Kutai Kartanegara

Banjir Perdana di Sebulu dan Muara Kaman, Kukar, Diyakini karena Tambang Ilegal

person access_time 1 week ago remove_red_eyeDikunjungi 1372 Kali
Banjir Perdana di Sebulu dan Muara Kaman, Kukar, Diyakini karena Tambang Ilegal

Rumah salah seorang warga Kutai Kartanegara terendam banjir. (foto: aldi budiaris/kaltimkece.id)

Dua kecamatan ini berada di ketinggian tapi tak luput dari banjir. Padahal, sebelumnya dilaporkan tak pernah terjadi.

Ditulis Oleh: Aldi Budiaris
14 Januari 2022

kaltimkece.id Hujan lebat disertai angin kencang melanda di hampir seluruh wilayah Kutai Kartanegara, Kamis Malam, 13 Januari 2022. Hujan yang terjadi pada pukul 19.0024.00 Wita itu membuat permukiman di daratan tinggi kebanjiran. Bencana ini ditengarai karena keserakahan segelintir manusia.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kukar, Marsidik, melaporkan, ada dua kecamatan yang terendam banjir akibat hujan selama lima jam tersebut. Kedua kecamatan yakni Sebulu dan Muara Kaman. Banjir tertinggi tercatat mencapai pinggang orang dewasa. Marsidik menyebut, banjir di kawasan tersebut bersifat anomali. Mengingat, kedua kecamatan berada di ketinggian.

Umumnya, banjir di Kukar terjadi di pinggiran sungai. Namun, kali ini terjadi di daratan tinggi tanpa sungai,” ungkapnya kepada kaltimkece.id.

_____________________________________________________PARIWARA

Pendapat Camat Sebulu, Eddy Fahruhidin, juga seragam. Ia mengatakan, banjir di wilayahnya tak normal karena terjadi di daerah tinggi dan jauh dari aliran sungai. Desa yang terendam banjir di Sebulu yakni Sumber Sari, Mekar Jaya, Manunggal Daya, dan Giri Agung. “Banjir di Desa Sumber Sari adalah yang tertinggi," beber Camat Eddy.

Berdasarkan data yang dihimpun, kata Eddy, hampir 60 persen Desa Sumber Sari terendam banjir. Ada 936 kepala keluarga atau 3.360 jiwa dari 15 RT yang terdampak banjir. “Siang harinya, air mulai surut," katanya.

Edi membeberkan sejumlah dugaan bahwa banjir di daerahnya bukan hanya disebabkan hujan. Pertama, sebut dia, irigasi tak berfungsi normal karena terjadi penyempitan parit. Parit juga tertimbun sedimentasi. Dugaan lainnya karena terjadi kupasan lahan dan peralihan fungsi lahan. Aktivitas tambang ilegal menjadi dugaan berikutnya. “Mungkin saja, ada tambang koridoran di hutan, sebutnya.

Camat Muara Kaman, Barliang, mengungkapkan, banjir di wilayahnya adalah yang perdana terjadi. Dua desa di Muara Kaman yang kebanjiran adalah Cipari Makmur dan Sambitulung. Camat Barliang pun yakin, banjir di daerahnya bukan hanya terjadi karena hujan tapi ada faktor lainnya. “Mungkin, aliran irigasi tidak sanggup menampung air, sebutnya.

Mengenai banjir karena pertambangan atau perkebunan, Camat Barliang menepisnya. Ia memastikan, tidak ada pertambangan dan perkebunan di Muara Kaman. Mayoritas penduduk Muara Kaman disebut berprofesi sebagai petani padi dan pembudi daya ikan. “Kami sedang mendata kerugian material dari sektor persawahan dan kolam karena banjir, terangnya.

Dia menyebut, banjir di Desa Cipari Makmur merendam 15 RT. Ada 249 kepala keluarga atau 922 jiwa yang terdampak musibah ini. “Sekitar pukul 13.00 Wita, air berangsur surut,” katanya.

_____________________________________________________INFOGRAFIK

Tindak Tambang Ilegal

Dinamisator Jaringan Advokasi Tambang Kaltim, Pradarma Rupang, memperkuat dugaan penyebab banjir di Sebulu karena pertambangan batu bara, baik ilegal maupun legal. Jatam mencatat, pada 2021, ada tiga pertambangan tanpa izin atau peti di Desa Sumber Sari.

“Sedangkan di Manunggal Daya, ada satu koridoran, sebut Rupang kepada kaltimkece.id.

Dia mendesak, pemerintah daerah dan penegak hukum memberikan atensi khusus terhadap peti. Pembukaan lahan hutan tanpa izin diyakini hanya membawa dampak negatif bagi masyarakat. Ia pun mengingatkan, hujan pada tahun ini tidak akan sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Tiga tahun lalu, kata dia, alam mampu menampung dan menyerap air hujan. Tapi sekarang, daya dukung serapan alami dilaporkan menurun karena banyak tambang ilegal.

Jika pemerintah dan kepolisian bertindak tegas, tidak akan terjadi kejadian (banjir) seperti ini, kritiknya. Ia menambahkan, tambang ilegal bukan hanya merusak alam tapi juga merusak infrastruktur publik. Para pekerja peti disebut menggunakan jalan umum untuk membawa hasil alam Bumi Etam. (*)

Editor: Surya Aditya

shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar