Balikpapan

Teknisi Pesawat Rimbun Air yang Jatuh di Papua Itu Orang Balikpapan, Tinggalkan Dua Balita

person access_time 1 month ago remove_red_eyeDikunjungi 2686 Kali
Teknisi Pesawat Rimbun Air yang Jatuh di Papua Itu Orang Balikpapan, Tinggalkan Dua Balita

Teknisi Rimbun Air, Utra Is Wahyudi, berdiri paling belakang (foto: istimewa)

Dadanya sesak. Air matanya mengalir. Suaminya yang serasa masih di sisi telah tiada.

Ditulis Oleh: Surya Aditya
16 September 2021

kaltimkece.id Bulan dan bintang bersinar terang ketika telepon genggam Dewi Agustina, 29 tahun, sedang berdering. Suara suaminya, Utra Is Wahyudi, 41 tahun, terdengar dan langsung menyapa kedua anak mereka dalam panggilan video. Yudi, panggilan Wahyudi, begitu ceria menghibur buah hatinya. Setelah bersenda gurau sebentar pada Senin, 13 September 2021, pukul 20.00 Wita, Dewi melanjutkan obrolan.

“Habis pijat, nih,” lapor Yudi seperti ditirukan Dewi kepada kaltimkece.id, Kamis, 16 September 2021. Tak lupa, Yudi mengabarkan beberapa agendanya. Teknisi yang bekerja untuk maskapai Rimbun Air itu berencana terbang ke Intan Jaya, Papua. Percakapan pasangan suami istri itu tidak terlalu lama.

“Seperti biasa, kalau mau terbang, suami saya pasti istirahat lebih cepat,” tutur Dewi yang tinggal di Kelurahan Lamaru, Balikpapan Timur. Ibu rumah tangga ini tidak sadar, itulah percakapan terakhir dia dengan suaminya. Setelah menutup telepon, Dewi bersama kedua anaknya yang berusia dua dan lima tahun naik ke kasur. Mereka beristirahat dalam damainya malam.

Rabu pagi, 15 September 2021, pukul 06.40 WIT di Kota Nabire, Papua. Yudi bersama dua koleganya siap berangkat dengan pesawat DHC-6 Twin Otter berkode PK-0TW milik maskapai Rimbun Air. Pesawat udara itu mengangkut bahan bangunan ke Bandara Bilogai di Distrik Sugapa, Intan Jaya. Hanya tiga kru di dalam pesawat. Di ruang kemudi, duduk Haji Mirza sebagai pilot, Fajar sebagai kopilot, dan Yudi selaku teknisi.

Pesawat kemudian melesat di landasan pacu 600 meter yang berbatasan dengan jurang. Mereka akan menempuh penerbangan selama 40 menit. Petaka itu datang. Setelah hampir 60 menit mengudara, PK-0TW belum juga mendarat. Petugas AirNav di Sugapa mulai dilanda kepanikan.

“Komunikasi terakhir petugas Airnav Sugapa dengan pilot pada pukul 07.37 WIT. Setelah itu, hilang kontak,” kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat, Kepolisian Daerah Papua, Komisaris Ahmad Mustofa Kamal, dikutip dari media nasional. Petugas setempat pun segera mengadakan pencarian PK-0TW.

Tiga jam kemudian, petugas dikejutkan pengakuan warga setempat yang menemukan puing pesawat. Lokasinya di tengah hutan di Gunung Wabu, sekitar 3,4 kilometer dari Bandara Bilogai. Ketika petugas tiba, puing-puing tersebut dipastikan serpihan badan PK-0TW.

“Berdasarkan pengamatan dari helikopter, kondisi pesawat terbakar dan sudah dalam keadaan hancur,” terang Kepala Kepolisian Resor Intan Jaya, Ajun Komisaris Polisi Sandi Sultan. Sempat tersiar kabar, PK-0TW jatuh karena ditembak kelompok separatis. Akan tetapi, AKBP Sandi Sultan memastikan, kabar tersebut tidak benar. PK-0TW diduga kuat jatuh karena cuaca buruk.

Sebelas Tahun di Dunia Penerbangan

Di Balikpapan, Dewi Agustina membatin tidak percaya ketika seorang tetangganya menyampaikan kabar kecelakaan pesawat di Papua. Rabu petang, 15 September 2021, ia hanya terhenyak ketika pihak berwajib menyampaikan informasi tersebut lewat sambungan telepon. Dadanya sesak. Air matanya mengalir. Yudi yang serasa masih di sisinya telah tiada.

Adik ipar Yudi, Muhammad Rifky, 33 tahun, menjelaskan bahwa jenazah Yudi dijadwalkan tiba di Balikpapan pada Jumat, 17 September 2021. Sebelum dikebumikan, jenazah disemayamkan di rumah orangtuanya di Kelurahan Damai, Balikpapan Selatan.

Yudi disebut sudah 11 tahun berkecimpung di dunia penerbangan sebagai teknisi pesawat. Sebelum di Rimbun Air, sulung empat bersaudara itu pernah menjadi mekanik pesawat dan helikopter di Balikpapan dan Papua Nugini.

Bertugas di Rimbun Air, Yudi menangani perawatan pesawat jenis DHC-6 Twin Otter seri 300. DHC adalah kependekan dari de Havilland Canada, perusahaan yang mengembangkan pesawat ini pada 1965. Adapun nama ‘twin’, berasal dari mesin kembarnya. Pesawat berkapasitas 20 penumpang ini banyak digunakan di daerah pedalaman. Kemampuannya terbang di landasan berjarak pendek memang yahud. Di samping itu, kaki-kaki Twin Otter seri 300 dapat disesuaikan dengan medan. Pesawat amfibi ini ini bisa lepas landas di permukaan darat, air, maupun es.

Twin Otter seri 300, sebagaimana dilansir Viking Air selaku pemegang lisensinya sekarang, memiliki bobot 3 ton dengan muatan maksimal 1 ton lebih. Twin Otter seri 300 dapat melaju dengan kecepatan 338 kilometer per jam dengan jangkauan ketinggian 25 ribu kaki. Kegesitannya itu membuat Twin Otter menjadi pesawat penumpang, kargo, dan evakuasi medis yang sukses di medan terpencil. (*)

Editor: Fel GM

shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar