Ekonomi

Ekonomi Kaltim yang Masih Bergantung Pertambangan

person access_time 8 months ago remove_red_eyeDikunjungi 1629 Kali
Ekonomi Kaltim yang Masih Bergantung Pertambangan

Foto: daw.co.id

Selain batu bara, sektor yang berpotensi jadi penopang adalah perkubunan kelapa sawit.

Ditulis Oleh: Fachrizal Muliawan
27 Februari 2019

kaltimkece.id Bank Indonesia melaporkan angin segar untuk ekonomi Kaltim. Dalam kajian ekonomi regional atau KEKR, ekonomi Kaltim triwulan IV 2018 tumbuh 5,14 persen. Bahkan lebih tinggi dari triwulan III 2018 di angka 1,79 persen. Padahal, prediksi pertumbuhan ekonomi di Kaltim paling tinggi hanya 2,1 persen.

Dengan pertumbuhan ekonomi 5,14 persen triwulan IV, secara akumulatif total pertumbuhan ekonomi Kaltim ada di angka 2,67 persen. Meski tumbuh, angka tersebut tak bisa mengalahkan capaian di triwulan IV 2017, yakni 3,1 persen.

Baca juga:
 

Menurut Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kaltim Muhammad Nur, pertumbuhan ekonomi 2018 agak sulit bila dibandingkan 2017. “Pertumbuhan positif pada 2017 terlihat tinggi lantaran bisa meninggalkan angka minus pada 2016,” ujarnya.

Diungkapkan Nur, pada 2016 pertumbuhan ekonomi Kaltim -0,14 persen. Sedangkan pada 2018, Kaltim berangkat dari 2017 yang trennya sudah kian positif.Untuk kontribusi akselerasi usaha pertambangan, pertumbuhannya 6 persen. “Jelas ini di atas prediksi kami,” tuturnya.

Sektor pertambangan sempat dianggap cukup lesu. Pasalnya pada paruh pertama 2018 sektor pertambangan cukup drop lantaran curah hujan cukup tinggi. Baru pada paruh kedua 2018 maksimalisasi produksi dilakukan. “Terlebih harga batu bara tercatat masih di atas USD 90 per metrik ton,” ujarnya.

Meski cukup positif, Nur mengingatkan untuk jangan terlena dengan tren tersebut. Harus ada sektor yang bisa menjadi penopang baru ekonomi Kaltim. “Seperti yang terjadi pada 2015 hingga 2016, saat itu ekonomi Kaltim tergantung pertambangan,” ujarnya.

Nah, saat perang dagang Tiongkok dan Amerika Serikat mencuat, harga anjlok dan daerah penghasil seperti Kaltim ekonominya ikut terpuruk.

Saat ini sektor yang cukup menjanjikan adalah perkebunan. Sedangkan sektor transporasi, dengan dibukanya Bandara Aji Pangeran Tumenggung Pranoto Samarinda, menjadi bagian positif dalam pertumbuhan ekonomi Kaltim. Prediksi dia, pada 2019 dengan dibukanya bandara akan berpengaruh di sektor perhotelan dan perdagangan. Dampak tersebut khususnya dirasakan Samarinda dan daerah sekitarnya.

Jangan Ragu Biayai Permodalan Industri Hilirisasi

Pertumbuham positif ekonomi Kaltim pada triwulan IV 2018 tak membuat Gubernur Kaltim Isran Noor berpuas. Dia menyebut, sektor perkebunan, khususnya sawit, bisa menjadi sektor baru. “Terutama untuk industri produk turunannya (hilirisasi),” ujar dia.

Maka dari itu, dia meminta perbankan jangan ragu memberikan pembiayaan modal terhadap hilirisasi crude palm oil atau CPO alias minyak kelapa sawit. Sebagai gambaran, kata dia, pada 2015 produksi minyak kelapa sawit mencapai 5,5 juta ton per tahun.

Nah, selama ini pasar Eropa menjadi sasaran ekspor CPO. Namun, trennya cukup menurun lantaran beberapa isu lingkungan. Sebaiknya segera mencari pasar baru. “Seperti Tiongkok dan India,” ujar Isran. Dan opsi lainnya, membangun industri produk turunan CPO. “Agar ada nilai tambah dari CPO tersebut,” terang dia.

Soal pembangunan industri turunan CPO, Isran enteng menuturkan, bisa di mana saja. “Selama strategis silakan saja,” kuncinya. (*)

Editor: Bobby Lolowang

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar