Ekonomi

Harga Batu Bara Hampir di Bawah USD 50, Terendah dalam 15 Tahun, Ekonomi Kaltim Bisa Makin Babak Belur

person access_time 3 months ago remove_red_eyeDikunjungi 4510 Kali
Harga Batu Bara Hampir di Bawah USD 50, Terendah dalam 15 Tahun, Ekonomi Kaltim Bisa Makin Babak Belur

Aktivitas angkutan batu bara di Sungai Mahakam, Samarinda (foto: arsip kaltimkece.id)

Pasar ekspor batu bara makin terpukul. Ekonomi Kaltim diperkirakan segera memasuki masa yang lebih berat.

Ditulis Oleh: Fel GM
22 Agustus 2020

kaltimkece.id Gejala resesi global karena pandemi Covid-19 semakin menekan harga batu bara internasional. Menurut ICE Newcastle Coal, satu dari antara bursa yang menjadi patokan harga emas hitam dunia, komoditas ini anjlok hingga USD 50,10 per ton pada sesi penutupan Jumat, 21 Agustus 2020. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral juga telah menetapkan harga batu bara acuan pada Agustus 2020 sebesar USD 50,34 per ton.

Tanda-tanda kejatuhan harga batu bara dunia mulai nampak sejak pembuka bulan. Pada 3 Agustus 2020, harga emas hitam dibuka di angka USD 56 per ton. Selama 15 hari pasar pada Agustus, harga batu bara cenderung turun dan hanya terdongkrak dua kali. Dengan terjerembab di USD 50,10 berarti harga tersebut lebih buruk dari krisis 2016 (USD 50,40 per ton) sekaligus “memecahkan rekor” terendah dalam 15 tahun.

Situasi ini tidak baik bagi Kaltim. Masalahnya, pertambangan batu bara telah berkontribusi besar kepada produk domestik regional bruto (PDRB) Kaltim. Sebagaimana laporan Badan Pusat Statistik Kaltim, kontribusi sektor pertambangan dan penggalian kepada PDRB Kaltim berkisar 44 persen sampai 46 persen.

kaltimkece.id menyandingkan sejumlah data resmi untuk menggambarkan korelasi antara harga batu bara, PDRB Kaltim, dan pertumbuhan ekonomi tersebut. Pada 2019, PDRB sektor pertambangan sebesar Rp 233 triliun menurut harga konstan atau berkontribusi 45,39 terhadap total PDRB. Harga batu bara internasional waktu itu sedang prima. Sepanjang 2019, harga batu bara rata-rata USD 81,33 per ton berdasarkan olahan data ICE Newcastle Coal. Ekonomi Kaltim pun tumbuh 4,77 persen dengan 3,24 persen di antaranya berasal dari sektor pertambangan dan penggalian menurut dokumen BPS Kaltim.

Harga komoditas melorot sejak pembuka 2020 atau tepat ketika pandemi merebak. Sepanjang triwulan I 2020 (Januari-Maret), harga batu bara rata-rata hanya USD 69,48. Penurunan tersebut mencapai 22,47 persen jika dibandingkan dengan harga batu bara rata-rata triwulan I 2019. Walaupun harganya jatuh, ekonomi Kaltim pada periode ini masih bertahan dengan tumbuh positif 1,27 persen. Sebanyak 0,29 persen di antaranya disumbang oleh sektor pertambangan dan galian.

Pada kuartal II 2020 (April-Juni) atau enam bulan sejak pandemi merebak di Wuhan, Tiongkok, harga batu bara rata-rata tertekan ke USD 57,63 per ton. Harga tersebut sudah jatuh 30,89 persen dibanding triwulan II 2020. Ekonomi Kaltim yang bergantung dari ekspor komoditas ini pun tak mampu bertahan lagi. Menurut BPS Kaltim, pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2020 adalah minus 5,46 persen. Sebanyak minus 3,32 persen di antaranya adalah kontribusi sektor pertambangan dan penggalian.

Triwulan III 2020 (Juli-September) sudah berjalan setengah. Harga batu bara internasional kian tertekan. Sejak 3 Juli hingga 21 Agustus 2020, harga batu bara rata-rata tinggal USD 55,57 per ton. Ketika bursa ditutup pada 21 Agustus 2020, harga komoditas ini menyentuh harga terendah sepanjang 15 tahun yaitu USD 50,10 per ton. Jika dibandingkan periode yang sama, 1 Juli 2019-21 Agustus 2019, penurunan harga batu bara rata-rata sebesar 30 persen.

Harga Turun, Produksi Dipotong

Sejumlah analis ICE Newcastle Coal memperkirakan, harga batu bara sepanjang kuartal III 2020 bisa terus tertekan. Harga batu bara rata-rata pada Agustus hingga September, menurut proyeksi tersebut, hanya USD 49,80 per ton. Ekonomi Kaltim bisa semakin babak belur mengingat produksi yang cenderung menurun. Bagaimanapun, PDRB dari sektor pertambangan dan penggalian terbentuk dari perkalian volume produksi batu bara dengan harganya. Ketika dua variabel itu berkurang, nilai PDRB Kaltim pun turun karena formula berbanding lurus tersebut.

Penurunan volume produksi ini telah dikonfirmasi Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI). Berdasarkan kajian APBI, perkiraan produksi batu bara tahun ini sekitar 595 juta ton telah turun menjadi 530 juta ton pada Juni lalu. Para produsen besar anggota APBI berencana memotong produksi pada 2020 sebesar 15-20 persen dari rencana awal. Pemotongan produksi tidak lepas dari batu bara yang telah oversupply di pasar dunia.

Analisis yang patut diperhatikan datang dari perusahaan pertambangan terbesar di dunia, BHP. Perusahaan yang berbasis di Melbourne, Australia ini, telah berencana memangkas bisnis batu bara, sebagaimana dilansir CNN. Dasar dari kebijakan tersebut adalah semakin besarnya penolakan terhadap sumber energi tinggi karbon serta pasar yang semakin memburuk karena pandemi.

Menurut dokumen resmi perusahaan, BHP menyebutkan bahwa penurunan harga batu bara dialami untuk seluruh nilai kalori. Harga batu bara berkalori 6.000 kcal tinggal USD 61 per ton atau turun hampir setengah pada paruh pertama 2020. Sementara indeks rata-rata 5.500 kcal pada periode yang sama tinggal USD 38 sampai USD USD 58 per ton. Batu bara dengan kualitas yang lebih rendah (5.000, 4.200 dan 3.400) juga terdampak (BHP's Economic and Commodity Outlook Full Year, 2020).

Terpukulnya komoditas ini disebabkan turunnya produksi sejumlah negara produsen raksasa. Sebagai contoh, permintaan batu bara dari Jepang mengalami kontraksi 3 persen (year on year/yoy) pada paruh pertama kalender 2020. Selanjutnya, impor Korea Selatan turun 11 persen (yoy). Tiongkok, sebagai negara pengimpor batu bara terbesar di dunia, juga belum juga pulih ekonominya. Efek lockdown beberapa waktu lalu masih terasa sehingga berdampak kepada konsumsi energi.

Impor batu bara India juga mengalami penurunan tajam. Pada Januari-Juni 2020, permintaan negara Hidustan turun 27 persen (yoy). Lesunya impor India tidak lepas dari dampak pandemi serta kebijakan menggenjot produksi batu bara dalam negeri. Adapun permintaan dari wilayah Atlantik dan Mediterania, masih menurut BHP, sudah melemah sebelum lockdown Covid-19. Pelemahan impor mencerminkan peralihan batu bara ke gas yang didorong secara komersial di beberapa bagian Eropa.

“Sepanjang kalender 2020, semua faktor (yang menyebabkan harga batu bara turun) dalam beberapa kasus diperkuat oleh Covid-19. Permintaan batu bara untuk listrik turun tajam. Energi terbarukan telah mampu mengambil bagian yang lebih besar dari kue yang menyusut itu,” tulis perusahaan tersebut. (*)

Ikuti berita-berita berkualitas dari kaltimkece.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:

Kaltim Kece

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar