Ekonomi

Pemkab Kukar Diminta Lebih Serius Beri Perhatian pada Galangan Kapal

person access_time 2 months ago remove_red_eyeDikunjungi 1635 Kali
Pemkab Kukar Diminta Lebih Serius Beri Perhatian pada Galangan Kapal

Aktivitas galangan kapal di Loa Gagak, Kutai Kartanegara. (istimewa)

Industri galangan kapal tumbuh subur di sepanjang tepi Sungai Mahakam. Namun kelangsungannya belum mendapat perhatian penuh pemerintah.

Ditulis Oleh: Robithoh Johan Palupi
19 Juli 2020

kaltimkece.id Sungai Mahakam telah menjadi urat nadi ekonomi masyarakat Kaltim jauh sebelum era modern. Kapal sebagai alat angkut ternyata jadi saksi bagaimana alih teknologi ikut berpengaruh pada budaya masyarakat tepi sungai. Alat apung itu tak lagi didominasi jenis mini yang berbahan kayu. Arus investasi dalam industri perkapalan pun tumbuh subur dan menghadirkan beragam rupa kapal besi.

Hujan deras pada Kamis, 16 Juli 2020 pagi yang mengguyur sebagian besar wilayah Samarinda dan Kutai Kartanegara, membawa hawa dingin. Jalan becek di perbatasan Loa Bakung dengan Loa Gagak sedikit menyulitkan perjalanan kaltimkece.id saat melintasi perbatasan dua wilayah itu. Loa Bakung berada di wilayah Samarinda, dan bertetangga dengan Loa Gagak di Kabupaten Kutai Kartanegara. Di wilayah yang masuk Kecamatan Loa Kulu itu, ternyata tumbuh subur industri galangan kapal. Galangan kapal milik PT Candi Pasific Shipyard adalah satu di antaranya.

Jalur ke lokasi tersebut cukup berliku. Setelah simpang tiga di ujung Jembatan Mahakam Ulu, jalanan dengan cor beton, disambut jalan aspal yang sudah terkelupas di berbagai sisi. Itu masih ditambah jalan yang hanya menyisakan tanah becek. Jarak tempuh dari jembatan yang menghubungkan Loa Janan Ilir dengan Loa Bakung itu sampai ke Loa Gagak hanya sekitar 5 km. Tapi perlu waktu lebih 30 menit bagi pengendara roda empat. Apalagi saat musim penghujan, pengemudi dituntut lebih cermat memilih arah roda agar tak terperosok.

Ketut Ginatra, Direktur Operasional PT Candi Pasific Shipyard pagi itu memang sedang punya gawe. Ia memeriksakan semua karyawannya untuk melakukan rapid test. Dua petugas medis dari RS Dirgahayu, Samarinda didatangkan untuk pengambilan sampel darah untuk 52 orang karyawannya. Itu bagian dari upaya pencegahan penyebaran Covid-19 di wilayah kerja perusahaannya. Tak hanya kegiatan rapid tes, PT Candi Pasific Shipyar juga menggelar pelatihan standar pemadam kebakaran.

“Ini bagian dari upaya kami merespons keadaan yang sedang tidak baik di masyarakat. Kami ingin wilayah kerja kami steril dari Covid, dan memastikannya dengan rapid tes. Kami juga menggelar pelatihan pemadaman kebakaran karena kegiatan pekerjaan kami kan banyak menggunakan instrumen api dalam hal pengelasan bahan kapal,” ujar Ketut Ginatra.

Di lokasi itu, protokol kesehatan memang dilakukan dengan ketat. Setiap yang masuk ke areal galangan kapal, diharuskan melalui pengecekan suhu tubuh dan penyemprotan cairan disinfektan. Juga mencuci tangan dengan sabun menjadi kewajiban kala memasuki area kantor. Penggunaan masker juga menjadi keharusan, selain penggunaan alat pelindung diri seperti helm dan sepatu pengaman.

PT Candi Pasific Shipyard telah beroperasi sejak 2015. Perusahaan galangan kapal itu merupakan anak usaha dari Ersihan Group yang bergerak di bidang pelayaran. Kebutuhan reparasi kapal dan juga pembuatan kapal baru, adalah alasan kenapa Candi Pasific Shipyard didirikan. Dalam prosesnya, Ketut Ginatra ikut terlibat. Pemilihan lokasi Loa Gagak sudah melalui survei sejak 2011.

“Kami melihat perairan di Loa Gagak sangat bagus untuk mendirikan galangan kapal. Karena berada di bagian dalam area lengkungan sungai, jadi arus di sini cukup deras dan sedimentasi tidak terjadi. Dengan perairan yang cukup dalam, kapal besar bisa bersandar,” lanjutnya.

Kemudahan bentang alam itu ternyata sebanding dengan rintangan yang dihadapi Candi Pasific Shipyard di awal pendirian. Perkara terbesarnya adalah infrastruktur pendukung. Meski berada di pinggir sungai tapi tidak semua kebutuhan bisa dengan mudah disuplai lewat jalur air. Jalan darat yang diharapkan bisa mendukung pekerjaan, hanya sekelas jalan desa dengan lebar minimalis. Pengangkutan bahan pendukung dari wilayah Samarinda pun sering tersendat.

“Kendala ini yang sempat kami laporkan ke Pemerintah Kukar saat kami mengurus izin dan kelengkapan pembuatan galangan. Respons sebenarnya cukup bagus, tapi kita juga sadar tidak bisa semuanya langsung berubah,” ungkap pria berkaca mata itu.

Kendala besar lain yang dihadapi juga terkait ketersediaan tenaga kerja. Untuk mendapatkan tenaga ahli di bidang perkapalan, Ketut Ginatra masih harus mendatangkan dari Surabaya. Tenaga kerja yang tersedia di sekitar Loa Gagak dan Samarinda, lebih banyak untuk pekerjaan non-skill. “Kami sebenarnya ingin tenaga kerja itu dari sekitar lokasi perusahaan. Tapi yang siap kerja rata-rata untuk bagian non skill. Ini juga harus jadi perhatian serius semua pihak, dan jika memungkinkan pemerintah hadir untuk memberikan bantuan dalam hal peningkatan kualitas tenaga kerja,” ungkap Ketut Ginatra.

Kini, di Loa Gagak telah ada 4 perusahaan galangan kapal skala besar. Dengan perusahaan lain tercatat 14 yang ada di wilayah tersebut. Perputaran ekonomi pun jadi sebuah keniscayaan. Hal ini pun mendapat tanggapan positif dari  DPRD Kutai Kartanegara. Abdul Rasyid, Ketua DPRD Kukar menyebut potensi ekonomi di wilayah Loa Gagak bisa jadi cerminan kondusifnya investasi di wilayahnya. Saat ini Kukar memang lebih dikenal sebagai daerah penghasil sumber daya alam. Minyak, batu bara, juga sawit adalah sektor yang lebih dulu dieksploitasi secara ekonomi. Menjadi keniscayaan jika sektor perkapalan juga bakal tumbuh.

Sejauh ini, kluster galangan kapal memang belum dapat perhatian serius. Misalnya dalam hal isu menjadikannya sebagai kawasan ekonomi khusus.

“Belum mengarah ke sana (kawasan ekonomi khusus), tapi kami tidak menutup mata dan akan pelajari potensi jika hal itu dikembangkan di Kukar,” ujar Abdul Rasyid.

DPRD sebagai lembaga pembuat regulasi pun sangat mungkin mengambil peran dalam hal mendukung peningkatan ekonomi. Misalnya dengan aturan-aturan yang lebih detail di sektor perkapalan. Apalagi galangan kapal juga mendukung ekonomi di kabupaten terluas di Kaltim ini. Dari catatan Ikatan Perusahaan Industri Galangan Kapal dan Lepas Pantai Indonesia (Iperindo) Kaltim, terdapat sekitar 105 perusahaan galangan kapal di sepanjang Sungai Mahakam, dan sebagian besar di antaranya berada di wilayah Samarinda dan Kukar.

“Serapan tenaga kerja di wilayah galangan kapal saya lihat cukup bagus. Ini menjadi salah satu solusi bagi para pekerja terampil di bidang perkapalan untuk mendapat pekerjaan. Sisi itu yang akan kami perhatikan, selain juga perputaran ekonomi yang juga nilainya cukup besar,” lanjut Abdul Rasyid.

Iperindo Kaltim memberikan ilustrasi jika industri galangan kapal di tepi Sungai Mahakam adalah tempat bagi pelaku industri serupa di Sibu, Malaysia pada akhir 1990-an untuk belajar. Tapi sekarang perkembangan di Negeri Jiran itu jauh lebih pesat. Salah satu faktor yang sangat berpengaruh adalah kehadiran pemerintah lewat regulasi yang memberi banyak kemudahan. “Belajar dari Sibu, mereka mendapat banyak kemudahan dari pemerintah. Akibatnya para pengusaha lebih mudah berinvestasi. Jika sinergi seperti di Sibu sudah bisa terwujud, saya yakin kita tidak kalah dalam hal kualitas produk,” ungkap Ketut Ginatra yang juga anggota aktif Iperindo Kaltim. (*)

 

Ikuti berita-berita berkualitas dari kaltimkece.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar