Ekonomi

Dari Sungai Mahakam ke Samudra Luas, Kaltim Bisa Jadi Pusat Industri Maritim Nasional

person access_time 3 months ago remove_red_eyeDikunjungi 798 Kali
Dari Sungai Mahakam ke Samudra Luas, Kaltim Bisa Jadi Pusat Industri Maritim Nasional

Industri galangan kapal di Kaltim diyakini bisa semakin terus berkembang. (istimewa)

Tiga dekade lalu, pengusaha galangan kapal dari Sarawak belajar ke Samarinda. Kini kapal-kapal buatan negeri jiran jadi idola di dunia.

Ditulis Oleh: Robithoh Johan Palupi
09 Juni 2020

kaltimkece.id Mata Muhammad Ridwan terbelalak. Ia tak mampu menepis raut muka yang menampakkan rona miris. Deretan foto yang menampilkan beberapa kapal kayu yang setengah badannya terendam air, adalah sebabnya. Wartawan kaltimkece.id coba menunjukkan foto-foto yang viral dan bersumber dari media sosial. Itu adalah foto tentang kapal wisata di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, yang terdampar lantaran tak lagi dioperasikan menyusul industri wisata yang lesu akibat gempuran pandemi Covid-19.

Bagi Haji Wawan, begitu pengusaha muda asal Samarinda itu biasa disapa, tenggelamnya kapal-kapal kayu adalah sebuah keniscayaan, jika terus diapungkan. Sela-sela pada susunan kayu, akan sangat mudah ditembus air. Resapan lewat celah-celah kecil itu, harusnya terus dipompa dari badan kapal untuk menghindarkan kapal tenggelam. “Satu-satunya cara selain memompa, ya dengan docking,”begitu penuturan pria yang sudah menggeluti usaha galangan kapal sejak usia belasan tahun itu.

Haji Wawan memang mendapatkan warisan ilmu perakitan kapal dari leluhurnya. Sejak era kapal masih berbahan kayu, ia sudah berkecimpung di bidang tersebut. Menurutnya, ilmu perkapalan tidak banyak berubah, hanya pada sarana produksi dan bahan baku yang banyak adaptasi. Kini, kapal-kapal sudah bisa dibuat dalam ukuran jumbo, dan berbahan metal.

“Awalnya keluarga saya membuat kapal di Tarakan, dan sekarang saya meneruskannya dengan galangan di daerah Pendingin (Kutai Kartanegara),” ucapnya.

Kepala Dinas Perindustrian Samarinda, Muhammad Faisal menyebut, pihaknya terus mendorong para pelaku industri kapal, khususnya kapal kayu. Di wilayah Kelurahan Selili, terdapat para pengrajin kapal kayu. Menurut Muhammad Faisal, keberadaan mereka masih perlu mendapat bantuan dari pemerintah Kota Samarinda.

Tak terbatas itu saja, Dinas Perindustrian Samarinda juga sedang melakukan kajian untuk membuat sentra industri kapal kayu. “Kami sedang melakukan kajian dan mencari lokasi yang pas untuk pengembangan industri kapal kayu,” ungkap Muhammad Faisal.

Kenapa kapal kayu? Menurutnya, sektor ini masih memiliki pangsa pasar yang besar. Khususnya para nelayan. “Skala industri mereka kan masih kecil. Kalau pengusaha kapal berbahan logam kan sudah padat modal, dan mungkin itu jadi bagian Pemerintah Provinsi (Kaltim) untuk memberikan perhatian lebih besar,” lanjutnya.

Sepanjang aliran Sungai Mahakam seolah jadi magnet bagi para pengusaha galangan baik yang berbahan kayu ataupun logam , untuk mengadu nasib. Ketersediaan pasar, berupa permintaan angkutan hasil alam dari bumi Kalimantan adalah sebabnya. Menurut Kepala Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) Cabang Utama Samarinda, Imam Kusnandar, bisnis perkapalan adalah bisnis yang akan selalu hidup. Apalagi Indonesia adalah negara kepulauan. Arus perpindahan barang akan sangat tergantung pada industri perkapalan.

Menurut Imam, indusrti galangan kapal adalah industri yang tidak akan terkena resesi. Karena aturan mengharuskan kapal-kapal secara berkala menjalani perawatan. “Ada aturan yang memaksa kapal docking. Ini satu keuntungan yang didapat industri galangan kapal, yang tidak dimiliki industri jasa transportasi lainnya,” ungkap Imam.

Nilai lebih dari industri galangan kapal di Kaltim karena semua unsur dari rangkaian bisnisnya sudah tersedia. Ia mengilustrasikan, iklim bisnis maritim di Kaltim bagai sebuah rantai. Semuanya saling terkait, dan berjalan beriringan. “Di sini, semuanya mendukung. Alur untuk mengangkut ada, bahan yang akan diangkut ada, alat angkutnya ada, mereka yang melayani perawatan dan pembuatan juga ada. Ini semua saling berkaitan, dan saling mendukung,” tuturnya.

Dengan semua kemudahan itu, Haji Wawan menegaskan, seharusnya Kaltim bisa membuka mata lebih lebar. Tak kurang dari 100 pengusaha galangan kapal ada di aliran Sungai Mahakam. Sebagian dari mereka telah menghimpun diri dalam Ikatan Perusahaan Industri Galangan Kapal dan Lepas Pantai Indonesia (Iperindo) Kaltim. Haji Wawan sebagai Sekretaris Iperindo Kaltim, menyebut langkah menghimpun diri ini untuk membangun satu kekuatan yang diharapkan bisa menjembatani beragam persoalan yang muncul. Selain itu, ada mimpi besar untuk menjadikan Kaltim jadi pusat industri maritim wilayah timur Indonesia.

Langkah untuk menuju ke arah tersebut mulai ditata. Walau masih perlu perjuangan yang besar. Misalnya dengan terus menyuarakan aspirasi mereka kepada pemangku kebijakan di wilayah Provinsi Kalimantan Timur.

“Harapan besar kami, nantinya tercipta satu zona ekonomi khusus untuk bidang industri perkapalan. Seperti yang sudah ditetapkan di Batam (Provinsi Kepulauan Riau). Di sana, dukungan ke industri galangan kapal sudah tersedia,” tutur Haji Wawan.

Satu contoh kecil, di Batam ada perusahaan yang memfokuskan pada penyediaan plat baja, juga urusan desain kapal, atau mereka yang fokus pada penyediaan mesin dan baling-baling kapal. Sentralisasi pada satu kawasan seperti Batam itulah yang diharapkan bisa terwujud di Kaltim. Saat ini untuk keperluan tersebut, masih didukung dari daerah lain seperti Surabaya. Biaya menjadi lebih bengkak, lantaran untuk semua jenis bahan baku, dikenakan pajak.

“Kan menjadi tambahan biaya jika kita untuk membangun satu kapal, desainernya harus kita datangkan dari Surabaya, plat baja juga dari sana, terus mesin kita pesan dari China. Sudah didatangkan dari luar, semua dikenakan pajak pula. Tentu ini jadi tambahan biaya, dan waktu juga banyak yang terbuang,” ujar Ketut Ginatra, anggota Iperindo Kaltim yang juga pemilik PT Candi Pasifik Shipyard.

Selain Batam  yang bisa jadi rujukan, di daratan Kalimantan lain juga sudah ada yang merealisasikannya. Tapi itu di negeri jiran, Malaysia. Tepatnya di Kota Sibu, Sarawak. Dari penuturan Adi Wijaya, anggota Iperindo Kaltim, para pengusaha galangan kapal dari Sibu, pada awal 90-an belajar ke Samarinda untuk studi banding pembuatan kapal. Namun kini, kapal-kapal dari Sibu lebih banyak dipakai pengusaha pelayaran.

“Satu faktor kenapa di Sibu lebih berkembang. Karena mereka dapat dukungan penuh dari pemerintah Malaysia. Dulu mereka belajar ke Samarinda. Tapi justru sekarang pengusaha dari Indonesia banyak yang memesan kapal ke Sibu,” ungkapnya.

Tak hanya di Sibu, negara-negara maju juga sudah menjadikan industri perkapalan dengan pendekatan teknologi kekinian. Imam Kusnandar mencontohkan di Jerman, untuk membuat kapal pesiar ukuran jumbo, hanya perlu waktu sekitar 8-9 bulan. Sedangkan industri di Kaltim, untuk kapal kelas menengah saja perlu waktu sampai lebih satu tahun.

“Dalam bisnis, kecepatan menjadi satu tolok ukur keberhasilan. Para pembeli jelas akan memilih para produsen yang bisa merealisasikan pesanannya dalam tempo yang lebih singkat. Daya dukung itulah yang kita harapkan bisa terwujud di Kaltim. Jika berbicara lebih jauh, banyak dampak yang akan dirasakan. Serapan tenaga kerja, juga soal kebanggan kita sebagai negara kepulauan,” pungkasnya. (*)


Ikuti berita-berita berkualitas dari kaltimkece.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar