Hukum

Fakta-Fakta Persidangan Rita-1: Percakapan Cinta antara Rita-Khoi (Bagian Pertama)

person access_time 2 months ago remove_red_eyeDikunjungi 23930 Kali
Fakta-Fakta Persidangan Rita-1: Percakapan Cinta antara Rita-Khoi (Bagian Pertama)

Ilustrasi: Danoo (kaltimkece.id)

Berucap kata cinta
Bersama di penjara 
Berdua

Ditulis Oleh: Fel GM
08 Oktober 2018

kaltimkece.id Megakorupsi di Kutai Kartanegara lamat-lamat terkuak sejak Bupati (non-aktif) Rita Widyasari dan Khairuddin alias Khoi ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi pada 7 Oktober 2017, tepat setahun lalu. Keduanya, bersama Heri Susanto alias Abun, disangka terlibat gratifikasi dengan nilai ratusan miliar rupiah. 

Banyaknya dakwaan kepada Rita dan Khoi membuat persidangan berjalan panjang. Selama 6 bulan, sejak 2 Februari hingga 7 Juli 2018, sebanyak 72 saksi dan 895 alat bukti telah dihadirkan di muka hakim. Rita dan Khoi akhirnya divonis bersalah karena terbukti menerima rasuah dengan nilai Rp 110,7 miliar. Rita dihukum 10 tahun penjara dengan denda Rp 600 juta subsidair 6 bulan kurungan. Sementara Khoi dijatuhi hukuman 8 tahun penjara dengan denda Rp 300 juta subsidair 3 bulan kurungan. Hak politik keduanya juga dicabut selama lima tahun. Vonis tersebut diterima Rita sedangkan Khoi masih mengajukan banding. 

Persidangan sedemikian panjang menyajikan sejumlah keterangan yang disebut sebagai fakta persidangan. Seluruh fakta itu dicatat dalam dokumen notulensi setebal 1.474 halaman yang diterima Jaringan Advokasi Tambang, Jatam, dari Komisi Pemberantasan Korupsi. Kepada kaltimkece.id, juru bicara KPK, Febri Diansyah, telah membenarkan kesahihan dokumen tersebut adalah dari KPK. Dokumen tersebut diteliti kaltimkece.id dengan bantuan Kelompok Kerja 30 dan Jaringan Advokasi Tambang, sepekan lamanya. 

Dari kasus ini, pertanyaan paling penting dalam skandal korupsi terbesar di Kaltim tersebut terjawab. Pertanyaan itu adalah; mengapa Khairuddin, lelaki muda berwajah tampan, bisa sangat berpengaruh di Kukar? Mengapa Khairuddin, hanya seorang komisaris perusahaan media dan bukannya pejabat tinggi, bisa dianggap sebagai orang yang mewakili bahkan menentukan sikap Bupati?

Jawabannya diuraikan jaksa penuntut KPK dengan memperlihatkan pesan singkat antara Rita dan Khoi pada 2011 dan 2012. Percakapan ini diajukan jaksa untuk membantah keterangan Khairuddin. Sebelumnya, Khoi menyatakan hanya menjadi bagian dari tim pemenangan Rita di Pilkada Kukar pada 2010. Khoi mengklaim tidak memiliki peran lagi setelah Rita dilantik sebagai bupati.

Keterangan itu dibantah oleh Rita di persidangan. Bahwasanya, Rita memang sering meminta pendapat kepada Khoi berkaitan dengan masalah pemerintahan namun tidak berhubungan dengan fee proyek. Keterangan Rita diperkuat jaksa dengan menampilkan percakapan yang terekam di dalam telepon genggam iPhone 4 milik Khoi. Selain membicarakan masalah pemerintahan, pesan pendek di antara keduanya mengungkapkan adanya hubungan yang dekat. Sangat-sangat dekat. 

Gambaran lebih jelas disajikan dalam rangkaian pesan singkat yang ditampilkan secara utuh berikut ini (redaksi memperbaiki beberapa kesalahan tik sekaligus memberikan terjemahan beberapa frasa yang mengandung bahasa Kutai). 

Selasa, 28 Februari 2012
 
Khoi 
[21.13] Ketawakan saja saya ini
 
Rita 
[21.15] Atur baik-baik. Perhitungan dimulai. Saya marah betul ini. 
 
Khoi 
[21.19] Kenapa kita (kamu) ini?
 
(Catatan redaksi. ‘kita’ dalam bahasa setempat berarti anda, panggilan sopan kepada lawan bicara. Namun, melihat kedekatan keduanya dalam percakapan ini, ‘kita’ lebih tepat digantikan oleh ‘kau’ atau ‘kamu’. Agar tidak membingungkan pembaca, redaksi kaltimkece.id mengganti seluruh perkataan ‘kita’ dalam rangkaian pesan singkat ini menjadi ‘kamu’).
 
Rita 
[22.10] BB (BlackBerry) saya pakai Telkomsel juga, tidak ada gangguan.
 
Khoi 
[22.13] Kamu tanya saja Joni, Junai KPU, ya. Saya SMS-an maha (saja).
[22.15] Saya hendak telepon Bang Juanda saja, ndik bisa makai (tidak bisa pakai) nomor telepon BB saya. 
 
Rita 
[22.18] Ganti kartunya. Apa susahnya. Ndik (tidak) niat.
[22.29] Balas SMS gin susah. Capek deee.
 
Khoi 
[22.30] Ya namanya ndik (tidak) mau terkirim tegak mana (macam mana)?
[22.30] Kamu saja yang susah balas SMS.
 
Rita 
[22.31] Ganti kartu kamu.
[22.31] Saya nak carang penting (saya mau bicara penting).
[22.32] Kecuali kamu nak (mau) berhenti jadi staf khusus. Jadi laki Wita maha (saja).
 
Khoi 
[22.32] Sudah aktif BBM-nya. Saya kirim ke kamu, ndik (tidak) nyambung.
 
Rita 
[22.32] Jangan pernah anggap remeh orang, yaaa.
 
Khoi 
[22.32] Saya sudah pakai wireless, tahu kah?
[22.33] Demi Allah, demi Rasulullah, tahu kah?
 
Rita 
[22.33] Ya karena wireless.
 
Khoi 
[22.33] Mati ibu bapak saya mun saya naka (jika saya berbohong).
[22.34] Sudah bolak-balik HP ini saya cabut baterainya.
 
Rita 
[22.37] (Memberi emoticon jempol) Berarti info itu bujur, bye.
 
Khoi 
[22.37] Apa-apaan kamu ini. 
[22.41] Mau kah saya hanya urusan BBM ndik (tidak) aktif, bekelahian (berkelahi)?
 
Rita 
[22.48] Nomor HP, BBM kamu, saya blok, byeeee.
 
Khoi 
[22.49] Ya, saya terserah kamu saja. Tahu diri lah saya. 
 
Rabu, 29 Februari 2012
 
Khoi
[00.45] Terima kasih menghapus BB contact saya. Jaga kesehatan kamu. Mulai hari ini BB saya off-kan, byee. 
 
Rita 
[08.00] Saya cuma mau tahu, seberapa hebat kamu menepati janji. Setiap ultah Siang ndik (tidak) dengannya. Amun ndik ke sini (kalau tidak ke sini), ndik (tidak) masalah merayakan di sana. Kamu lihat saja reaksi saya .D (emoticon tertawa).
 
(Ditemukan istilah ‘Siang’ dan ‘Malam’, diduga kata ganti dari nama orang lain yang hanya dipahami Rita dan Khoi)
 
[08.57] Nomor iPad saya berapa. Kayaknya belum dibayarkan, wass. 
 
Khoi 
[09.31] Siapa yang berjanji setiap ultah Siang saya ndik (tidak) ada? Kalau saya ada berjanji tegak (seperti) itu, pasti kamu juga berjanji tegak (seperti) itu.
[09.32] Ndia (nanti) saya cek nomor iPad kamu. 
 
Rita 
[09.37] Kamu yang janji dulu. Saya bayar sendiri saja, kayaknya belum dibayar, wass.
 
Khoi 
[09.38] Kalau kamu belum bayar, ya segalanya (semua) nomor saya belum dibayar.
[09.38] Ya, kalau saya berjanji, kamu jua pasti saya suruh berjanji.
 
Rita
[09.39] Tolong nomornya. Saya mau bayar sekarang. 
 
Khoi 
[10.13] Sudah dibayar. 
 
Rita 
[10.16] Nomornya berapa?
[10.16] Saya mau bayar sendiri.
[10.20] Minta nomor teleponnya.
 
Khoi 
[10.26] 811586601
 
Rita 
[11.00] Jangan dibayarkan lagi. Saya sudah padah (beritahu) Refki. Maaf membebani kamu beberapa bulan bayarkan tagihan iPad. Thank you sebelumnya. 
[11.03] Jadi BB kamu masih mati, kah?
 
Khoi 
[11.05] Saya saja yang sok mbayarin. Saya yang minta maaf. 
[11.06] Untuk apa juga saya aktifkan BB. Contact saya saja sudah kamu hapus. 
 
Rita 
[11.25] Dan jangan anggap saya main-main terus. Saya tahu diri dan ndik (tidak) mau kamu banyak dosa karena banyak naka (jenaka –bohong).
[11.25] Apa lagi utang saya dengan kamu? Saya mau bayar supaya etam (kita) pisah enak. 
[11.30] Satu lagi kawan kamu mau kamu tarik semua ndik (tidak) bantuin saya. Saya minta maaf seluas-luasnya. Karena saya sudah cukup kamu nakai (jenakai –bohongi). Saya ndik (tidak) sebodoh Siang, sehali (sebodoh) pacar-pacar kamu, saya cuma minta dihargai. Wass. 
 
Khoi 
[11.32] Silakan kamu menyebut saya nakai (bohongi) kamu. Saya saja yang banyak utang dengan kamu.
 
Dalam keterangannya di persidangan, Rita mengatakan percakapan di atas terjadi ketika dia sedang marah karena Khoi ingin masuk Pemuda Pancasila. Rita tidak setuju. 
 
Senin, 2 April 2012
 
Rita 
[20.05] Ndik (tidak) jadi ke Bandung sida (dia). Saya empai (besok) ujian. 
 
Khoi 
[20.06] Jadi kamu ndik (tidak) ke sini?
 
Rita 
[20.11] Mana bisa. Anak saya demam.
[20.12] Minta telepon Pajri. Bu Kapolda nak (mau) telepon. Mau beli KP itu. 
 
Khoi 
[20.15] Hahahaha, enggak ada guna juga ternyata saya ke Jakarta. Terserah alasan kamu apa. Lucu saja. Tapi ya udah, lah. Nasib saya.
[20.16] 6285214110097 Pajri
[20.16] Saya pamit saja, besok pulang, malam ini saya mau mabuk.
 
Rita 
[20.31] Baguuus… Puas-puas saja.
[20.31] Saya kan belum yakinkan Khoi, kamu sudah di Balikpapan.
[20.32] Atur saja mana kamu senang. Saya ikut bahagia tapi kamu tahu saya bagaimana. 
 
Khoi
[20.38] Kalau kamu mau, bisa saja kamu tadi enggak langsung pulang ke rumah. Atau kamu bilang besok pagi mau ke Lemhanas, jadi supaya enggak macet tidur dekat-dekat. 
 
Rita
[21.10] Anak saya sakit jadi saya pulang cepat. 
 
Khoi 
[21.13] Ya, terserah kamu lah. Besok saya izin pamit. Jaga kesehatan. Byee
 
Rita 
[21.14] Kamu ingat cinta saya, ya. Jangan macam-macam dengan kanak bini (anak istri). Sial di kamu ndia (nanti). 
 
Khoi 
[21.16] Saya enggak mau berdebat. Byee.
 
Rita 
[21.17] Terima kasih. Saya tahu kamu sudah macam-macam, byeee. 
 
Khoi 
[21.19] Kalau saya ada macam-macam, demi Allah, mati ibu bapak saya. Saya malam ini langsung ke bandara. Besok saya kabari kalau saya sudah di Balikpapan. Setelah itu jangan kamu mencari berita saya.
 
Rita 
[21.20] Baiknya niat kamu. Tambahi saja beban hidup saya. 
 
Khoi 
[21.22] Enggak, ah. Saya mohon maaf membebani kamu. Saya ini selalu menyusahkan kamu saja. 
 
Rita 
[21.27] Ya, terima kasih. 
 
Khoi 
[21.51] Iya sama-sama. Sekarang saya langsung ke bandara. Rencana saya kalau dapat pesawat pertama, saya minta rida dunia akhirat dengan kamu.
 
Rita 
[21.53] Saya cinta Khoi. Bye. 
 
Khoi
[21.55] Sekarang saya tahu kamu. Jangan kamu cari kabar saya ke siapapun. Byee.
 
Rita 
[21.57] Awas saja kamu. 
[22.10] Gagahnya :'( (emoticon menangis). Saya kangeeen.
 
Khoi 
[22.22] Enggak sesuai kata dengan perbuatan. Kamu buktikan saja semua sumpah saya dan apa yang saya lakukan. Saya sepanjang jalan ini menangis. Tapi, ya sudah lah. 
 
Rita 
[22.24] Ya gimana, saya enggak bisa. Khoi, pulang nanti saya hubungi pas bisa ke sini habis ujian. Jaga cinta etam (kita) yaa… Byee. 
 
Khoi 
[22.26] Hahaha, enggak usah saja. Kita buktikan saja ucapan-ucapan yang pernah kita ucapkan bersama.
 
 
Selasa, 3 April 2012
 
Khoi 
[10.56] Sekedar info saja, saya sudah di Balikpapan. Ndik (tidak) usah kamu cari kabar saya ke siapapun. Kamu akan tahu gimana cinta saya ke kamu. Jaga kesehatan. Byee. 
 
Rita 
[11.50] Saya tanya Siang nanti, amun ndik (kalau tidak) kakak kamu. 
 
Khoi 
[12.11] Saya larang segalanya (semuanya), byee. 
 
Rita 
[12.29] 2AA01857
[12.29] Terserah kamu saja. Saya tahu kebahagiaan kamu kebahagiaan saya juga. Byee. 
 
Khoi
[12.54] Ya, terseraaaaaaaaah kamuu.
[12.55] Byeee
 
Minggu, 11 Maret 2012 
 
Khoi 
[21.17] Saya tau lah posisi kamu. Saya sadar siapa diri saya. Saya akan ingat kata-katamu malam ini. Saya enggak akan membebani kamu. Jaga kesehatan. Byee.
 
Rita 
[21.27] Bebani saja saya terus dengan kata-katamu.
 
Khoi 
[22.39] Kenapa ndik (tidak) mau angkat telepon saya?
[22.40] Ya sudah, terima kasih.
 
Selasa, 13 Maret 2012
 
Rita 
[17.06] Saya take off yaa… Bye.
 
Khoi 
[18.33] Met happy. 
 
Rita 
[19.28] Saya mendarat ya.
 
Khoi 
[19.49] Met happy, byee. 
 
Rita 
[19.55] Kamu kali yang happy. 
 
Khoi 
[19.58] Siiip.
 
Rita 
[20.02] Siiip jua. 
 
Khoi 
[20.04] Byeeee.
 
Rita 
[20.04] Kok byeee?
 
Khoi 
[20.19] Ya, saya ndik (tidak) mau mengganggu kamu.
 
Rita 
[20.25] (y);((0);)(y) (emoticon dua jempol)
 
Khoi 
[20.45] Byeeee.
 
Rita 
[20.53] Serah (terserah).
 
Jumat, 16 April 2012
 
Khoi 
[10.46] Suasana pagi terasa sepi. Jelas berubah waktu bergulir. Rahasia semakin terpendam erat. Tak ada suara tak ada kata. Hampa mengalir terasa tak berarti. Hidup lunglai siksa tercipta. Mentari menyambut terik menyengat. Korban ambisi mengejar fenomena menggenggam dunia. 
 
Rita 
[10.48] Apa maksud?
 
Khoi 
[11.33] Air mengalir tak terbendung karang. Sesuatu yang pasti biarlah pasti. Keengganan hati merekat menjadi duri. Sadar akan diri berjuang menepati janji.
 
Rita 
[11.39] Saya take off, miss you. 
 
Khoi 
[20.20] Kalau kamu berkenan, saya mau ketemu kamu.
[21.26] Mau bilang saja, ada Budi rz di Tenggarong. Katanya kamu nyuruh datang. 
 
Rita 
[21.27] Yaaaaa. 
 
Khoi 
[21.40] Bilanya hendak hadap kita [kapan dia menghadap kamu]? Atau kamu SMS saja dia. Mohon maaf mengganggu. 
 
Rita 
[22.07] Ini baru pupus (selesai).
 
Khoi 
[22.09] Yaa.
 
Sabtu, 17 April 2012 
 
Khoi
[23.15] Mohon maaf saya terlalu memaksakan pendapat saya. Memangnya saya saja yang mau didengar. Saya sadar memang selama ini saya enggak tahu diri. Jaga kesehatan. Byee.
 
Minggu, 18 April 2012
 
Khoi
[00.40] Dan HP saya sekarang enggak ada guna lagi, byeeeee.
 
Rita
[04.55] Saya itu lagi penat kamu gitukan. Kamu menyakiti saya dengan kata-kata tiap waktu. 
 
Khoi 
[09.01] Iya sayang, saya mohon maaf enggak tahu kondisi. Insya Allah saya enggak akan memusingkan kamu lagi. Cinta saya akan selamanya. Janji yang terucap akan saya pertanggungjawabkan sampai akhirat. Jaga kesehatan. Byee.
 
Rita 
[10.51] Saya tahu itu yang kamu mau. Byeee.
 
Khoi 
[10.54] Kamu introspeksi saja kata-katamu. Jangan pernah kamu bantu saya. Ndik (tidak) usah saja kamu cari informasi tentang saya. 
[10.57] Saya sadar mungkin kamu sudah bosan dengan saya atau perilaku saya. Tapi saya pikir wajarlah.
 
Rita 
[10.58] Selalu menyakiti dengan kata. Saya minta add BB ndik (tidak) mau. Ya sudah, apa mau kamu saya ikuti. Byeee.
 
Khoi 
[10.59] Apa artinya punya BB dua kemudian kamu saya beri satu. Saya ikuti juga mau kamu. Enggak usah kita berdebat. Kalau ada yang mau kamu sampaikan, kamu sampaikan. 
[11.03] Demi Allah demi Rasulullah, akan saya ikuti kemauanmu. 
[11.06] Mati ibu bapak saya kalau saya tidak menjalankan. Sumpah saya, jaga kesehatan. Byeeee. 
 
Rita
[11.22] Baik-baik bersumpah Khooiii.
 
Khoi
[11.27] Kamu ingat baik-baik kata-kata saya ini. Demi Allah, demi Rasulullah, saya pertanggungjawabkan sumpah saya dunia akhirat. Ndik (tidak) usah kamu balas SMS saya ini lagi. Byeee.
 
Selasa, 23 April 2012 
 
Rita 
[13.57] Khoi
[13.57] Saya nak carang (mau bicara) penting. 
 
Khoi 
[14.00] Yaa
 
Rita 
[14.02] Masalah Dedi Fajri.
 
Khoi 
[14.07] Iya, bentar saya ngadap (temui) kamu. 
 
Rita 
[14.10] Saya sudah di luar. 
 
Khoi 
[15.09] Beruang kah yang mengatur di situ?
 
Rita 
[15.21] Ngatur di mana?
 
Khoi 
[16.50] Didi dulu?
 
Rita 
[16.51] Kamu di mana?
 
Khoi
[16.59] Saya mutar-mutar saja. Bingung mau ke mana.
 
Rita 
[17.02] Makan bakso babat yaaa.
 
Khoi 
[17.03] Saya enggak ikut campur urusan-urusan itu. Paling kalau saya nanti perlu kerjaan, kalau kamu berkenan, saya minta satu atau dua kerjaan.
 
Rita 
[17.08] Kerjaan apa?
 
Khoi 
[17.10] Ya masih ndik (tidak) tahu. Tapi ndik usah saja, ndik jadi. 
 
Rita 
[17.29] Saya makan bakso. Lapar. 
 
Khoi 
[17.30] Ya makan ha (lah). 
[18.23] Mohon maaf, kalau kamu ndik (tidak) keberatan, saya mau telepon. Ada yang mau saya sampaikan.
 
Rita
[18.54] Saya malas, disadap. 
 
Khoi 
[18.58] Oke, mohon maaf. 
[19.23] Kalau ada pesan kamu ke saya, kamu sampaikan saja. 
[20.21] Mohon maaf mengganggu. Byee. 
 
Rita 
[20.32] Met happy. 
 
Khoi 
[20.35] Saya orang yang konsisten dengan kata-kata. Kamu saja yang happy. Mulai besok kamu akan tahu saya. Saya sangat sadar diri. Jaga kesehatan. Byee
[21.04] Hari berlalu terasa cepat. Butiran kepedihan bergelayut erat. Tak ada yang memahami kecuali sepi. Kata tak terucap siksa diri menanti. Biarlah waktu kan menjawab kata. Jalan panjang tak dimengerti hati. Impian kaburkan nurani kelam. Euforia kejam tak peduli alam. 
[21.17] Demi Allah, jangan pernah kamu cari kabar saya ke siapapun, byeee.
 

Percakapan di atas telah dibenarkan Rita Widyasari dan Khairuddin di muka persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Rita menjelaskan maksud kalimatnya yang berbunyi, “Kecuali kamu nak (mau) berhenti jadi staf khusus. Jadi laki Wita maha (saja).” Menurut Rita, itu candaan belaka. Faktanya, menurut aturan, Khairuddin tidak bisa diangkat sebagai staf khusus. Adapun mengenai kata-kata “cinta”, Rita mengatakan itu hanya hubungan baik antara dia dan Khairuddin. 

kaltimkece.id berupaya menyajikan keberimbangan artikel ini dengan berusaha menemui Rita Widyasari dan Khairuddin. Pada Jumat, 5 Oktober 2018, reporter kaltimkece.id telah mendaftar sebagai pembesuk Rita di Rumah Tahanan Wanita Klas II/A Pondok Bambu, Jakarta Timur. Permintaan bertemu tidak diluluskan petugas rutan karena bukan keluarga yang terdaftar. Melalui celah kecil di pintu masuk, petugas menerangkan bahwa kepala rutan tidak memperkenankan wartawan menemui warga binaan tanpa izin menteri hukum dan HAM. 

“Penasihat hukum pun harus membawa surat kuasa dari kliennya (jika ingin bertemu),” terang petugas tadi. 

kaltimkece.id juga berusaha menemui Khairuddin di Rumah Tahanan Klas I Jakarta Timur Cabang KPK. Pada Kamis, 4 Oktober 2018, petugas menyampaikan bahwa batas maksimal pembesuk Khairuddin yakni lima orang telah terpenuhi. Sementara untuk kepentingan wawancara, petugas rutan meminta kaltimkece.id menemui juru bicara KPK, Febri Diansyah. Keesokan harinya, Jumat, 5 Oktober 2018, Febri menyatakan Khairuddin tidak bisa diwawancarai juru warta. Febri hanya memberikan sejumlah penjelasan dalam kalimat off the record

Dihubungi terpisah, para penasihat hukum Rita dan Khoi tidak memberikan jawaban atas permintaan konfirmasi. Reporter kaltimkece.id berusaha menghubungi Noval El Farveisa selaku penasihat hukum Rita sejak Sabtu, 6 Oktober 2018. Nomor teleponnya aktif sejenak pada Minggu, 7 Oktober 2018, pukul 17.38 WIB. Baik pesan singkat maupun panggilan kaltimkece.id tidak dijawab sampai berita ini diterbitkan. 

Pada hari yang sama, kaltimkece.id menghubungi Yanuar Prawira Yasesa selaku ketua tim penasihat hukum Khairuddin. Yanuar memilih tidak memberikan pernyataan. Menurut seorang anggota tim, saat ini tim penasihat hukum sedang disusun ulang untuk menghadapi sidang banding Khoi atas vonis hakim. (bersambung ke artikel Percakapan Cinta antara Rita-Khoi-Bagian Kedua)

Dilengkapi oleh: Fachrizal Muliawan (Jakarta)

Liputan ini tersaji dari hasil telaah kaltimkece.id, Kelompok Kerja 30, dan Jaringan Advokasi Tambang, yang memeriksa dokumen fakta persidangan Rita Widyasari dan Khairuddin setebal 1.474 halaman. Seluruh fakta persidangan terdiri dari keterangan 72 saksi dengan 895 bukti beserta petunjuk. Salinan fakta persidangan ini merupakan dokumen publik yang diperoleh Jaringan Advokasi Tambang, Jatam, dari Komisi Pemberantasan Korupsi. Juru bicara KPK, Febri Diansyah, telah membenarkan kesahihan dokumen tersebut adalah dari KPK. 

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar