Ekonomi

Dampak Covid-19 Terhadap Usaha Kuliner Kota Tepian, Ada yang Beralih Jual Hand Sanitizer

person access_time 2 months ago remove_red_eyeDikunjungi 1615 Kali
Dampak Covid-19 Terhadap Usaha Kuliner Kota Tepian, Ada yang Beralih Jual Hand Sanitizer

Muhammad Padil harus putar otak agar usaha kulinernya bertahan di tengah badai Covid-19. (istimewa)

Pelaku usaha dituntut tak kehabisan akal menghadapi situasi belakangan ini. Omzet turun drastis semakin sulit dihindari.

Ditulis Oleh: Mustika Indah Khairina
24 Maret 2020

kaltimkece.id Sebaran Covid-19 telah memberi banyak dampak. Dari sektor usaha, tak sedikit yang kena imbas. Omzet turun drastis. Kehilangan pembeli yang belakangan terpaksa lebih banyak di rumah.

Muhammad Padil, 28 tahun, merupakan salah satu yang merasakan perubahan itu. Ia seorang pengusaha kuliner dengan brand Ayam Serondeng. Belakangan, omzet bisnisnya turun 50 hingga 70 persen. Hanya dalam satu minggu terakhir.

“Awalnya satu hari bisa mendapatkan Rp3-7 juta. Kini, kadang Rp1 juta pun tidak sampai. Jika di bawah itu, bisa goyang,” ungkapnya kepada kaltimkece.id. Ia bersyukur pendapatan pada dua minggu sebelumnya cukup tinggi. Setidaknya cukup untuk menutupi kebutuhan bulan ini.

Namun, lain cerita dengan cabang utamanya di Universitas Mulawarman. Semenjak pengalihan ke metode pembelajaran daring, cabangnya itu harus rela dihentikan. Hingga waktu yang belum ditentukan.

“Di dalam kampus betul-betul tutup. Biasanya minimal dapat 150 hingga 200 order lewat staff marketing keliling. 20 pegawai itu juga akhirnya dinonaktifkan,” keluhnya.

Menyiasati hal tersebut, Padil terpaksa beralih ke strategi penjualan online. Kini, promo media sosial digenjot habis-habisan. Cukup membantu, meskipun masih jauh dari ekspektasi. Hanya memenuhi 40 persen dari target penjualan.

Warungnya di Jalan Gelatik No 21 masih buka. Namun memiliki SOP tersendiri. Memastikan kebersihan dan kenyaman. Konsep jaga jarak diterapkan. Pegawai, pengunjung, dan ojek online diwajibkan menggunakan hand sanitizer.

Strategi luring juga tetap berjalan. Lewat mitra-mitra usahanya selama ini. Dulu kerap memesan untuk acara-acara kecil maupun besar. “Karena Covid-19, pesanan 400 kotak yang baru masuk minggu lalu dibatalkan. Tetapi masih ada yang memesan untuk program Jumat sedekah.”

Padil tidak sendiri. Rekan yang menggeluti bisnis serupa juga terdampak. Omzet turun setidaknya 30 persen. Bahkan ada menutup lapak dan berganti haluan. “Teman saya yang jualan di Lambung Mangkurat sekarang jualan hand sanitizer. Lumayan, untungnya 30 sampai 40 ribu per botol. Jual empat botol, sudah dapat Rp100 ribu setidaknya,” lanjutnya.

Di tempat lain, kegelisahan melanda pemilik kedai kopi Cultuurvolk, Ardhi Rasy Wardhana, 24 tahun. Meski baru dibuka empat bulan lalu, kafenya sudah cukup populer di kalangan mahasiswa.  Letaknya sangat strategis. Di Jalan M Yamin, Samarinda Ulu.  Sangat dekat beberapa kampus.

Sama halnya dengan Padil, dampak ketakutan Covid-19 dan local lockdown sungguh terasa. Apalagi, sebelumnya, strategi online belum diterapkan. Kecuali untuk salah satu minuman spesialnya, Es Kopi Susu Dewantara. Hampir seluruh penjualan bergantung pelanggan yang datang langsung.

Sehari local lockdown di Kaltim, tidak satupun datang hingga pukul 7 malam. Padahal, kedai dibuka sejak pukul 9 pagi. “Dulu pelanggannya mencapai 50, sekarang kurang 10 yang datang. Omzet menurun 60 persen dibandingkan sebelumnya,” sebut Ardhi.

Oleh karena itu, fokusnya kini tertumpu penjualan online. Semua menunya sudah ada di aplikasi online. Timnya melakukan promosi di media sosial secara masif. Menggunakan influencer dan lingkaran pertemanan.

Namun, itu pun belum cukup. Keuntungan dari bulan-bulan sebelumnya harus digunakan untuk menutupi kebutuhan saat ini. Sayangnya, dengan asumsi pemasukan saat ini, cara tersebut hanya cukup untuk satu sampai dua bulan. Kemungkinan tutup bukanlah hal yang tidak mungkin. “Tetapi, kami harus pastikan dulu, sudah mencoba berbagai strategi dan peluang untuk mempertahankan usaha kami. Kami tidak ingin tutup begitu saja setelah membentuk ikatan emosional yang erat. Baik di internal tim kami maupun dengan pelanggan.”

Menurut Ardhi, ada tanggung jawab moral besar kepada pegawai dan pelanggannya. Bukan dampak ekonomi saja diderita. Efek psikologis juga terasa. Terutama di antara tujuh pegawainya. “Ada ketidakamanan dan ketidaknyamanan dalam bekerja. Mau tidak mau, mereka harus hadir biarpun pemesanan hanya melalui aplikasi. Masih berpotensi terpapar virus,” tambahnya.

Bagi Ardhi, kebijakan pemerintah begitu penting menyikapi persoalan ini. Misal dengan pemberian insentif untuk UMKM. Setidaknya menutupi gaji pegawai. Begitu juga penundaan atau bahkan penghilangan pajak sementara. Hal-hal itu dirasa akan sangat membantu. Selain itu, bisa lewat subsidi listrik atau stimulus finansial melalui kredit usaha rakyat.

Sementara bagi Padil, setidaknya pemerintah dapat memastikan harga bahan-bahan pokok stabil. Kalaupun ada subsidi, jangan berupa uang. Melainkan bahan utama seperti beras dan ayam.

Untuk para konsumen, keduanya berpesan, tetap berdiam di rumah. Namun jangan takut untuk memesan makanan dari luar. “Sayangnya, tidak semua warung punya standar yang jelas. Padahal virus bukan di udara saja. Bisa ada di kotak nasi bungkus juga. Oleh karena itu, pelanggan harus berhati-hati kalau ingin memesan,” imbau Padil. (*)

 

Editor: Bobby Lolowang

Ikuti berita-berita berkualitas dari kaltimkece.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar