Balikpapan

Runtun Perkara Anak Sembilan Tahun di Balikpapan Disiram Air Panas sampai Hendak Dibunuh Ayahnya

person access_time 1 month ago remove_red_eyeDikunjungi 1252 Kali
Runtun Perkara Anak Sembilan Tahun di Balikpapan Disiram Air Panas sampai Hendak Dibunuh Ayahnya

Korban yang disiram air panas ayah kandungnya (foto: surya aditya/kaltimkece.id)

Seorang ayah tega menyiksa putri kandungnya. Nyaris berkelahi dengan warga yang berupaya menyelamatkan sang anak.

Ditulis Oleh: Surya Aditya
18 September 2021

kaltimkece.id Perut anak perempuan sembilan tahun itu, panggil saja dia Ananda, mulai keroncongan. Sudah lebih dua jam, Ananda menjaga adiknya yang masih lima tahun di kediamannya di Balikpapan Selatan. Gadis mungil yang riang itu pun bergegas menyiapkan sepotong roti panggang. Begitu sampai di dapur, ayahnya, sebut saja Abah, 40 tahun, rupanya sedang menanak air.

Rabu, 15 September 2021, pukul 17.00 Wita, Ananda mengambil wajan berisi minyak goreng bekas. Ia hendak menggunakan penggorengan untuk memanggang roti. Namanya anak kecil, Ananda membuang minyak goreng --yang biasanya masih bisa dipakai lagi-- di kamar mandi. Abah yang melihatnya gusar bukan main.

“Tunggu kamu di sini! Kusiram air panas mukamu biar hancur sekalian!” geram Abah kepada putrinya, sebagaimana dituturkan ulang kakak tiri Ananda kepada kaltimkece.id, Sabtu, 18 September 2021. Kata-kata Abah bukan ancaman belaka. Air yang ia masak di panci kebetulan mendidih, semendidih hatinya. Abah mengambil panci panas itu dan menyeret Ananda ke kamar mandi. Dua kali Ananda disiram.

“Sakit! Panas, Pak…,” pekik Ananda.

Abah kembali ke dapur sambil mengomel. Akan tetapi, ia terpeleset. Ananda yang melihat ayahnya terjatuh segera melarikan diri ke rumah tetangga. Jiran, 53 tahun, bukan nama sebenarnya, kaget ketika Ananda masuk ke rumah tetangga di sebelah rumahnya. Anak perempuan itu segera menuju kamar mandi dan terus-terusan merintih minta tolong.

“Panas, panas! Mandikan aku. Bapak ngejar-ngejar aku,” jerit Ananda dengan tubuh bergetar, sebagaimana diceritakan Jiran, warga setempat, kepada kaltimkece.id, Jumat menjelang petang, 17 September 2021.

Jiran segera melepas pakaian Ananda untuk dimandikan. Betapa kagetnya dia. Hampir sekujur tubuh gadis mungil itu melepuh. Luka-luka menganga di lengan kanan, dada kanan, punggung, dan belakang tubuh bagian bawah.

“Disiram air panas sama bapakku,” aku Ananda kepada Jiran ketika ditanya sebab-musababnya.

Di luar rumah, Abah dengan emosi terbakar berteriak memanggil putrinya. Warga setempat yang mengetahui kebiasaan laki-laki itu berupaya menyembunyikan Ananda. Mereka berkata, tidak tahu keberadaan Ananda. Murka Abah makin membara.

“Awas, ya! Jangan sembunyikan anakku. Mau kubunuh, ‘kah, urusanku,” sebut Abah menggerutu kepada warga sekitar.

Beberapa menit kemudian, Abah melihat Ananda keluar dari rumah seorang tetangga. Tanpa ampun, ayah dua anak itu menyeret putrinya. Warga yang melihat kejadian itu tidak tinggal diam dan merebut Ananda. Gadis kecil itu dibawa ke puskesmas terdekat supaya bisa diobati. Warga juga melaporkan perbuatan Abah kepada polisi.

Di puskesmas sebelum petugas datang, Abah mendekati Ananda yang tergeletak di tempat tidur. Ia berbisik di telinga putrinya, “Kalau ada yang menanyakan luka-luka ini, bilang, tersiram air panas karena kepeleset.”

Ananda yang ketakutan mengangguk. Ia menuturkan alasan tersebut kepada polisi yang baru saja tiba. “Polisi sebenarnya sedikit curiga dengan pengakuan itu tetapi belum bisa menahannya,” tutur kakak tiri Ananda melanjutkan runtun perkara ini.

Kamis pagi, 16 September 2021, Ananda yang belum pulih betul dibawa pulang Abah dari puskesmas. Warga sekitar yang mengetahui hal itu khawatir Ananda disakiti lagi. Mereka pun menyusun rencana seraya menemui ibu Ananda, sebut saja Bunda. Warga ingin memastikan bahwa luka-luka di tubuh gadis itu karena disiksa ayahnya.

Dari pertemuan warga dengan ibu Ananda, Abah diketahui pernah dilaporkan ke polisi. Kasusnya sama, kekerasan dalam rumah tangga. Abah pernah menganiaya Bunda. Di depan warga yang sudah geram, Bunda pun bersedia menjadi saksi dalam kasus penyiksaan Ananda.

Tak menghabiskan waktu karena khawatir Ananda disiksa lagi, warga menuju Markas Kepolisian Resor Kota Balikpapan. Polisi bergerak dengan memeriksa sejumlah saksi dan mem-visum et repertum Ananda. Kesimpulannya, luka-luka di tubuh Ananda adalah hasil perbuatan ayahnya. Kamis tengah malam, polisi membekuk Abah. Sementara Ananda, dibawa ke RSUD Kanujoso Djatiwibowo.

Kepala Satuan Reserse Kriminal, Polresta Balikpapan, Komisaris Polisi Rengga Puspo Saputro, mengatakan bahwa ayah korban telah dijebloskan ke sel. Akan tetapi, kepolisian belum membeberkan detail kasusnya. “Proses penyelidikan masih berjalan. Ditunggu saja, ya,” terang Kompol Rengga kepada kaltimkece.id.

Residivis Kasus Narkotika

Abah adalah suami kedua Bunda. Sebelum menikah, Bunda punya empat anak. Dari perkawinan ini, lahir dua anak lagi, satu di antaranya Ananda. Kakak tiri Ananda sudah sembilan tahun hidup bersama ayah tirinya. Menurutnya, Abah sering menyiksa ibu dan saudara-saudarinya.

“Saya juga dipukul. Pokoknya, salah sedikit saja, langsung main tangan,” tuturnya.

Abah adalah lelaki tanpa pekerjaan tetap. Masih menurut kakak tiri Ananda, ayahnya bekerja serabutan. Apa saja dikerjakan termasuk menjadi buruh bangunan. Masalahnya, ayah tirinya itu disebut sering mabuk-mabukan. Pernah juga menjadi pengedar narkoba dan ditangkap. Alhasil, ibunyalah tulang punggung keluarga. Bunda bekerja sebagai asisten rumah tangga.

“Bapak ditangkap karena menjual narkoba pada 2013,” ungkapnya.

Bunda juga sebenarnya sudah mengajukan cerai. Akan tetapi, Abah tak pernah mengabulkan dan malah mengancam membunuh Bunda dan anak-anak jika berani minta berpisah. Niat itu akhirnya diurungkan. Tapi tidak kali ini. Setelah putrinya disiram air panas, Bunda mantap untuk menggugat suaminya di pengadilan agama.

Di RSKD Balikpapan, kondisi Ananda sudah membaik saat kaltimkece.id membesuknya pada Sabtu, 18 September 2021. Dokter sudah memperbolehkannya pulang. Badan Ananda memang mulai pulih, tetapi tidak psikisnya. Dia hanya menutup wajahnya dengan selimut rumah sakit ketika ada yang berbicara tentang ayah kandung yang baru saja menyiksanya. (*)

Editor: Fel GM

Catatan redaksi: Berita ini mengikuti Pedoman Pemberitaan Ramah Anak (PPRA) sebagaimana diatur Dewan Pers, sesuai Undang-Undang 11/2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar