik baik tingkat kota maupun provinsi silih berganti menemuinya. Mereka disebut terus menggoda Sabani untuk mau maju dalam Pilkada Balikpapan 2024. Mereka beralasan, Sabani merupakan figur yang tepat memimpin kota ini karena memiliki jam terbang di dunia birokrasi. Sabani juga diyakini sebagai sosok yang pas untuk mencegat pertarungan melawan kotak kosong dalam pemilihan tersebut.

Sabani akhirnya mulai memikirkan tawaran tersebut. Setelah menimbang-nimbang agak lama, pada Ramadan 2024, ia memutuskan siap bertarung dalam Pilkada Balikpapan. Hanya saja, jalannya menuju pucuk pimpinan kota sempat menemui sandungan.

Waktu itu, hampir semua parpol membentuk sebuah koalisi gemuk dan mengusung satu pasangan calon wali kota dan wakil wali kota. Sabani pun nyaris gagal maju karena parpol yang tersisa tak memiliki kursi yang memenuhi syarat mengusung calon wali kota dan wawali kota. Ia menghadapi kenyataan tersebut dengan dingin.

"Saya ikut ajang ini, 'kan, nothing to lose. Jadi, saya enggak terlalu merisaukan kondisi tersebut," ucapnya.

Asa suami Liza Febriani itu menjadi calon wali kota bersemi kembali setelah Mahkamah Konstitusi mengeluarkan putusan 60/PUU-XXII/2024. Lewat putusan tersebut, MK mengubah sejumlah ketentuan pilkada. Satu di antaranya yakni mengurangi ambang batas pencalonan pilkada dari 20 persen jumlah kursi di parlemen menjadi 6,5 hingga 10 persen. Ketentuan tersebut disesuaikan dengan jumlah penduduk di masing-masing daerah.

"Alhamdulillah, putusan MK itu telah mengantarkan kami (Sabani-Syukri Wahid) menjadi calon wali kota dan wakil wali kota Balikpapan," ucapnya.

Sabani pun telah menyiapkan sembilan program prioritas jika kelak terpilih menjadi wali kota Balikpapan. Beberapa di antaranya yakni solusi mengatasi krisis air bersih, mengatasi kemacetan, penanganan banjir, hingga perbaikan tata kelola pemerintah.

"Jika semua lancar-lancar saja, enggak ada hambatan yang berarti, dua tahun saja saya bisa mewujudkan semua program ini," jelasnya.

Dalam ajang lima tahunan itu, Sabani-Syukri didukung sejumlah parpol antara lain Partai Perindo, Partai Bulan Bintang, Partai Gelora, Partai Demokrat, dan Partai Solidaritas Indonesia. Dari sokongan semua parpol tersebut, Sabani-Syukri telah mengantongi lebih 35.062 suara sah di tingkat kota. Adapun syarat mengikuti pilkada Balikpapan, pasangan calon harus mendapatkan minimal 28.552 suara sah.

Dalam Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara (LHKPN), Sabani adalah calon wali kota Balikpapan "termiskin" ketimbang dua kandidat lainnya, Rendi Susiswo Ismail dan Rahmad Masud. Sabani memiliki total harta kekayaan Rp1,9 miliar. Rahmad Masud menjadi calon "terkaya" dengan total harta kekayaan Rp37,3 miliar sedangkan Rendi Susiswo Ismail Rp11,3 miliar.

"Semua harta yang saya punya telah saya laporkan dan segitulah yang saya punya," kata Sabani sambil tersenyum.

Sabani lahir di Samarinda pada 28 Januari 1962. Semasa kecil, ia hidup berpindah-pindah tempat karena harus mengikuti tugas ayahnya sebagai pegawai kantor Pos Indonesia. Ia mengenyam pendidikan sekolah dasar dari kelas satu sampai kelas empat di Kota Sampit, Kalimantan Tengah. Pendidikannya kemudian dilanjutkan sampai lulus sekolah menengah atas di Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan.

Keluarga Sabani selanjutnya pindah ke Balikpapan. Pada 1980, Sabani kuliah di Fakultas Kehutanan, Universitas Mulawarman, Samarinda. Semula, alasannya masuk fakultas tersebut lantaran waktu itu merupakan masa kejayaan kayu. Banyak orang disebut berlomba-lomba masuk industri kayu karena diiming-imingi mendapatkan honor yang besar.

Semua berubah saat Sabani mengikuti praktik lapangan di perusahaan kayu. Ia menyaksikan pembabatan hutan yang di luar ketentuan. Ia mengaku tak bisa menerima cara-cara seperti ini. "Cara seperti inilah yang bikin hutan saat itu cepat habis," katanya.

Oleh sebab itu, Sabani tak pernah bekerja di perusahaan kayu. Begitu lulus kuliah pada 1985, ia mengikuti seleksi penerimaan tenaga sarjana dengan kuota terbatas di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kaltim. Ia melewati seleksi tersebut dengan baik.

Setelah satu tahun bekerja di Bappeda, Sabani ditugaskan di bidang kerja sama Indonesia-Jerman. Tak berselang lama, ia diangkat menjadi pegawai negeri sipil. Ia selanjutnya mendapatkan kesempatan mengikuti tes berkuliah di luar negeri. Sabani lagi-lagi sukses melewati ujian tersebut tanpa hambatan berarti.

Dalam tes tersebut, hanya dua warga Indonesia yang lulus. Selain Sabani, juga dosen Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, Jawa Tengah. Mereka kemudian berkuliah di Asian Institute of Technology, Thailand, dan Dortmund University, Jerman, selama dua tahun dari 1989.

“Teorinya di Jerman selama satu tahun, sementara praktik lapangan dan risetnya di Thailand juga setahun,” sebutnya.

Sepulang dari luar negeri, Sabani kembali ke Bappeda Kaltim. Pada 1995, ia dimutasi ke Bappeda Balikpapan. Di Pemkot Balikpapan, ia bertugas selama 15 tahun. Ia kemudian kembali bertugas di Pemprov Kaltim selama 13 tahun atau sampai pensiun pada 2022.

Selepas menanggalkan jabatannya sebagai PNS, hari-hari Sabani banyak dihabiskan di usaha pertanian modern yang dirintis bersama koleganya. Ia juga rutin membaca. Hampir setiap hari, ada saja yang dibacanya, baik buku maupun berita. Ia mengaku lebih sering membaca buku tentang agama dan pengembangan diri sumber daya manusia. Ia pun menyarankan agar anak muda lebih suka membaca tentang tantangan membangun negeri. (*)

Editor : Cony Harseno

Dapatkan informasi dan insight pilihan redaksi kaltimkece.id

Gabung Channel WhatsApp
  • Alamat
    :
    Jalan KH Wahid Hasyim II Nomor 16, Kelurahan Sempaja Selatan, Samarinda Utara.
  • Email
    :
    [email protected]
  • Phone
    :
    08115550888

Warta

  • Ragam
  • Pendidikan
  • Lingkungan
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Politik
  • Humaniora
  • Nusantara
  • Samarinda
  • Kutai Kartanegara
  • Balikpapan
  • Bontang
  • Paser
  • Penajam Paser Utara
  • Mahakam Ulu
  • Kutai Timur

Pariwara

  • Pariwara
  • Pariwara Pemkab Kukar
  • Pariwara Pemkot Bontang
  • Pariwara DPRD Bontang
  • Pariwara DPRD Kukar
  • Pariwara Kutai Timur
  • Pariwara Mahakam Ulu
  • Pariwara Pemkab Berau
  • Pariwara DPMD Kutai Kartanegara
  • Pariwara DPRD Kaltim
  • Pariwara Diskominfo Kaltim

Rupa

  • Gaya Hidup
  • Kesehatan
  • Musik
  • Risalah
  • Sosok

Historia

  • Peristiwa
  • Wawancara
  • Tokoh
  • Mereka

Informasi

  • Kontak
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
© 2018 - 2026 Copyright by Kaltim Kece. All rights reserved.