Berau

Mengapa Polisi Gadungan di Berau Begitu Mudah Menipu Sembilan Perempuan hingga Ada yang Hamil?

person access_time 5 months ago remove_red_eyeDikunjungi 3792 Kali
Mengapa Polisi Gadungan di Berau Begitu Mudah Menipu Sembilan Perempuan hingga Ada yang Hamil?

AT (tengah) yang mengaku anggota Brimob dan menipu sembilan perempuan (foto: istimewa)

Sembilan perempuan dijadikan kekasih. Ada yang sudah berumah tangga, ada yang sampai hamil.

Ditulis Oleh: Muhibar Sobary Ardan
Jum'at, 08 April 2022

kaltimkece.id Seorang warga datang ke Markas Kepolisian Resor Berau dengan kesal. Ia mengaku kepada petugas, baru saja menjadi korban tindak pidana. Seseorang yang mengaku anggota Korps Brigade Mobil atau Brimob tidak membayar makan di kedainya di Kecamatan Sambaliung. Laporan itu diterima, petugas pun segera memulai penyelidikan. 

Pembuka April 2022, penelusuran membawa penyidik menemukan fakta lain. Lelaki yang sama diduga telah menipu seorang perempuan dengan memacarinya. Dari dua peristiwa tersebut, polisi memperoleh identitas anggota Brimob gadungan tersebut. 

“Setelah beberapa hari dikejar, pada Kamis, 7 April 2022, kami menangkapnya,” demikian Kepala Satuan Reserse Kriminal, Polres Berau, Ajun Komisaris Polisi Ferry Putra Samodra, Jumat, 8 April 2022. Lelaki tersebut berinisial AT. Usianya 34 tahun, kulitnya gelap. Posturnya biasa-biasa saja. Potongan rambutnya juga tidak terlalu pendek. Ketika ditangkap, ia berusaha  kabur ke hutan sebelum diringkus di kawasan SM Bayanuddin, Kecamatan Sambaliung, Berau. 

_____________________________________________________PARIWARA

Polres Berau segera memeriksa keanggotaan yang bersangkutan. AT ternyata warga sipil yang mengaku sebagai anggota polisi. Berdasarkan pengakuannya, AT selalu memakai atribut lengkap ke mana-mana. Atribut Brimob yang ia kenakan disertai dengan sepucuk senjata. Nyatanya, senjata api itu mainan belaka. 

AKP Ferry melanjutkan, polisi menggeledah indekos AT. Ditemukan beberapa atribut Brimob yang terdiri dari selembar pakaian dinas PDL hitam, sebuah senjata mainan, dan helm armor Brimob. Polisi juga mendapati pelindung tubuh dan wajah berlambang Gegana, dua celana PDL hitam, dua kaus hitam, kaus cokelat, dan jaket hitam berlogo Brimob.

AT disebut mengawali aksinya dari media sosial. Ia memasang fotonya di media sosial untuk meyakinkan calon korban. Setelah berkenalan, para perempuan yang terpikat kemudian dijadikan kekasih. AT menggunakan tipu daya untuk meminta sejumlah uang yang sebenarnya untuk menutupi kebutuhan sehari-harinya.

Semuanya ada sembilan perempuan yang menjadi korban. Enam orang tinggal di Berau, tiga perempuan di luar Berau. AKP Ferry mengatakan, enam korban dijadikan kekasih dan satu di antara mereka dihamili. Yang mencengangkan, korban AT juga ada yang sudah berumah tangga. 

Sementara itu, AT mengaku membeli atribut Brimob secara daring. Ia sudah beraksi sejak 2021. Mulanya, ia hanya iseng mengedit foto Brimob menggunakan wajahnya. ”Terus coba saya share ke WA (WhatsApp). Banyak yang mikir, saya anggota Brimob betulan," tuturnya.

AT menambahkan, setelah bujuk rayu dilempar, ia kerap meminta uang kepada kekasih-kekasihnya sekitar Rp 300 ribu. Korbannya yang paling muda berusia 26 tahun. AT juga mengaku akan tanggung jawab untuk korban yang ia hamili. Atas perbuatan tersebut, AT kini dijerat Pasal 378 dan Pasal 372 KUHPidana tentang Penipuan dan Penggelapan. Ia diancam  hukuman paling lama delapan tahun penjara. 

Mengapa Mudah Tertipu? 

Akademikus dari Universitas Mulawarman, Samarinda, Lisda Sofia, menjelaskan fenomena ini. Menurutnya, modus penipuan dengan mengaku dari institusi kepolisian sudah sering terjadi. Fenomena ini dapat dijelaskan melalui ilmu psikologi kepribadian. Ada yang dinamakan dominan personality atau otoritas. 

“Biasanya, seseorang akan lebih tunduk kepada orang yang memiliki otoritas. Otoritas itu bisa dari gelar, jabatan, atau kekayaan. Sekarang ada lagi yang baru, flexing (gemar memamerkan sesuatu),” terang perempuan yang juga kepala Program Studi Psikologi Unmul tersebut kepada kaltimkece.id

Menunjukkan otoritas, sambung Lisda Sofia, dapat membuat orang lain tunduk dan patuh. Secara psikologis, orang yang tunduk karena melihat otoritas sudah seperti terhipnotis. Hipnotis yang dimaksud bukan seperti gendam melainkan tunduk karena superioritas lawan bicara. Superioritas seperti ini sebenarnya bisa dibentuk atau dikemas melalui tata bahasa, tindakan, serta pakaian. 

"Ditambah lagi, ada stigma bahwa banyak perempuan cenderung mencari pasangan yang mapan. Pasangan yang bisa mengayomi dan melindungi. Itu adalah sosok ideal bagi perempuan," jelas Lisda Sofia yang juga Kepala Biro Psikologi Perfecta Psyche tersebut.  

Ssecara neuroligis psikologi atau ilmu otak, sambungnya, perempuan diciptakan cenderung lemah dengan bahasa dan kata-kata. Makanya, sebagian perempuan bisa tunduk melalui bujuk rayu. Adapun lelaki, imbuh Lisda, diciptakan dengan kecenderungan lemah di indera penglihatan. 

"Itu sebabnya, bujuk rayu bisa bikin perempuan klepek klepek," gurau Lisda. 

Hipotesis awal dari peristiwa di Berau adalah perempuan menjadi korban bujuk rayu. Hal ini menarik dikaji mengingat flexing yang kian marak belakangan ini karena dampak digital. Lisda menyarankan, seorang perempuan sebaiknya mengedepankan logika terhadap orang yang baru dikenal. Bukan mengedepankan perasaan. 

"Kalau tidak bisa menahan perasaan, cerita ke orang lain agar mendapat opini yang berbeda. Walaupun, memang benar ada yang berjodoh karena berkenalan di media sosial, kemungkinannya satu banding seribu," ingatnya. Lagi pula, pada era sekarang, mutlak hukumnya bagi perempuan memiliki pola pikir kritis. Bukan berpikir jelek melainkan peka terhadap sesuatu. Pola pikir kritis adalah berusaha mencari sesuatu yang ganjil dan aneh sekaligus tidak menerima mentah-mentah. Mencari pembanding informasi adalah satu dari antara langkah berpikir kritis. 

“Di sinilah pentingnya literasi digital. Sebagai pengguna smartphone, kita harus smart juga dalam literasi," sarannya. 

_____________________________________________________INFOGRAFIK

Bisa Dicek di Kepolisian

Di tempat terpisah, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat, Kepolisian Daerah Kaltim, Komisaris Besar Polisi Yusuf Sutejo, mengimbau para perempuan tak mudah terkena bujuk rayu pria yang mengaku polisi. Menurutnya, cara paling efektif adalah mengkonfirmasi ke kepolisian mengenai status orang tersebut. 

"Secara prinsip, tidak hanya polisi, orang mengaku PNS dan pekerjaan yang lain juga perlu dicek,” terangnya kepada kaltimkece.id 

Meskipun demikian, Kombes Pol Yusuf mengaku, sejauh ini belum ada cara memeriksa status keanggotaan polisi secara daring. Cara seperti itu hanya digunakan di internal kepolisian karena berhubungan erat dengan database anggota kepolisian. Walaupun begitu, Yusuf menyarankan, masyarakat bisa memeriksa keanggotaan seseorang di markas kepolisian setempat. Bisa pula melalui teman atau sanak saudara yang bertugas di kepolisian. (*)

Editor: Fel GM

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar