Kutai Kartanegara

Bagaimana Desa Batuah di Kukar Mengatasi Paceklik Air Bersih selama 2 Dekade?

person access_time 1 month ago remove_red_eyeDikunjungi 390 Kali
Bagaimana Desa Batuah di Kukar Mengatasi Paceklik Air Bersih selama 2 Dekade?

Wara Desa Batuah di Kecamatan Loa Janan, Kutai Kartanegara, kini mengandalkan pamsimas untuk mendapatkan air bersih. FOTO: ALDI-KALTIMKECE.ID

Biaya pengadaan air bersih PDAM yang mahal membuat warga Desa Batuah memutar otak. Mereka bikin inovasi sendiri.

Ditulis Oleh: Aldi Budiaris
Jum'at, 23 Desember 2022

kaltimkece.id Pembangunan fasilitas penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat atau pamsimas di Desa Batuah, Kecamatan Loa Janan, Kutai Kartanegara, telah rampung. Kehadiran fasilitas yang dibangun warga Desa Batuah itu menuntaskan paceklik air bersih di desa tersebut selama 20 tahun.

Kamis 22, Desember 2022, Kepala Desa Batuah, Abdul Rasyid, mengikuti acara Pekan Inovasi di Kantor Sekretariat Kabupaten Kukar di Tenggarong. Kepada kaltimkece.id seusai acara tersebut, Kades Rasyid mengatakan, pamsimas di Desa Batuah dibangun sejak 2021. Pembangunannya melibatkan perusahaan swasta yang beroperasi di dekat desa dan sejumlah akademikus dari Politekni Negeri Samarinda. Para akademikus berperan sebagai peneliti dan konsultan pembangunan fasilitas penyaringan air bersih.

Rasyid menyebutkan, inovasi ini dibuat untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi warga desa. Desa berpenduduk 1.304 orang itu tak bisa mengadakan air bersih dari PDAM karena biaya pengadaannya kelewat mahal.

“Saya pernah tanyakan ke PDAM, kalau mau memasukkan air, cost-nya Rp 30 miliar. Sampai kapan kami harus menunggu? Makanya, kami melakukan inovasi supaya kami bisa memberikan solusi terhadap kebutuhan masyarakat,” kata Rasyid.

Kehadiran pamsimas menuntaskan masalah air bersih di Desa Batuah selama dua dekade terakhir. Rasyid menyebutkan, Desa Batuah berdiri pada 1999. Sebelum ada pamsimas, penduduk Desa Batuah mengandalkan air hujan dan sumur galian untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti mandi, cuci, dan kakus serta memasak. Tak ada sungai di desa tersebut karena letak geografisnya di perbukitan.

“Kondisinya menjadi sulit jika memasuki musim kemarau,” sebutnya.

Ia menjelaskan, pamsimas Desa Batuah berkonsep teknologi dan penyaringan air bersih yang menggunakan bahan alamiah. Tujuannya untuk mengurangi kadar PH atau zat asam dan zat besi dalam kandungan air sumur tanah. Dengan begitu, masyarakat desa mendapatkan air yang aman untuk dikonsumsi.

Rasyid pun yakin, air dari pamsimas lebih baik dari PDAM. PDAM, kata dia, masih menggunakan bahan kimia untuk menjernihkan air. Sedangkan pengolahan air desa menggunakan karbon aktif dan proses penjernihan yang alami.

Biaya pembangunan instalasinya pun lebih terjangkau. Modal membangun enam instalasi penampung air di enam dusun di Desa Batuah, sebut Rasyid, hanya Rp 300 juta. Masing masing-masing instalasi memiliki kapasitas 1.800 liter. Semua instalasi tersebut mengalirkan air ke 150 rumah. Setiap rumah dijatah mendapat air 1.000 liter per hari.

“Warga hanya perlu mengeluarkan Rp 4.000 untuk membeli air bersih per kubik,” bebernya.

Infografik pamsimas mengakhiri krisis air bersih di Desa Batuah, Kukar.
DESAIN GRAFIK: M IMTINAN NAUVAL-KALTIMKECE.ID

 

Keberadaan pamsimas di Desa Batuah mendapat apresiasi dari Sekretaris Kukar, Sunggono. Ia mengatakan, inovasi air bersih yang dibuat Desa Batuah adalah solusi terbaik di daerah tanpa air bersih. “Dengan demikian, hampir bisa dipastikan, upaya kita untuk menanggulangi masalah air bersih di Kukar, bisa ditangani dengan menduplikasi inovasi tersebut,” kata Sunggono. Ia pun memastikan, Pemkab Kukar mendukung semua inovasi yang memberikan dampak positif bagi masyarakat. (*)

shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar