Ekonomi

Melemahnya Rupiah yang Bisa Membawa Berkah

person access_time 8 months ago remove_red_eyeDikunjungi 2329 Kali
Melemahnya Rupiah yang Bisa Membawa Berkah

Foto: Dokumentasi kaltimkece.id

Kaltim bisa kebagian berkah dari melemahnya rupiah. Nilai ekspor provinsi ini jauh di atas impor.

Ditulis Oleh: Muhammad Yamin
07 September 2018

kaltimkece.id Dolar Amerika Serikat atau USD sedang perkasa-perkasanya. Sempat menyentuh Rp 15 ribu, USD 1 mulai turun ke Rp 14.890 di meja perdagangan pada Jumat siang, 7 September 2018. Kurs rupiah yang terdepresiasi 6,93 persen dibanding tahun lalu dapat menimbulkan sejumlah dampak, baik negatif maupun positif. 

Contoh paling nyata dampak negatif melemahnya rupiah adalah pada 1998 silam. Ketika itu, rupiah melemah terlampau hebat dari Rp 2.300 per USD menuju Rp 16.000 per USD. Kegiatan usaha yang mengandalkan bahan baku impor segera ambruk. Pengusaha harus mengeluarkan modal besar untuk membeli bahan baku. Biaya produksi yang bertambah berkali-kali lipat membuat harga jual produk melambung ke langit. Kenaikan harga barang segera mengundang inflasi yang luar biasa. Sebagian besar pengusaha akhirnya mengambil langkah penghematan. Korporasi mengerdilkan kegiatan sehingga berakhir kepada pemutusan hubungan kerja secara masif. Sebagian yang lain menggulung tikar. 

Dari runtuhnya rupiah di hadapan dolar AS, yang terjadi kemudian adalah masalah yang tak habis-habis. Pengangguran meningkat, harga barang tinggi, pertumbuhan ekonomi minus, bank-bank kolaps, dan utang negara membengkak (Aspek Ekonomi Makro, 2005, hlm 1). 

Namun, rupiah tetaplah mata uang dengan dua sisi yang tak terpisahkan. Dampak positif turut hadir manakala kurs rupiah melemah, meskipun, dampak negatifnya jauh lebih merusak. Efek positif pelemahan rupiah salah satunya disebabkan karena nilai mata uang suatu negara sangat ditentukan oleh nilai perdagangan internasional atau aktivitas ekspor dan impor. Bagi Indonesia, situasi itu berjalan sejak menganut sistem nilai tukar mengambang bebas, freely floating exchange rate, mulai 1997 hingga sekarang. 

Menganut sistem tersebut, rupiah yang terdepresiasi justru menggeliatkan ekspor. Melemahnya rupiah pada 1998, 2008, dan kini 2018, membuat harga komoditas ekspor Indonesia lebih murah ketika dijual ke negara luar. Turunnya harga dapat membuat negara-negara pengimpor meningkatkan permintaan barang dari Indonesia. Sukirno yang menyusun buku Makroekonomi: Teori dan Pengantar (2012) menyimpulkan, “Ketika nilai rupiah turun atau terjadi devaluasi mata uang, ekspor akan bertambah karena di pasaran luar negeri, ekspor negara menjadi lebih murah” (hlm 408). 

Baca juga:
 

Rupiah dan Ekspor Kaltim 

Kaltim adalah provinsi dengan struktur ekonomi yang sangat berbeda dibanding daerah industri di Pulau Jawa. Sebagai provinsi dengan simpanan sumber daya alam yang besar, Kaltim mengekspor komoditas mentah yang tidak menggunakan bahan baku impor. Ia berbeda dengan industri otomotif, elektronik, maupun konfeksi, yang banyak memerlukan bahan baku dari luar negeri. 

Kondisi sedemikian membuat neraca ekspor-impor Kaltim selalu surplus. Nilai ekspor provinsi selalu melebihi impor. Pada 2016 saja, ekspor Kaltim menyentuh USD 13,85 miliar sementara impor hanya USD 3,71 miliar (Derap Langkah Pembangunan Kaltim, 2018, hlm 42). 

Kembali ke melemahnya rupiah, komoditas ekspor utama Kaltim dari sektor pertambangan, perkebunan, dan perikanan, akan lebih murah di pasar luar negeri. Sesuai prinsip ekonomi makro, permintaan terhadap migas, batu bara, minyak sawit mentah, hingga udang, dapat meningkat. Itu berarti, nilai ekspor Kaltim akan bertambah. Naiknya nilai ekspor seperti di sektor perikanan secara langsung berdampak positif bagi ekonomi kerakyatan.  

Deputi Bank Indonesia Perwakilan Kaltim, Harry Aginta, sepakat dengan situasi itu. "Memang ada cerita bahwa eksportir udang di Kaltim senang ketika nilai dolar tinggi,” bebernya kepada kaltimkece.id, Kamis, 6 September 2018. Menurut Harry, pengekspor udang menerima bayaran dengan dolar. 

“Lagi pula, mereka tidak mengimpor barang untuk berproduksi,” lanjutnya. Dari sisi biaya, kenaikan dolar tidak berpengaruh. Efek positif justru datang dari sisi pendapatan. 

Meminjam data yang dilansir Badan Pusat Statistik Kaltim, nilai ekspor dari sektor perikanan memang menjanjikan. Pada 2017, Kaltim telah mengekspor 2.340 ton produk perikanan, terbesar adalah udang windu. Dari situ, dibukukan nilai ekspor perikanan Kaltim sebesar Rp 416 miliar (hlm 167). Namun demikian, porsi sektor perikanan terhadap ekspor Kaltim masih relatif kecil. Komoditas utama provinsi masih didominasi migas, pupuk, batu bara, dan minyak sawit mentah. 

Harry melanjutkan penjelasannya. Melemahnya rupiah bisa membawa keuntungan kepada Kaltim ketika permintaan ekspor bahan mentah meningkat. “Tapi tidak selalu demikian. Bergantung negara pembeli karena mereka harus menyesuaikan dengan kebutuhan," jelasnya. 

Satu nada dengan Harry, Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri, Kadin, Kaltim, Alexander Soemarno, memberikan pendapat. Rupiah yang sempat menyentuh Rp 15.000 per USD masih sehat bagi Kaltim. Berbeda dengan 1998, melemahnya rupiah saat ini tidak memengaruhi inflasi. “Harga kebutuhan pokok di Kaltim tidak naik drastis. Ini karena ketersediaan stok bahan pokok masih terjaga," ulasnya kepada kaltimkece.id

Namun demikian, Alexander tetap meminta pemerintah waspada. Apabila dolar semakin liar, seluruh dampak negatif dengan daya hancur yang mengerikan bisa benar-benar terjadi. Ekonomi negara bisa hancur sehancur-hancurnya seturut kehadiran krisis multidimensi seperti 1998. Jika sudah demikian, dampak positif melemahnya rupiah menjadi tidak ada artinya lagi. (*)

Editor: Fel GM

Senarai Kepustakaan
  • Kunawangsih, Tri, dan Pracoyo, Antyo, 2005. Aspek Ekonomi Makro. Jakarta: Penerbit Grasindo.
  • Sukirno, Sadono, 2012. Teori dan Pengantar. Jakarta: Raja Grafindo Persada. 
  • Tim Biro Humas Sekretariat Provinsi Kaltim, 2018. Derap Langkah Pembangunan Kaltim, Samarinda: Biro Humas Sekretariat Provinsi Kaltim.
folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar